Membelai Angin, Menangkap Air Budaya dan pengaruh fengsui makin kuat. Peminatnya tak hanya warga keturunan Tionghoa. |
Ruang kerja Bambang Guritno, 47 tahun, terasa janggal. Meski kantornya menghadap ke selatan, Bupati Semarang ini sengaja mengarahkan meja kerjanya ke arah barat daya. Walhasil, meja kerja Bambang terpasang secara diagonal (melintang) terhadap ruangan. Rupanya, seorang ahli fengsui meminta agar meja kerja Bambang menghadap Gunung Ungaran di arah barat daya kantornya. Hawa sejuk gunung dipastikan akan membawa peruntungan dan kekuatan. "Saya merasa enjoy dan mantap dalam bertugas," ujar Bambang.
Meski berdarah Jawa asli, Bambang sangat mempercayai fengsui. Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Semarang ini mengaku terpikat dan percaya pada fengsui sejak 1989. Bambang, yang saat itu berprofesi sebagai pengembang perumahan, merasa heran dengan kondisi bisnisnya yang makin seret. Perumahan yang ia bangun di Semarang tak kunjung laku. Padahal lokasi yang dipilih merupakan daerah yang strategis.
Untunglah, seorang relasi bisnis berdarah Tionghoa datang menolong Bambang. Menurut sang teman, perumahan yang dibangun Bambang tak kunjung laku akibat fengsui jahat. Arah rumah yang membelakangi laut, kloset menghadap laut, dan lubang angin (kloster) yang berbentuk silang (X) dianggap sebagai beberapa kesalahan pembawa sial. Dalam pakem fengsui, lautan merupakan sumber rezeki yang mahaluas. Jadi, ujar Bambang, "Kloset yang menghadap laut sangatlah tidak sopan." Sedangkan lubang angin berbentuk silang akan menjadi penolak embusan angin pembawa rezeki.
Peruntungan Bambang memang moncer. Meski PAN hanya meraih tiga suara di DPRD Kabupaten Semarang, ia berhasil menjadi Bupati Semarang periode 2000-2005. Di luar dugaan, ia menyingkirkan kandidat lain yang berasal dari partai-partai besar. Kini Bambang bersiap segera merenovasi rumah dinasnya. Soalnya, posisi pintu depan dan belakang rumah yang baru ditempatinya itu ternyata sejajar lurus. Hal ini dipercaya akan menggerogoti semua penghasilan Bambang. "Ndak lucu bila bupati selalu tekor," ujar Bambang, terkekeh.
Sesungguhnya, fengsui merupakan kepercayaan asli bangsa Tionghoa. Secara harfiah, fengsui berarti "angin" dan "air". Dua unsur alam ini, angin dan air, merupakan unsur terpenting bagi orang Tionghoa kuno saat hendak membuat rumah. Frena Bloomfield, wartawan Inggris yang menulis buku Chinese Beliefs (diterbitkan pertama kali oleh Arrow Book, London, pada 1984), menyatakan budaya fengsui telah dikenal sejak 3.000 tahun silam. Bahkan, oleh Wang Chi, seorang pemikir pada dinasti Sung (1126-1278), kepercayaan terhadap fengsui disusun dalam sebuah kitab yang sistematis.
Hingga kini, masyarakat Tionghoa, baik yang masih di negeri Cina maupun yang berada di perantauan, sangat memelihara fengsui. Mereka selalu menghubungkan kejadian penting dengan fengsui.
Ada kisah menarik di balik kematian Bruce Lee, bintang film Hong Kong ternama. Orang tua Bruce Lee kerap memanggilnya dengan julukan Siu Liung (yang berarti sang Naga Kecil). Suatu hari, Bruce Lee membeli rumah di kawasan elite Kowloon, Hong Kong. Daerah yang juga kerap disebut sebagai Kowloon Tong (yang berarti Sembilan Naga) itu sebenarnya tak cocok buat Bruce Lee. Soalnya, Sembilan Naga akan merasa ditantang dan cemburu dengan sang Naga Kecil. Bruce Lee tak kurang akal. Ia memasang bhat gwa (cermin bersegi delapan) di depan rumahnya untuk menolak kemarahan Sembilan Naga. Tapi, sebuah gempa bumi kecil telah menjatuhkan bhat gwa milik Bruce Lee. Pada Juli 1973, bintang film Enter The Dragon ini tewas keracunan.
Bagi para pengembang perumahan, fengsui sebenarnya telah menjadi "agama" yang dijunjung tinggi. Pengembang Lippo Cikarang, misalnya, selalu mematuhi prinsip-prinsip fengsui dalam membangun rumah dan gedung mereka. Mereka secara detail menuruti anjuran dan pantangan yang ada. Jangan heran bila di Lippo Cikarang tak ada nomor rumah yang berakhiran dengan angka "4" (seperti 4, 14, 24, dan seterusnya). Dalam budaya Tionghoa, angka empat dianggap pembawa bencana. Empat, yang dalam bahasa Tionghoa disebut sei, bisa juga berarti kematian.
Mas Dian M.R.E., seorang arsitek yang memakai teori fengsui, mengakui bahwa fengsui merupakan pengetahuan penting. Fengsui, ujar Mas Dian, meliputi ilmu astrologi, astronomi, geologi, arsitek, matematika, dan fisika. Sebagai arsitek, Mas Dian sengaja memilih arah, bentuk, dan bahan-bahan bangunan yang cocok dengan karakter pemiliknya. "Dengan fengsui, manusia akan selaras dengan alam," kata pengasuh rubrik fengsui di beberapa media massa itu. Kini, berkat penerapan ilmu fengsui, Mas Dian kebanjiran klien. Setiap bulan ia minimal harus menangani 20-an klien baru.
Budaya fengsui saat ini makin menarik para peminat di Indonesia. Acara fengsui yang disiarkan secara live oleh Metro TV dan Indosiar dibanjiri penelepon. Ada-ada saja yang mereka tanyakan kepada ahli fengsui yang mengisi acara. Ada yang bertanya soal posisi kamar mandi, jenis pekerjaan yang cocok, hingga kesehatan anak yang kerap terserang penyakit flu. Hebatnya, semua pertanyaan itu dapat dijelaskan secara gamblang lewat teori-teori fengsui.
Fengsui juga memikat Markus Sajogo, S.H. Pengacara kondang di Surabaya ini sengaja memilih pelat mobil mewahnya (Markus enggan menyebut merek dan tahun keluarannya) dengan nomor L 88. Dalam kepercayaan fengsui, angka "8" merupakan angka yang tak pernah putus. Bahkan, dalam posisi terbalik pun, ia tetaplah berarti "8". Ini bisa berarti aliran rezeki yang tak pernah putus. (Bandingkan dengan angka "4", yang mirip kursi terjungkal.)
Kepercayaan Markus Sajogo terhadap fengsui memang begitu kuat. Dari enam rumah dan kantor yang ia miliki, halaman depannya selalu ditanami pohon sawo kecik. Markus memperoleh bibit tanaman yang kerap ditanam di keraton itu dari Rahman Halim, juragan pabrik rokok Gudang Garam. Selain bagus menurut fengsui, "Sawo kecik itu pemberian orang kaya. Siapa tahu ketularan," ujar Markus kepada Sunudyantoro dari Tempo News Room.
Soal anak tangga juga menjadi perhatian serius Markus. Saat membuat rumah keenam, Markus sengaja membuat jumlah anak tangganya 21 buah. Soalnya, kata Markus, fengsui jualah yang mengharuskan memilih jumlah anak tangga yang habis dibagi dengan angka 3. Entahlah, apa maksud ketentuan aneh ini.
Toh, para penggila fengsui di Indonesia terbilang moderat. Markus, misalnya, mengaku kerap menganalisis fengsui dengan akal sehat. Pria kelahiran Tuban 62 tahun silam ini memang percaya, tapi tidak "diperbudak" oleh fengsui. Buktinya, kata Markus, "Saya tak sekadar percaya fengsui. Kerja keras adalah kata kunci yang lain."
Setiyardi, Levi Silalahi (Jakarta), Sohirin (Semarang)
|