Aksi Musuh dalam Selimut Bank Mandiri dibobol miliaran rupiah. Orang dalam ikut memuluskan penjebolan ini. Mengapa bank rawan terhadap musuh dalam selimut? |
HALAMAN kantor reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya seperti showroom mobil mewah. Ada mobil Altis hitam jenis terbaru, Mercedes-Benz silver seri 200, dan juga mobil Mercedes hijau. Mobil itu bukan milik anggota polisi, tapi milik sejumlah tersangka yang diduga ikut membobol Bank Mandiri, dua pekan lalu. Mobil Altis tadi milik Charto Sumadi, Kepala Bank Mandiri Cabang Prapatan, yang diduga terlibat dalam pembobolan ini. Sedangkan mobil Mercedes seri 200 itu milik Agus Budi Santoso, direksi PT Surya Cipta Persada, tersangka lainnya.
Pembobolan ini menggunakan modus agunan deposito, yang merupakan produk konvensional Bank Mandiri. Adalah Agus Budi Santoso yang mengajukan permohonan kredit itu ke Bank Mandiri Cabang Prapatan, Jakarta Pusat, pertengahan Maret lalu. Mestinya permohonan itu tidak memenuhi syarat karena Agus tidak memiliki agunan deposito sebagaimana diwajibkan oleh bank. Tapi, karena kongkalikong dengan Charto Sumadi, syarat itu bisa diterobos dan uang Rp 120 miliar pun begitu enteng digelontorkan.
Namun, transaksi haram ini tercium oleh tim internal control Bank Mandiri. Tim inilah yang meminta kantor pusat melacak transaksi itu. Hasilnya? "Ada indikasi pemberian kredit itu melanggar peraturan," kata Endarto H. Praptardjo, Kepala Departemen Penerangan Bank Mandiri, kepada TEMPO.
Kantor pusat lalu melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya. Tim reserse membekuk Charto Sumadi pada 21 Maret, juga Agus Budi Santoso. Dua tersangka lain yang ditangkap adalah Yacub dan Koko, pegawai PT Surya Cipta Persada. Di samping sejumlah mobil mewah tadi, disita pula oleh polisi sebidang tanah di Cinere, Jakarta Selatan, dan uang tunai Rp 7 miliar rupiah.
Selain menjatuhkan skorsing atas Charto Sumadi, pihak Bank Mandiri meminta polisi memproses kasus ini. Kini Charto dan sejumlah tersangka lainnya meringkuk di sel Polda Metro Jaya. Tapi Firman Wijaya, kuasa hukum Yacub, menolak tegas keterlibatan kliennya dalam kasus ini. Yacub, kata Firman, hanyalah pegawai biasa yang tidak punya wewenang untuk terlibat dalam pengajuan kredit ke pihak bank. Karena itu, Firman heran mengapa kliennya ikut pula digaruk.
Polisi memang sedang menguber Alexander Parengkuan, Direktur Utama PT Dwi Nogo Manunggal—induk PT Surya Cipta Persada—yang diduga sebagai otak utama dari aksi pembobolan ini. Alex, begitu direktur ini kerap disapa, diduga bersekongkol dengan sejumlah petinggi perusahaan itu dan orang dalam Bank Mandiri untuk melakukan pembobolan. Hingga akhir pekan lalu, Alex belum ditemukan. Sejumlah informasi menyebutkan bahwa Alex sudah kabur ke Singapura menyusul anak dan istrinya, yang lebih dulu diungsikan ke sana.
Tapi sumber TEMPO menyebutkan bahwa Alex dan beberapa kawannya itu tengah berumah di hotel-hotel di Jakarta. Hotel yang pernah mereka tempati adalah Hotel Mandarin, Gran Melia, dan terakhir Hotel Gran Mahakam, Jakarta Selatan. Loncat dari satu hotel ke hotel yang lainnya itu, ketiganya mengendarai mobil mewah seperti Range Rover hijau dan sebuah Jaguar biru tua.
Sesungguhnya bukan se-kali ini saja Bank Mandiri dibobol orang. Pada Juni 2001 lalu, bank ini nyaris dibobol US$ 14 juta. Pelakunya Palim Havanagano alias Iskandar Chairil, Samuel Samadikun Tanady, dan Sie Tjin Ming alias Aming. Para pe-laku itu mengunakan modus cek untuk mendapatkan uang dari Bank Mandiri. Untung, pegawai banknya jeli. Cek itu ternyata palsu. Ketiga tersangka dibekuk polisi saat menunggu ceknya dicairkan.
Sebelumnya, Oktober 2000 lalu, Ria Hanim, pegawai pelayanan konsumen Bank Mandiri Cabang Plaza Mandiri, juga pernah membobol deposito sejumlah nasabah senilai Rp 1,5 miliar. Kasus ini terungkap ketika Tumpal Sinaga, seorang nasabah Bank Mandiri, kehilangan dua bilyet depositonya. Saat dia meminta Bank Mandiri membekukan kedua bilyet itu, ternyata sudah lama dicairkan. Ria lalu disidangkan di Peng-adilan Negeri Jakarta Selatan.
Mengapa Bank Mandiri begitu mudah dijebol orang dalamnya sendiri? Menurut Endarto H. Praptardjo, sistem pengawasan internal Bank Mandiri sesungguhnya sudah memadai, tapi akan terus ditingkatkan. Bank Mandiri, kata Endarto, juga terus membina kepatuhan pegawainya terhadap prosedur internal bank. Namun, belum terjawab, kenapa bank itu masih bisa dibobol oleh karyawannya sendiri.
Wens Manggut, Anggoro Gunawan (Tempo News Room)
|