Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXXI/03 - 9 Februari 2003
   
Kriminalitas

Bila Sugali Mengganas

Aksi-aksi perampokan dan pembunuhan menteror warga Jakarta awal tahun ini. Catat: ada janji "tindak tegas" dari Kapolda.

"?Dar, der, dor, suara senapan. Sugali anggap petasan?. Tiada rasa ketakutan, punya ilmu kebal senapan?."

Lagu Sugali milik Iwan Fals dari era 1980-an itu terasa pas menggambarkan nekatnya penjahat di Ibu Kota hari-hari ini. Karena kebal senapan atau beban berat kehidupan? Entahlah. Yang jelas, aksi mereka makin menggila, dan korban berjatuhan. Januari lalu saja setidaknya 10 aksi perampokan dengan kekerasan menteror warga Jakarta.

Jangankan warga biasa, pejabat, aktivis LSM, bahkan pensiunan jenderal tak luput dari teror "Sugali". Yang paling sadistis terjadi pekan lalu, saat gerombolan arek pimpinan residivis Totok Sartono alias Jangkung merampok dan menghabisi Wisnani Safitri, 51 tahun, istri Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan Agus Haryanto. Mereka membawa kabur duit sekitar Rp 33 juta.

Untungnya, polisi dalam waktu kurang dari 24 jam berhasil membekuk dan menahan enam dari delapan pelakunya: Totok, Hilman, Didit, Joko Sarwono, Cholid, serta Munte. Sedangkan Bagong dan Trondol buron.

Komisaris Besar Prasetyo membantah cepatnya kasus itu terungkap karena menimpa keluarga pejabat. "Kita memakai bukti-bukti, saksi, serta data. Misalnya, karcis parkir yang jatuh di mobil tersangka," kata Kepala Humas Polda Metro Jaya itu. Ia yakin motifnya murni perampokan.

Tragedi berdarah tersebut dimulai ketika Wisnani mengambil uang di Bank Mandiri, Pasar Rebo, lantas ke Bank Lippo di Arion Plaza, Senin pekan lalu. Diantar Unang, sopirnya, ibu dua anak itu lantas pulang ke rumahnya di Kompleks Perhubungan, Jalan Perhubungan V, Rawamangun?semua tempat itu di Jakarta Timur. Rupanya, sejak awal mereka telah dibuntuti mobil Kijang kapsul perak yang ditumpangi Totok dkk. Ikut menguntit, sepeda motor RX King hitam yang ditumpangi dua bajingan.

Setelah memarkir mobil di depan rumah majikannya, sopir Unang masuk membawa tas. Dan begitu Wisnani ikut turun dari Kijang birunya, pengendara sepeda motor mendekat dan langsung menarik tas tangannya. Tapi tak mudah, sehingga terjadilah tarik-menarik antara keduanya. Munte yang gusar menghunus celurit sepanjang 40 sentimeter dan menyabet tangan dan leher korban berkali-kali, crasshh, crasshh! Sementara Wisnani tersungkur bersimbah darah, pelaku kabur bersama uang rampokannya. Korban tak tertolong.

Aksi serupa juga menimpa keluarga Hendardi, Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI). Kamis pukul 9 malam pekan lalu, Daryanto menyelinap ke rumah korbannya di Cipete, Jakarta Selatan. Sempat bersembunyi di lantai dua, pelaku turun ketika Atikoh?pembantu keluarga Hendardi?hendak mengambil radio dari kamarnya. Dan pelaku langsung menyekapnya. Pembantu rumah itu mencoba melawan, yang memaksa pelaku membabatkan golok ke tubuhnya.
Ribut-ribut itu membuat Melidarsa, istri Hendardi, ketakutan. Meli lalu mengontak Atikoh lewat intercom. Mendengar suara alat komunikasi itu, pelaku kaget dan lari. Tapi, karena panik, Daryanto tak melihat paku di tembok, yang lantas mengait celananya. Warga yang memergokinya tergantung di tembok langsung "meramaikannya". Kepada petugas Polsek Cilandak yang datang meringkusnya, ia mengaku terpaksa merampok karena kebelet mengawini pacarnya, Inem.

Bulan lalu, reserse Polda Metro Jaya berhasil membongkar sindikat perampas mobil mewah yang telah "mengkoleksi" 40 mobil. Ini bermula dari aksi mereka merampas Toyota Altis milik bekas Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Brigjen Purn. Soenarso Djayusman. Hari itu, 3 Januari lalu, Soenarso dan istrinya hendak keluar di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan. Tiba-tiba enam penodong memaksanya turun dari mobil. Karena korban menolak, pelaku lantas menembak kaki dan pahanya. Mobil pun raib. Setelah bekerja keras empat hari, pada 7 Januari 2003 polisi menangkap lima orang yang diduga pelakunya. Hampir semuanya anggota tentara, ditambah satu yang tewas tertembak karena melawan polisi.

Kapolda Metro Jaya, Irjen (Pol.) Makbul Padmanegara, pun berjanji akan menindak tegas penjahat di wilayahnya. "Siapa pun yang berani mengacau Jakarta, saya sikat," katanya tegas. Kita catat, lo!

Iwan Setiawan, Lis Yuliawati (TNR)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

40 Napi LP Krobokan Ikut Mencoblos - 09 Jul 2008 | 10:49 WIB
Warga Padangpanjang Pilih Wali Kota - 09 Jul 2008 | 09:17 WIB
Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur - 09 Jul 2008 | 08:24 WIB
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data