Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXI/01 - 7 April 2002
   
Olahraga

Korban-Korban Pelatih Diktator

Beberapa pelatih ogah memanggil pemain andal. Mereka punya pertimbangan sendiri.

WAJAH Sarfraz Najeib sudah mulus lagi. Tak ada lagi lebam di mukanya. Bibirnya juga tak lagi nyonyor. Ia sudah kembali melakukan rutinitas sehari-harinya. Tapi namanya begitu lekat di otak Sven Goran Eriksson, pelatih tim nasional Inggris. Nama remaja Asia itulah yang membuat Eriksson mencoret Jonathan Woodgate untuk masuk ke dalam tim yang dipersiapkannya untuk Piala Dunia, Juni kelak.

Najeib merupakan remaja Asia yang digebuki Jonathan Woodgate dan Lee Bowyer, pemain muda asal Leeds United, di klub malam Majestyk, Leed, dua tahun silam. Atas kelakuan buruknya itu, Woodgate sudah menebus dosanya dengan melakukan kerja sosial selama 100 jam. Eriksson memang sadis.

Di mata Eriksson, penebusan dosa itu tidaklah cukup. Soalnya, pemuda 22 tahun ini juga ketahuan doyan betul menenggak alkohol. ?Aku tidak mau mengambil pemain yang bisa merusak keutuhan tim,? katanya. Pintu juga tertutup buat mereka yang temperamental. Alhasil, bek kiri Chelsea, Graeme Le Saux, dan striker Blackburn Rovers, Andy Cole, terpaksa masuk karung.

Kasus penolakan Woodgate ini menjadi perbincangan seru di Inggris pekan silam. Bukan apa-apa, Woodgate memang termasuk pemain muda yang berkilau. Tak aneh, banyak yang menyorot tindakan Eriksson itu sebagai hal yang tidak masuk akal. Ketua Eksekutif Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional, Gordon Taylor, adalah salah satu yang tidak setuju. ?Bahaya sekali kalau pelatih memilih pemain berdasarkan alasan yang tak ada hubungannya dengan sepak bola,? kata Taylor kepada radio BBC.

Di Inggris, berbeda dengan di Indonesia, seorang pelatih memang memiliki otoritas penuh terhadap timnya dan tidak bisa ditekan oleh siapa pun. Layaknya seorang diktator, dia bebas menentukan pilihannya.

Pertimbangan tidak lagi semata faktor suka atau tidak. Biasanya mereka memiliki insting lain. Contohnya, pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, pelatih Italia, Enzo Bearzot, mengambil keputusan yang tak terduga. Ia memasukkan Paolo Rossi, yang baru saja bebas dari skorsing, dua bulan sebelum turnamen digelar. Meski banyak yang tak setuju, Enzo Bearzot cuek saja. Ternyata pilihan Bearzot tak keliru. Paolo Rossi, pemain yang mulanya ?dibenci? publik, justru membawa Italia menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya. Demikian pula dengan pelatih Prancis, Aime Jacquet, yang tetap tak mau memasukkan Eric Cantona dan David Ginola dalam skuad Piala Dunia 1998. Padahal karir keduanya tengah kinclong-kinclong-nya. Didera kritik, eh, Prancis malah juara.

Nah, apakah Eriksson ingin membuktikan keganjilan itu? Masih terlalu pagi memang. Tapi, yang jelas, dia tidak sendirian. Pelatih tim ?Tango? Argentina, Marcelo Bielsa, tak kalah anehnya. Saat mempersiapkan timnya melawan Kamerun, Rabu pekan silam, ia tidak memasang Gabriel Batistuta, tapi menurunkan penyerang Glasgow Rangers, Claudio Caniggia.

Kalaupun pertimbangannya karena Batigol?sapaan pers Italia untuk Batistuta?sudah uzur dan kurang lihai lagi, toh Caniggia, veteran Piala Dunia 1990 dan 1994, jauh lebih tua. Apalagi ia cuma bersinar di Liga Skotlandia, yang kalah kelas ketimbang Seri A, yang panas dan ketat. Namun, Bielsa ternyata punya pertimbangan lain. Ia cukup puas dengan penampilan Caniggia saat turun melawan Wales, bulan lalu.

Nasib Nicolas Anelka tak lebih baik. Biarpun penampilan penyerang keling ini di Liverpool makin yahud saja, pelatih Prancis, Roger Lemerre, tetap ogah memberinya tempat dalam tim juara dunia itu. Lemerre punya pertimbangan lain. ?Anelka masih membutuhkan banyak waktu,? katanya.

Prancis memang sedang disesaki penyerang andal, seperti David Trezeguet dan Thierry Henry. Alhasil, hanya penampilan yang sempurnalah yang akan membuatnya masuk skuad. Hal serupa dialami Mario Jardel, penyerang Brasil yang merumput di klub Sporting Lisbon, Portugal. Luis Felipe Scolari, pelatih tim Brasil, sama sekali tak menolehnya. Padahal Jardel kurang apa, sih? Penampilan di klubnya bikin mata terbelalak. Pemain berusia 29 tahun ini sudah melesakkan 33 gol.

Tapi, tampaknya, Liga Portugal tidak tergolong kompetisi yang berkelas. Dan Jardel menyadari betul hal itu. ?Kalau saja aku mencetak gol-gol ini ke gawang klub besar seperti Real Madrid, tak bakal diragukan lagi aku bakal dipanggil masuk tim nasional,? paparnya.

Namun, Jardel masih menyimpan sebuah harapan. Striker di tim Scolari sekarang ini rata-rata bertubuh pendek. Karena itu, ?Aku percaya mereka membutuhkan penyerang bertubuh tinggi,? ujar pemain 1,88 meter ini yakin.

Yakin boleh saja, tapi pelatih yang menentukan.

Irfan Budiman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data