|
Pendukung faksi suku Andanis dan suku Abudus, Ghana, yang bersaing sejak negara itu mendapat kemerdekaan dari Inggris tahun 1957, terlibat bentrokan berdarah di Yendi, Rabu pekan lalu. Sedikitnya 36 orang tewas—sebagian besar dari kubu Andanis—50 orang terluka serius, dan sejumlah rumah terbakar. Bahkan, Ya-Na Andani Yakubu, pemimpin tertinggi Andanis, ikut meregang nyawa. ”Ia dipenggal kepalanya saat pendukung Abudus menyerbu istananya,” ujar Superintenden Polisi Awugtuge Awuni.
Bentrokan itu terjadi menyusul perselisihan antara mereka, Senin. Meski sumber perselisihannya tidak jelas, dua nyawa melayang. Penguasa setempat segera memberlakukan jam malam. Tapi langkah itu tak berhasil meredam emosi kedua kubu. Sehari kemudian, tembakan sporadis mulai terdengar. Karena solusi damai tak juga terwujud, adu fisik tak bisa dihindarkan. Rabu menjadi hari terakhir bagi Yakubu untuk menghirup udara segar. Wilayah Yendi, yang berada di sebelah utara Ghana, pun geger. Ratusan warga yang dicekam ketakutan dikabarkan mengungsi. Nah, agar kasusnya tak terus berlanjut, kata Awuni, ”Pemerintah Ghana menyatakan Yendi dalam keadaan darurat.”
Widjajanto, Dwi Wiyana (The Guardian, LA Times, Reuters, AFP, Philippine Daily Inquirer)
|