Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 43/XXXI/23 - 29 Desember 2002
   
Ekonomi dan Bisnis

Taiwan Mengecam Indonesia

PEMERINTAH Taiwan berang. Rencana kunjungan wisata presidennya, Chen Shui-bian, ke Yogyakarta pada 14-17 Desember lalu ditolak terang-terangan oleh Indonesia. Pernyataan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda pun dikecam. "Kami memprotes pernyataan paling tidak bersahabat yang dikeluarkan Menteri Luar Negeri Indonesia," kata Menteri Luar Negeri Taiwan, Eugene Chien. Tak sekadar mengecam, mereka juga mengancam. Penerimaan tenaga kerja Indonesia (di Taiwan) akan dihentikan dan mereka bakal mengalihkan wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia. "Hubungan Indonesia-Taiwan sangat erat dan mestinya pejabat Indonesia menghormatinya," kata Chien seperti dikutip AP Selasa pekan lalu.

Sebelumnya, Hassan memang mengeluarkan pernyataan keras soal kunjungan tersebut. "Kami menolak kunjungan itu dan menolak izin masuk pejabat tersebut, yang seharusnya memberitahukan tentang kedatangannya ke Indonesia," kata Hassan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, menambahkan bahwa Indonesia tetap menganut kebijakan "satu Cina" dan yang diakui oleh pemerintah Indonesia adalah Republik Rakyat Cina. "Berdasarkan pengalaman kita di masa lalu, meskipun kunjungan itu digambarkan sebagai kunjungan pribadi atau wisata, kenyataannya dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Karena itu, Indonesia tidak akan lagi pernah menerima mereka," kata Marty.

Repotnya, Taiwan merupakan salah satu mitra dagang penting Indonesia. Dan Indonesia banyak mengambil keuntungan dari perdagangan kedua negara. Tahun lalu Indonesia mengekspor US$ 2,19 miliar dan mengimpor hanya US$ 1,07 miliar, atau surplus US$ 1,1 miliar (Rp 9,8 triliun). Bandingkan dengan surplus Indonesia terhadap Cina, yang hanya US$ 360 juta. Negeri pulau itu juga menanamkan banyak duit di Indonesia. Sampai tahun ini sudah US$ 17 miliar dana Taiwan yang diinvestasikan ke Indonesia. Taiwan juga menjadi salah satu tujuan tenaga kerja Indonesia. Saat ini ada lebih dari 100 ribu pekerja Indonesia di sana. Turis Taiwan juga banyak yang datang ke Indonesia. Tahun lalu ada 200 ribu turis negara itu yang datang ke Indonesia, membelanjakan sekitar US$ 257 juta (Rp 2,3 triliun). Tapi Hassan tak khawatir para pengusaha akan keluar dari Indonesia. Dengan enteng ia menjawab: "Bisnis punya logikanya sendiri."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data