Yang Cemerlang Memilih Singapura Singapura menjaring ratusan siswa Indonesia untuk belajar dan bekerja di negeri pulau itu. Indonesia kebagian ampas?
|
BELAJAR ke luar negeri, mendapat beasiswa, dan langsung bekerja di perusahaan asing. Sedap betul. Mungkin begitulah keinginan kebanyakan pelajar di Indonesia. Saat ini keinginan itu sudah di tangan Ferry Susanto, 21 tahun. Anak Gunung Sahari, Jakarta Pusat, itu kini tinggal menyelesaikan proyek finalnya tentang DNA (rantai protein) sebagai syarat menyelesaikan studinya di Nanyang Polytechnic, Singapura.
?Sebentar lagi saya akan bekerja sesuai perjanjian,? kata Ferry. Ya, tiga tahun lalu, Ferry meneken perjanjian dengan pemerintah Singapura. Isinya, dia akan mendapat bantuan biaya kuliah berupa tuition grant dari pemerintah Singapura. Namun, setelah lulus, Ferry harus bekerja di negeri pulau itu.
Selain Ferry, di Nanyang Polytechnic terdapat 90 mahasiswa Indonesia yang menikmati beasiswa. Belum lagi di beberapa perguruan tinggi lain di Singapura: ada ratusan mahasiswa Indonesia dengan fasilitas beasiswa yang sama. Penjaringan pelajar Indonesia ini sudah berlangsung selama empat tahun ter-akhir.
Sabtu dua pekan lalu, tim dari Nanyang Technological University langsung datang ke Jakarta untuk menguji siswa-siswa kelas tiga SLTA. Ujian berlangsung di SMU Kanisius, Jakarta, diikuti oleh siswa dari berbagai kota di Sumatera, Jawa Barat, dan Jakarta. Rencananya, tim penguji tersebut akan melakukan ujian yang sama di Magelang, Jawa Tengah, dan Surabaya, Jawa Timur.
Tentu saja bukan sembarang siswa yang bisa mengikuti tes. Mereka harus memiliki rapor yang bagus, berasal dari sekolah favorit, dan selalu menempati peringkat atas di sekolah. Mereka ini direkrut sebelum mengikuti ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia. Rata-rata setiap tahun sekitar 200 anak lolos untuk mendapat beasiswa tersebut.
Menurut Margareth Chia Watt, Direktur Educational Development Nanyang Polytechnic Singapura, mereka melakukan seleksi ketat terhadap calon mahasiswa. Salah satunya, kemampuan bahasa Inggris calon mahasiswa harus bagus. ?Sebab, semua mata kuliah disampaikan dalam bahasa Inggris,? kata Chia Watt.
Ada dua jenis beasiswa yang ditawarkan. Pertama, beasiswa penuh yang diberikan oleh perusahaan atau pemerintah. Beasiswa itu mencakup biaya kuliah, kebutuhan akademis, serta biaya hidup selama di Singapura. Namun, siswa yang menerimanya, setelah lulus kuliah, harus bekerja selama tiga tahun pada perusahaan atau lembaga pemerintah yang membiayainya.
Sedangkan jenis yang kedua adalah tuition grant, seperti yang diterima Ferry Susanto. Dalam program ini, pemerintah Singapura akan menambal 80 persen biaya kuliah atau sekitar 9.650 dolar Singapura (Rp 53 juta) per tahun, sementara sisanya dan biaya hidup lain harus ditanggung mahasiswa sendiri. Setelah lulus, penerima tuition grant ini boleh memilih bekerja di mana saja, asalkan masih di perusahaan Singapura, selama tiga tahun.
Mendapat kesempatan belajar di Singapura tentu sangat menguntungkan. Survei kualitas pendidikan yang dilakukan Political and Economic Risk Consultancy menempatkan Singapura pada peringkat kedua terbaik di Asia setelah Korea Selatan. Sementara itu, dari 12 negara yang disurvei lembaga penelitian yang berbasis di Hong Kong itu, Indonesia menempati urutan paling bontot.
Banyak yang khawatir dengan ?cara cerdik? Singapura itu. Salah satunya adalah Baskoro Poedjinoegroho. ?Kalau begini terus, Indonesia akan makin ketinggalan,? kata Kepala Sekolah Kanisius ini. Ia bilang Indonesia hanya akan menerima ampas setelah disaring oleh Singapura. Namun, menurut Baskoro, kita tak boleh menghalangi para siswa itu untuk belajar dan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Dari SMU Kanisius, Jakarta, setiap tahun 10 hingga 15 siswanya terjaring ke Nanyang Technological University.
Senada dengan Baskoro, pengamat pendidikan Yohannes Surya melihat soal ini sebagai kesempatan bagus bagi siswa kita untuk belajar di perguruan tinggi terbaik di Asia Tenggara. Tapi dia berharap, setelah selesai masa kerjanya, mereka mau kembali ke Indonesia. ?Namun, saya yakin sedikit sekali yang mau kembali,? kata Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia ini.
Masalahnya sederhana: negeri ini tidak mampu menyediakan peluang dan kesempatan kerja sebagus di negeri jiran itu. Padahal tenaga hebat itu sesungguhnya justru diperlukan di sini untuk membenahi semua ?kekalahan? dari para tetangga itu. Nasibmu, Indonesia?.
Agung Rulianto, Ardi Bramantyo, Rumbadi Dalle (Singapura)
|