|
Bangsa yang Sungguh Sakit
Tengoklah koran dan televisi. Hampir tiap saat muncul berita yang mencekat napas. Kemiskinan menyergap 100 juta jiwa penduduk, pengangguran melambung, investor asing kabur ke luar negeri. Semua masih ditambah dengan kabar tentang korupsi pejabat, konflik di Ambon, Poso, juga buntut tragedi pengeboman di Bali.
Tak mengherankan, situasi yang makin depresif tadi memacu peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa. Perkiraan kasarnya, saat ini 10 persen populasi atau sekitar 22 juta penduduk terkena gangguan jiwa dalam berbagai tahap. Bukan main.
Mengapa? Angka 22 juta adalah sebuah peringatan tentang betapa "sakit" bangsa ini. Kesakitan, yang bila dibiarkan terus berkembang melampaui daya dukung manusia, bakal meledakkan angka kriminalitas.
Tentu kita tak hendak mencontoh Afrika Selatan, negeri dengan gangguan jiwa melanda 12,5 persen populasi. Johannesburg, ibu kota Afrika Selatan, pun menjelma menjadi kota dengan angka kejahatan paling tinggi di dunia.
Negeri Para Pemadat
Tak seorang pun berharap Indonesia bakal menjadi negeri para pemadat. Tidak juga dalam mimpi yang paling buruk. Namun, nyatanya, republik ini sudah bisa disebut sebagai surga pengedar dan pecandu narkoba. Anak, istri, suami, kerabat, bahkan mungkin Anda sendiri sudah dalam jerat obat-obatan haram ini.
Saat ini kira-kira ada empat juta rakyat berkubang dalam candu narkoba. Artinya, satu pemadat ada di antara setiap 55 penduduk. Fantastis. Tak mengherankan bila kisah-kisah kematian overdosis terus mengalir. Dan, angka-angka ini diyakini terus meningkat seiring dengan kurang seriusnya penegakan hukum.
Yang layak membuat kita cemas, sebagian besar pemadat itu menggunakan jarum suntik bergantian, antara 2 dan 18 orang menurut sebuah survei. Tak pelak lagi, virus maut, misalnya virus hepatitis C dan virus perontok kekebalan tubuh HIV, menyebar ganas di kalangan pecandu.
Akankah kita terus tutup mata?
TBC, Sebuah Ancaman
Satu lagi catatan buruk Indonesia. Inilah negeri dengan penderita tuberkulosis paru-paru (TBC) terbanyak ketiga sedunia, sesudah India dan Cina. Menurut perkiraan Departemen Kesehatan, kini setiap tahun terdapat 583 ribu penderita baru penyakit penyerang paru-paru itu.
TBC adalah ancaman karena angka kematian yang ditimbulkannya mencapai 140 ribu orang per tahun di Tanah Air. Artinya, satu dari empat penderita akhirnya meninggal dunia. Bakteri penyakit yang ditemukan 120 tahun lampau ini memang gampang menyebar. Dengan medium udara, selama setahun satu penderita dapat menulari 10-15 orang.
Sejatinya, TBC ada pemunahnya. Namun, tragisnya, penderita TBC yang berasal dari kelas menengah ke bawah tidak memiliki pengetahuan memadai tentang TBC. Mereka cenderung menganggap remeh, cukup mengobatinya dengan obat yang bebas dibeli di warung. Mereka yang rentan adalah masyarakat yang kurang gizi, berkondisi fisik lemah, pecandu narkoba, dan pengidap HIV.
|