Letjen TNI Ryamizard Ryacudu: "Saya Bukan Palembangisme" Jenderal yang tidak suka bicara tentang politik ini menolak penghapusan komando teritorial. Calon kuat Kasad?
|
Nama
Letjen TNI Ryamizard Ryacudu
Lahir
Palembang, 21 April 1950
Karir
- Kepala Staf Divisi Infanteri-2 Komando Cadangan Stategis Angkatan Darat (Kostrad), Malang
- Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Brawijaya
- Panglima Kodam Jaya
- Panglima Kostrad
Operasi Militer
(11 kali, 1976-1995) seperti:
- Operasi Seroja di Timor Timur
- Kontingen Garuda XII-B ke Kamboja untuk membebaskan sandera Khmer Merah
Pendidikan
- >On the job training di Malaysia, Australia, Kamboja, Amerika Serikat, dan Cina
- Airborne
- Free Fall
WAJAH di balik coreng-moreng pasukan siap perang itu milik Letnan Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Penampilannya tampak seram, memang. Tapi Presiden Megawati Sukarnoputri, yang berada di sebelahnya dan berseragam loreng lengkap dengan topi rimba bertuliskan "presiden", malah tersenyum cerah.
Soalnya, Ryamizard tidak sedang benar-benar berperang. Pasukan baret hijau tengah mengadakan latihan perang di Gunung Sentul, Ciwaru, Bogor, Jawa Barat, dua pekan lalu. Untuk itu, ia mengundang Presiden untuk menyaksikannya.
Selain mengundang Megawati untuk menghadiri pembukaan latihan gabungan Kostrad, Ryamizard juga ingin meyakinkan bahwa anak buahnya selalu siap bertugas. Sebab, sebagai pasukan yang memiliki wewenang melakukan operasi pengamanan di seluruh pelosok Indonesia, kesatuan dengan kekuatan 35 ribu-40 ribu personel itu harus selalu siap terjun ke daerah konflik. "Saya ingin menunjukkan bagaimana siaganya pasukan Kostrad," Ryamizard ingin menegaskan.
Pesan yang disampaikan komandan pasukan tempur yang terkenal dengan berbagai operasi militer seperti Trikora, Trisula, Paraku, Seroja itu sangat jelas. Kostrad, setelah 41 tahun—baru berulang tahun 6 Maret 2002 lalu—tetap menjadi pasukan yang bisa diandalkan. "Kami siap mati, kok," ujar wong Palembang itu.
Kesibukan jenderal bintang tiga di antara pasukannya itu memang membuatnya seperti tidak memedulikan riuh-rendahnya perkabaran tentang penggantian pucuk pimpinan TNI. Padahal, Ryamizard santer disebut akan naik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). Sedangkan Jenderal Endriartono Sutarto, yang sekarang masih Kasad, akan menempati posisi Panglima TNI. Dan, keduanya adalah pasangan klop, karena sama-sama memiliki akar pasukan tempur Kostrad.
Menantu mantan wakil presiden Try Sutrisno ini mengaku tidak mempersoalkan benar semua keributan itu. Pun, dia tidak terlalu antusias bila bolak-balik ditanya soal pergantian tersebut. Jawabannya selalu pendek-pendek.
Tapi, bila Ryamizard ditanya soal bagaimana menumpas gerakan separatisme atau para perusuh keamanan, dia akan menjawabnya dengan semangat. "Tumpas provokator, tembak perusuh", adalah ungkapan yang biasa meletup begitu saja dari mulutnya.
Laki-laki yang punya hobi memotret ini memang lebih suka bekerja di lapangan ketimbang berpendapat dan bersilat lidah. Atau, dia lebih suka membaca buku agama dan naik sepada motor.
Berikut ini adalah petikan wawancara Gendur Sudharsono dari TEMPO dan Bernarda Rurit dari Tempo News Room dengannya di Markas Kostrad, Kamis pekan silam.
--------------------------------------------------------------------------------
Latihan perang yang baru lalu itu acara rutin?
Itu sebetulnya latihan puncak, latihan manuver gabungan yang melibatkan artileri, kavaleri, dan unsur lainnya. Latihan itu penting, tapi mahal sekali. Jadi, setelah krisis ekonomi, frekuensi latihan ikut menurun, tapi tetap kita upayakan berjalan terus.
Karena itu Presiden datang ke sana?
Yah. Bukan untuk kepentingan seremonial saja. Tapi Presiden harus tahu, kita membuat latihan seperti itu, dan dengan peralatan seperti apa. Karena itu, saya juga mengundang Ketua MPR Amien Rais dan Ketua DPR Akbar Tandjung, tapi mereka berdua berhalangan.
Jadi, saya tunjukkan kepada Megawati bahwa prajurit siap mempertahankan setiap jengkal tanah dari serangan musuh. Meskipun harus mengorbankan nyawanya.
Saya sampaikan juga kepada Presiden, kami tetap serius berlatih, meskipun baju prajurit sampai robek-robek, karena memang hanya memiliki beberapa setel. Mungkin Ibu Mega terharu.
Bagaimana komentar Megawati tentang peralatan yang minim?
Bagaimana lagi, negara kita memang sedang dalam krisis. Tidak bisa dipaksa untuk membeli peralatan baru.
Tentara dari dulu selalu mengalah. Sewaktu masih Orde Baru, tentara juga kebagian belakangan. Bayangkan, kita hanya dapat sekian persen dari APBN (dalam APBN 2000 alokasi untuk pertahanan dan keamanan sebesar Rp 9,1 triliun, sekitar 3 persen dari total APBN). Saya ingat, ada alokasi dana cukup besar ketika Jenderal (Purn.) M. Jusuf menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan (1978-1983). Setelah itu, enggak ada lagi.
Jumlah anggaran itu terkecil di Asia Tenggara?
Bahkan mungkin terkecil di dunia.
Jadi, andaikata Malaysia menyerang Indonesia, kita bisa kalah?
Mungkin di atas kertas benar. Tapi kita tidak mengandalkan peralatan saja. Masih ada yang bisa ditingkatkan kualitasnya, seperti dengan berlatih. Saya inginkan kemampuan berlatih prajurit di atas segalanya. Sehingga kemampuan prajurit kita lebih tinggi dari tentara Amerika Serikat sekalipun.
Sebelum menyerang sebuah daerah di Afganistan, tentara AS mengebom daerah itu dulu. Setelah yakin aman, mereka turun. Jadi, bila tentara AS menyerang GAM di Aceh, mereka akan mengebom dulu. Tentara Indonesia tidak punya persenjataan seperti itu, kita tidak mungkin menjatuhkan bom di sasaran sebelum menyerang.
Jadi, sebenarnya kemampuan pasukan kita tidak diragukan, karena berani menyerang langsung.
Apa ukurannya?
Namanya perang, ada perhitungan daya tempur, senjata, kemauan, moral, kemauan untuk mati-matian. Nah, keinginan kita mempertahankan bangsa ini lebih tinggi. Kita siap mati, kok.
Bagaimana dengan kesempatan berlatih dengan negara lain?
Kalau kita latihan dengan negara lain, itu lebih banyak unsur persahabatannya.
Mengapa TNI tidak minta tambahan anggaran?
Saya juga enggak ngerti, tapi yang jelas Mabes TNI juga mengeluh. Tapi kalau enggak ada uang, mau apa lagi?
Kostrad kan punya banyak perusahaan melalui yayasan-yayasannya?
Itu kan hanya namanya. Makanya sekarang saya bilang, sudahlah, bubarin saja. Lagi pula, kami sudah berusaha memenuhi kesejahteraan para prajurit. Anak-anak sekolah kita biayai, dari TK sampai universitas. Perumahannya juga kita bantu sebagian pembayarannya. Kita juga memberikan kredit murah sepada motor. Tapi itu terbatas pada Kostrad.
Tapi peran TNI dalam politik makin kecil. Porsi di parlemen juga makin berkurang, sebelum nantinya habis sama sekali.…
Ya, itu memang kehendak rakyat.
Lalu bagaimana dengan keberadaan kodam dan koramil?
Suka tidak suka, perekat negara sekarang adalah TNI.
Kalau mau membubarkan negara, bubarkan kesatuan teritorial. Kalau Kodam Trikora di Irian Jaya dibubarkan, keesokan harinya Irian Jaya pasti merdeka.
Negara ini sudah minim perlengkapan TNI. Kalau kesatuan teritorial akan dibubarkan pula, bagaimana jadinya? Singapura punya satelit yang bisa mengintai, sedangkan kita tidak mampu melihat apa-apa di sebelah kita. Itulah gunanya kesatuan teritorial, yaitu untuk mengawasi daerah tertentu.
Kabarnya, akan segera ada pergantian di pucuk pimpinan TNI. Anda akan ke Merdeka Utara (Kasad), sedangkan Jenderal Endriartono Sutarto jadi Panglima TNI?
Saya belum dengar. Banyak kabar itu. Saya mau profesional.
Apakah Anda tidak dipanggil Megawati, Panglima Widodo, atau Endriartono, soal pencalonan Anda sebagai Kasad?
Saya enggak pernah ketemu dengan Ibu Mega, Panglima, atau Pak Endriartono Sutarto.
Padahal usia Endriartono sudah lebih dari 55 tahun, masuk masa pensiun....
Begini yah, siapa pun pantas jadi Panglima TNI, apakah itu dari AD, AU, atau AL. Karena panglima kan hanya mengoordinasi. Kalau panglimanya bagus tapi bawahannya enggak bagus, percuma saja. Juga kalau panglimanya tidak jelas dalam mengarahkan, juga sama saja.
Persoalan usia itu enggak masalah. Di AS, perwira berusia di atas 60 tahun masih bagus. Usia 50 tahun sedang segar-segarnya. Main golf bisa 40 hole. Negara rugi kalau tentara masih muda sudah pensiun.
Jadi, enggak masalah jika Endriartono naik jadi panglima?
Enggak tahu saya, yang jelas enggak ada jabatan diperpanjang. Kalau masih dibutuhkan, dia enggak (usah) diganti, tapi bukan diperpanjang. Tapi, kalau masa pensiun tiba, itu bisa ditunda.
Bagaimana dengan aturan TNI tentang perpanjangan masa dinas?
Dari dulu juga ada. Banyak juga yang masa dinasnya diperpanjang.
Tapi perpanjangan masa dinas hanya 3 tahun, tidak sampai 5 tahun, paling hanya 2 atau 3 tahun. Bagaimana?
Peraturan baru, mungkin?
Kasad Endriartono pernah menyatakan dukungan untuk mempertahankan Panglima TNI. Bagaimana menurut Anda?
Jelas, dong. Kepala Staf ini kan loyal. Dia jelas enggak mau kalau sedang solid lalu diganti.
Tapi, kalau diganti sekarang, sudah enggak masalah?
Kalau menurut saya, mau diganti atau tidak, itu tidak masalah. Apalagi di tingkat saya, kodam, danrem, enggak ada yang ribut-ribut soal penggantian ini, (karena) gue ingin naik. Kita enggak meributkan itu. Makanya, kalau saya ditanya, saya yang agak heran, karena kita memang enggak pernah ribut. Orang luar yang ribut.
Berita dukung-mendukung itu santer....
Iya, Pak Endriartono Sutarto didukung Pangkostrad. Begitu kan?
Jadi benar?
Tidak ada dukung-mendukung yang seperti itu. Kita bekerja. Saya tahu betul Kasad berapa kali menyatakan ingin berhenti. Sudah capek, tapi tidak bisa.
Tapi Anda kenal dekat dengan Kasad?
Ketika saya komandan batalion, Pak Endriartono menjadi kepala staf saya. Kita dekat. Sewaktu saya berlatih di Malaysia dan Baturaja, dia atasan saya. Dia juga orang Kostrad.
Anda dan Endriartono dianggap pasangan serasi....
Serasi apa? Dengan siapa pun kita harus serasi. Memangnya, saya paket politik.
Orang sudah ramai membicarakan topik ini, tapi Anda kok kelihatan tak acuh....
Yah, orang luar. Itu semua kan pikiran politik. Saya dengan istri saya tidak pernah ngomong soal itu. Saya enggak bisa ngomong politik. Saya hanya ingin menunjukkan pada bangsa, "Ini lo, latihan Kostrad."
Tapi tampaknya regenerasi di TNI mandek, sudah beberapa tahun enggak ada pergantian....
Kalau saya setuju Kasad dan Panglima diganti lima tahun sekali, seperti dulu. Sekarang kan setahun ganti, setahun ganti.
Banyak jenderal bintang satu dan bintang dua tidak memiliki posisi atau bahkan menganggur....
Ya, posnya berkurang, makanya banyak yang nganggur.
Bagaimana kalau jenderal terjun ke politik, masuk ke kabinet, atau mendirikan partai politik saja?
Enggak tahu saya. Saya enggak pernah ngomong soal itu.
Anda kok seperti tidak peduli dengan isu politik?
Bukan urusan saya.
Lalu bagaimana Anda harus bersikap terhadap elite politik, yang notabene juga selalu terlibat perbedaan kepentingan politik?
Saya bersikap baik terhadap Presiden. Begitu juga terhadap Amien Rais dan Akbar Tandjung, saya juga berhubungan baik.
Dulu, sewaktu Abdurrahman Wahid jadi presiden, saya sampaikan bahwa prajurit siap mengamankan Gus Dur. Siapa pun tidak boleh menyentuh dan mencelakakan Gus Dur. Tapi, bila sudah sampai di area hukum dan politik, saya tidak bertanggung jawab, saya enggak iku-ikut. Saya tetap baik dengan Abdurrahman dari ketika menjadi
presiden hingga sekarang.
Tapi Anda tidak mendukung dekrit yang dikeluarkan Presiden Abdurrahman ketika itu?
Bukannya saya tidak mendukung. Saya sampaikan kepada Gus Dur bahwa masalah politik itu hak presiden, tapi saya tetap mengamankan Presiden dan mengamankan negara ini. Jadi kita harus jernih mikirnya. Jangan dendam, benci.
Satu jam sebelum apel pasukan Kostrad waktu itu (Minggu, 22 Juli 2001), saya menelepon Gus Dur. Saya katakan, "Gus, saya mau apel siaga." Saya katakan bahwa apel ini tidak punya maksud apa-apa. Saya siap
mengamankan Presiden. Gus Dur tahu itu. Buktinya, hingga sekarang pun saya masih berhubungan baik dengan Gus Dur. Kadang saya masih menelepon. Satu bulan lalu, saya silaturahmi ke Gus Dur.
Kita kasihan juga pada Gus Dur. Dia terlalu baik. Makanya saya bilang, Sukarno, Soeharto, dan Gus Dur turun bukan gara-gara tentara, tapi karena orang-orang terdekat.
Anda dekat juga dengan Taufiq Kiemas?
Saya lebih banyak ketemu dan ngobrol dengan Mega.
Bukannya sama-sama dari Palembang?
Enggak, saya bukan Palembangisme. Kalau saya sudah begitu, artinya saya membohongi prajurit saya. Satu setengah tahun lalu, saya katakan pada prajurit agar memilih negara kesatuan ketimbang sukuisme. Kalau rakyat Sumatera Selatan ingin berontak, saya yang akan menumpas. Bukannya saya tidak cinta kampung halaman, tapi saya lebih mencintai Indonesia.
Tapi, kenal Taufiq sudah lama?
Yah, kan bapaknya tentara juga. Orang Palembang.
Anda membicarakan politik dengan Mega?
Enggak pernah.
Kabarnya begitu?
Eggak, ah.
|