Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXXII/17 - 23 Maret 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

KAI Ubah Strategi

Kalah bersaing dengan angkutan udara, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengubah sistem tarif untuk kelas eksekutif. Semula KAI hanya mengenal satu tarif (flat) untuk semua tujuan, tapi kini perusahaan pelat merah itu mengubahnya menjadi sistem zona. Selain itu, PT KAI membuat tarif yang berbeda untuk Senin-Kamis dan Jumat-Minggu. Sistem tarif yang baru ini akan berlaku mulai Jumat pekan ini. ”Kita harus mengubah sistem tarif karena tingkat terisi (occupancy rate) kami terus menurun akibat kalah bersaing dengan angkutan udara,” kata Direktur Personalia dan Umum PT KAI, Masjraul Hidayat.

Masjraul menjelaskan, belakangan ini tingkat terisi kereta eksekutif turun sampai di bawah 50 persen. Penyebabnya tak lain adalah perang tarif di industri penerbangan, yang membuat harga tiket pesawat hampir sama dengan kereta api eksekutif. Tarif pesawat Jakarta-Yogyakarta, misalnya, kini rata-rata hanya Rp 175 ribu, sementara tarif kereta api malah lebih mahal Rp 10 ribu. Karena itulah KAI mengubah sistem tarifnya. Jakarta-Surabaya, misalnya, dibagi dalam tiga zona berdasarkan jarak. Misalnya, tarif Argobromo Anggrek kini berkisar Rp 125 ribu-Rp 195 ribu. ”Kami berharap sistem yang baru ini bisa menaikkan tingkat terisi sampai 80 persen.

Selain mengadakan perubahan tarif, kata Masjraul, KAI akan serius menggarap angkutan barang. Saat ini KAI sudah mulai mengangkut barang elektronik setiap hari untuk jalur Surabaya-Jakarta. ”Kami juga sedang menegosiasikan pengangkutan rokok,” kata Masjraul. Agaknya, perusahaan kereta api milik pemerintah ini memang harus bekerja keras untuk mengatasi dampak perang tarif di angkutan udara yang keras mengimbas pada KAI. Kinerja PT KAI sepanjang 2002 membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun lalu, KAI membukukan laba bersih sekitar Rp 20 miliar. Tahun sebelumnya, KAI merugi Rp 880 juta.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data