Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXI/01 - 7 April 2002
   
Buku

Ada Apa dengan Buku Skenario Film?

Sejumlah film Indonesia menerbitkan buku skenarionya. Akankah sesukses filmnya?

Antrean anak muda untuk menonton film Ada Apa dengan Cinta (AADC) minggu-minggu ini sudah mulai memendek, tapi kini sejumlah ABG punya inceran baru, yaitu buku skenario film AADC. Simak saja beberapa pendapat di antara mereka. Wennie, 25 tahun, seorang remaja asal Bandung, mengaku, "Gue beliin buku skenario AADC untuk saudara gue yang tergila-gila banget sama Rangga. Kalau ada duit, sih, pingin beli satu lagi, tapi entar aja. Gue emang ngoleksi barang-barang yang jadi fenomenal. Kayak dulu ada film Catatan Si Boy, gue punya koleksi VCD-nya." Lain lagi dengan Ismet M.I.F. Seorang pemuda yang juga memiliki buku skenario AADC ini mengaku menerima buku itu dari pacarnya. Selain karena filmnya sendiri menarik, ia mengaku senang bisa melihat foto kelima cewek ceriwis dan foto Rangga yang memiliki sosok mata yang setajam pisau baru diasah.

Jelaslah bahwa buku skenario ini menjadi perpanjangan sukses film AADC yang memang segar dan keren. Para penggemar film ini pun beragam, mulai dari kalangan ABG hingga pasangan usia muda berkepala 3. Tak jarang para ABG ini malu-malu mengaku telah menonton film ini lebih dari satu-dua kali.

Buku skenario berjudul sama ini diterbitkan oleh penerbit Metafor, milik Richard Oh, yang juga menjadi juragan Toko Buku QB. Dijual dengan harga yang lumayan mahal, Rp 55.000, buku setebal 142 halaman ini selain menampilkan isi skenario film AADC juga menceritakan proses pembuatan skenario film itu, yang melibatkan duo produser Mira Lesmana dan Riri Riza, lalu sutradara Rudy Sudjarwo dan Jujur Prananto sebagai penulis skenario. Kalau film ini saja dipatok untuk bisa menarik 1 juta penonton, menjual buku skenario sebanyak 3.000 eksemplar saja tentu bukan hal yang sulit. Buktinya, dalam cetakan pertama, 3.000 eksemplar sudah ludes, dan kini penerbit Metafor tengah menyiapkan cetakan keduanya.

Menerbitkan buku skenario film ini memang bukan barang baru di Indonesia, karena Harry "Dagoe" Suharyadi, pada awal Maret lalu, juga mengeluarkan buku skenario film Pachinko berikut dengan format VCD film yang sama. Jauh sebelum itu, pada dekade 1980, Teguh Karya pun pernah menerbitkan skenario film November 1828. Lalu Seno Gumira Ajidarma juga menerbitkan salah satu naskahnya, Matinya Seorang Penari Telanjang, pada akhir 1990-an.

Kalau mengacu pada perkembangan di Amerika, buku skenario seperti ini sudah sangat lazim, karena skenario sejumlah film bisa mudah didapat di berbagai toko buku. Bahkan sejumlah skenario film klasik dibahas di kelas-kelas jurusan sinematografi.

Sekarang di Indonesia, apakah kebiasaan menerbitkan skenario itu akan berhasil?

Riri Riza, sang produser AADC, berharap bahwa filmnya ini bisa jadi awal untuk menjadi jalur baru dalam industri film Indonesia sekaligus untuk meningkatkan apresiasi seninya. Awalnya Riri dan Mira Lesmana pesimistis bahwa ada penerbit yang mau menerbitkan skenario filmnya. Tapi ketika mereka berdiskusi dengan Richard Oh, ternyata ada juga penerbit yang tertarik dengan buku yang menurut Riri cuma karya "pujangga cinta" saja. Metafor di-kenal sebagai penerbit buku sastrawan masyhur seperti Goenawan Mohamad dan Sitor Situmorang.

Richard Oh sebagai pemilik penerbit Metafor melihat skenario film AADC ini sebagai hal yang menarik, karena filmnya sendiri juga menarik. "Satu minggu sebelum filmnya diluncurkan, Mira bertemu saya dan kita setuju untuk menerbitkannya." Hingga akhir Maret lalu, tak kurang dari 3.000 eksemplar sudah habis terjual dan mereka sedang mempersiapkan cetakan keduanya. "Saya harap ini bisa jadi bisnis baru dan orang-orang akan ngikutin langkah ini." Karena penerbitan buku skenario begini bisa menjadi bahan belajar bagi mereka yang tertarik dengan film.

Riri berharap bahwa buku skenarionya bisa dipakai untuk menelusuri benang merah pembuatan film dan karenanya penggunaan beberapa istilah teknis dalam film tetap disertakan di situ, misalnya INT = interior, atau OS = off screen. Sayang, istilah-istilah ini tak dijabarkan dalam glossary buku tersebut. Buat mereka yang awam, istilah ini tak mendapat keterangan yang cukup

Menurut Mira Lesmana, skenario adalah semacam blue print dari suatu film, dan sebisa mungkin ide-ide yang muncul dituangkan secara tertulis. Untuk skenario AADC ini dibutuhkan waktu sembilan bulan dari mulai menuangkan ide hingga menjadikannya skenario. Ide pertama AADC ini mulai sejak Juni 2000, ketika Mira masih menggarap film Petualangan Sherina, baru Juli 2000, teman-teman dikumpulkan dan memasukkan ide, waktu itu Jujur belum masuk dalam tim. Ketika ketemu tiga buah skenario yang berlainan, lalu Mira mengontak Rudy Sudjarwo. Kepada Rudy disodorkan tiga skenario ini dan ia mengatakan bahwa ada bagian yang menarik dari tiap-tiap skenario. Dari situ delapan orang terus menggarap ide ini. Jujur mulai dilibatkan pada September 2000. Tapi belakangan Mira mengajukan skenario keempat yang hampir merombak total skenario yang telah ada sebelumnya.

Total akhirnya ada delapan kali revisi atas skenario yang ada, hasil keroyokan produser, sutradara, penulis skenario, dan rekan lain untuk semakin mematangkan idenya. Pada 18 April 2001 akhirnya muncul draf terakhir film ini. Uniknya, catatan seluruh bongkar pasang skenario itu ditulis lengkap dalam buku tersebut. Setelah itu, tim ini baru mulai dengan proses produksinya.

Bongkar pasang skenario tersebut tak membuat Jujur Prananto, sang penulis skenario, berkecil hati. Menurut dia, penulisan skenario ini berbeda dengan penulisan cerpen, novel, atau lukisan, yang merupakan karya final, maka skenario bukanlah karya final, karena sangat bergantung pada interaksi si penulis skenario, sutradara, dan produser. Buat Jujur sendiri, penerbitan skenario ini seakan menjawab banyak pertanyaan orang padanya, bagaimana sih membuat skenario film yang baik. Jawab Jujur, "Ya, belajar yang intensif atas film-film yang bagus, dan bandingkan film tersebut dengan skenarionya."

Harry "Dagoe" Suharyadi, sutradara film Pachinko, awal Maret lalu juga meluncurkan buku skenario film Pachinko berikut dengan film berformat VCD. Skenario film yang mengambil seting di Negeri Sakura itu tampil lebih sederhana daripada buku AADC. Dengan warna dasar hijau muda dan dihias gambar sepasang selop, skenario Pachinko cuma berjumlah 15 halaman, dan dijual seharga Rp 15.000. Bersama dengan VCD-nya, paket itu dijual seharga Rp 40.000.

Meski begitu, Harry berharap bahwa skenario Pachinko ini bisa jadi materi yang baik untuk belajar membuat film. Pada zaman Harry kuliah, ia mengaku lebih mudah belajar tentang skenario film dengan cara membuka buku skenario sambil menonton filmnya, ketimbang mendengar kuliah dari dosennya. Untuk naskahnya sekarang ia mencetak 3.000 eksemplar, dan 1.000 buah sudah disebarkan ke berbagai komunitas peminat film. Harry sendiri tak membayangkan berapa buku yang akan laku terjual, "Aku sendiri justru ingin tahu berapa banyak yang akan terjual," katanya ringan.

Buat Azhar Lubis, seorang mahasiswa Jurusan Film Fakultas Film dan Televisi IKJ, ketersediaan buku skenario film tersebut membantunya menambah wawasan dan menjadi bahan pembanding. "Tidak semua teori soal film kita dapat dari bangku kuliah. Jadi, mesti ada tambahan pengetahuan lain dari luar," katanya. Azhar dan sejumlah teman sejurusannya pun mengaku selama ini mereka kerap mengkaji soal skenario film, tapi tidak dalam bentuk buku, melainkan berupa kumpulan kertas saja.

Garin Nugroho, sutradara dan pengamat film, buru-buru mengingatkan bahwa tidak semua film cocok diterbitkan buku skenarionya. Garin membandingkan misalnya antara skenario AADC, November 1828, dan Pachinko. AADC menurut Garin, misalnya, adalah sebentuk budaya populer yang memiliki banyak penggemar, sehingga bisa jadi bahwa yang membeli skenario AADC ini bukanlah orang yang berpendidikan film atau ingin tahu lebih banyak tentang film. Sebaliknya, ketika skenario November 1828 diterbitkan, pembelinya hanyalah kalangan perfilman, peminat budaya, dan orang yang belajar film. Memang ada perbedaan pasar untuk tiap skenario itu. Tidak semua film bisa dijual skenarionya, sangat bergantung pada karakter film masing-masing. "Saya sendiri tidak membukukan skenario film-filmnya, karena isinya lebih banyak berupa syair ketimbang dialog." Kata Garin, merujuk pada salah satu filmnya, Puisi Tak Terkuburkan.

Garin sendiri mengangkat jempolnya untuk sejumlah sutradara yang mau menerbitkan skenario filmnya, "Kita kan sekarang masuk dalam masa multi-interactive market. Sebuah film tak bisa hanya dinikmati di bioskop tapi juga lewat novelnya, skenarionya, VCD-nya." Garin setuju bahwa penerbitan skenario film bisa membantu masyarakat untuk makin mengapresiasi film, dan jadi sarana pendidikan bagi orang film juga. Seperti Riri Riza, yang juga berharap bahwa penerbitan buku skenario ini bisa mempercepat tumbuhnya generasi baru film di Indonesia. Jadi, ada apa dengan buku skenario film? Ada pasar, ada belajar, dan juga ada sekadar jadi fans berat Cinta dan Rangga. Semuanya sah saja rasanya.

Ign. Haryanto, Andari Karina Anom, Gita Widya Laksmini, dan Rian Suryalibrata


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data