Mengatasi Ledakan Populasi |
SUDAH lama saya resah melihat makin banyaknya warga kita yang miskin dan tidak berpendidikan. Saya juga ngeri membayangkan ledakan populasi akibat makin tingginya angka kelahiran sekarang.
Penyebabnya? Pemerintah tidak lagi punya banyak biaya untuk mengampanyekan program keluarga berencana (KB) secara besar-besaran seperti dulu. Tapi kita juga tidak bisa berharap banyak kepada masyarakat untuk ber-KB secara swadaya karena terbatasnya penghasilan mereka.
Masalah ekonomi juga membuat angka kelahiran meningkat. Orang banyak menganggur sehingga punya waktu luang lebih banyak. Karena tidak punya banyak uang, mereka cenderung berkumpul dengan keluarga di rumah dan sulit mencari hiburan yang lain.
Faktor lain adalah minimnya pendidikan mereka. Ini menyebabkan pengetahuan mereka tentang KB pun rendah sehingga mereka cenderung tidak merencanakan dan tidak membatasi jumlah anaknya. Saya sering menemukan, seorang tukang becak punya lebih dari 5 orang anak atau seorang penganggur punya 8 orang anak.
Sebelum ledakan penduduk terjadi dan terlambat diatasi, mulai sekarang kita harus segera bergerak. Selama ini, KB yang dicanangkan pemerintah difokuskan pada kaum perempuan. Ini memerlukan banyak biaya, untuk membeli pil atau spiral, dan sering kurang berhasil. Sudah saatnya pemerintah menganjurkan agar kaum pria yang sudah menikah dan punya 2 anak melakukan vasektomi. Aturan ini bisa diberlakukan untuk daerah padat seperti Jawa dan Bali.
Agar tidak terlalu kaku, peraturan tersebut bisa diperlunak dengan mencontoh Cina. Di sana, seorang warga yang punya lebih dari 2 anak harus membayar semacam pajak yang cukup tinggi kepada pemerintah.
Dengan begitu, negara punya tambahan pendapatan yang lebih dari keluarga yang mampu. Pemasukan ini bisa dipakai untuk membantu biaya pendidikan atau biaya vasektomi bagi keluarga yang tidak mampu.
ROSITA ARYANI
Kelurahan Gayungsari, Surabaya
|