Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXI/15 - 21 April 2002
   
Kesehatan

Bukan Monopoli Kaum Miskin

BAGI Anda yang yakin tuberkulosis adalah penyakit orang miskin, silakan simak pengalaman Anton. Eksekutif perusahaan swasta berusia 57 tahun ini hidup makmur. Cukup gizi, rajin golf, dan tinggal di kawasan megah di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Apa daya, setelah rentetan kerja lembur di akhir tahun 2000, Anton jatuh sakit. Batuk berdahak tak kunjung reda, dada sakit, suhu badan tinggi, dan keringat menderas di malam hari. Satu bulan berlalu, rangkaian gejala ini tak juga hilang, sehingga Anton memutuskan berobat ke dokter. Saat itulah baru ketahuan bahwa dia terkena tuberkulosis (TB).

Kisah Anton membuktikan bahwa TB bukanlah monopoli kaum miskin. Siapa pun—tak peduli eksekutif kaya atau tukang sapu—sangat mungkin menghirup udara yang ter-cemar bakteri Mycobacterium tuberculosis. Jutaan bakteri pemicu TB ini berlenggang nyaman di udara setelah tersebar melalui dahak yang tepercik (droplet nuclei).

Lalu adakah cara jitu menangkal infeksi kuman TB?

Sayang sekali, jawabannya baru satu: tak ada. Bahkan vaksinasi bacillus calmette-guerin (BCG) punya kelemahan. Daya perlindungan cairan vaksin ini tak bertahan lama sehingga kuman TB siap menyerang setiap saat. Karena itu, satu-satunya pilihan adalah memperkuat stamina guna membentengi tubuh dari serangan kuman.

Namun, tak semua orang punya kesempatan menjaga stamina. Termasuk para eksekutif muda yang berkantor di ruang mewah berpendingin udara. Dalam sebuah wawancara dengan TEMPO beberapa waktu lalu, Sutji Astuti Mariono, ahli paru-paru dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, mengatakan bahwa makin banyak kelompok eksekutif yang menjadi korban TB. Empat tahun lalu, misalnya, Sutji menangani 125 pasien TB dari kelompok eksekutif muda. Jumlah itu setahun berikutnya melonjak menjadi 600 orang.

Fenomena TB di kalangan eksekutif, menurut Sutji, bersumber dari kebiasaan gila kerja atau workaholic. Siang, malam, pagi, sore terus bekerja, nyaris tanpa jeda. Celakanya, kebiasaan ini tidak diimbangi dengan upaya menjaga menu seimbang, olahraga, dan rekreasi yang mantap. Makin parah lagi, pekerja yang "gila" itu banyak yang juga perokok berat. Akibatnya, seperti halnya orang miskin yang tinggal di gang becek, para eksekutif ini rentan terhadap infeksi kuman TB.

MCh


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data