Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XXXII/11 - 17 Agustus 2003
   
Opini

Manimaren, Pertanyaan Tersisa

Pengusaha Marimutu Manimaren diduga mengakhiri hidupnya. Pelobi ulung yang disebut ulet, dinamis, tak pernah frustrasi.

SEBUAH survei menunjukkan: setiap hari 2.000 orang mengakhiri hidupnya sendiri di seluruh dunia. Artinya, setiap jam ada 80 orang yang bunuh diri di bawahkolong langit ini. Bagaimana di Indonesia? Menurut catatanKepolisian Daerah Metro Jaya, tahun lalu tercatat sekitar lima kasusbunuh diri per bulan, tapi tahun ini—sampai Juli—meningkat jadisekitar sepuluh kasus per bulan. Itu cuma data Jakarta.

Di tengah kesulitan ekonomi—dengan berbagaidampaknya—angka tersebut mungkin tak lagi mengejutkan kita.Tapi, ketika pekan lalu terdengar kabar Marimutu Manimarenterjun bebas dari lantai atas sebuah hotel berbintang di JakartaSelatan, dan tubuhnya ditemukan remuk-redam di halamanhotel, tak urung banyak pihak mengaku terkesima. Bisadimaklumi: Manimaren bukan "orang biasa".

Nama pria 46 tahun ini tak terpisahkan dari grupperusahaan besar PT Texmaco, walaupun belakangan dikabarkansecara struktural ia tak lagi punya sangkut paut denganperusahaan milik abang kandungnya, Marimutu Sinivasan, itu. Iasendiri paling tidak memimpin tiga perusahaan, yang bergerak takjauh dari urusan tekstil. Tapi Manimaren tak sekadar pengusaha.

Banyak orang menyebutnya pelobi ulung yang lincahdan lentur dan selalu berada di sekitar wilayah kekuasaan. Iabukan orang asing bagi semua presiden republik ini—kecualiSukarno. Ia juga berada di lingkaran inti Partai Golkar, satu diantara kelompok politik determinan sampai saat ini. Orang-orangyang mengenalnya menyebutnya Bohmen—demikian ia biasadisapa—tokoh yang ulet, dinamis, tak gampang frustrasi.Artinya: bukan tipe yang mudah bunuh diri. Jadi?

Bunuh diri memang teka-teki. Suicidology membaginyake dalam berbagai kategori. Ada bunuh diri altruistik-heroik,bunuh diri "filosofis", bunuh diri "religius", bunuh diri"romantis", dan banyak macam lagi. Tapi jangan lupa: ada bunuhdiri "eskapis", yang dilakukan oleh seseorang yang tak lagikuat menanggung beban situasi. Beban itu bisa fisik,psikis, emosional, problem.

Jenis bunuh diri terakhir ini, sepertinya, paling dekatdikaitkan dengan Bohmen. Meski tak lagi ikut memimpinTexmaco, sulit dipercaya ia tak tertekan menyaksikan galau-balauperusahaan itu. Kepada beberapa teman dekatnya, iamengaku hari-hari belakangan ini ia memang pusing. Ia jugamengaku gelisah menunggu panggilan DPR untuk ditanyaihal-ihwal pembelian pesawat tempur Sukhoi yang penuh warnadan nuansa itu. Bohmen ikut ke Rusia ketika PresidenMegawati Soekarnoputri berkunjung ke sana.

Untuk jenis bunuh diri eskapis, tindakan nekat itubukanlah pilihan acak, melainkan dipandang sebagai solusi yang"efektif" dan ekstrem. Bunuh diri juga mengandung aspek"plagiat". Sehari sebelumnya Manimaren tentu membaca beritatewasnya Chung Mong-hun, Ketua Hyundai Asan Corporation,yang melompat dari lantai 12 markas Hyundai di tengah KotaSeoul, Korea Selatan. Kalau disimak sebab-musababnya, ini jugajenis bunuh diri eskapis.

Situasi kesendirian membuat tindakan bunuh dirieskapis semakin mulus. Ia tak punya kawan berbagi duka palingdekat: istri dan dua anaknya berada nun di Amerika. Ia sekaligustak punya orang paling dekat yang bisa mengontroltindak-tanduknya. Semua mozaik ini seakan memberi gambaranlengkap: seorang pria "sebatang kara" yang penuh problem,membuka tingkap kamar hotelnya di ketinggian, lalu melompatmenuju "solusi yang efektif dan ekstrem" tadi.

Cuma ada satu ganjalan. Sopirnya bercerita, pada pukul 04.00 Selasa itu ia menerima pesan, sang majikan minta dijemput pukul 07.30. Terbukalah ruang pertanyaan: apa yang terjadi antara pukul 04.00 dan pukul 05.15—saat tubuhnya ditemukan terhampar di halaman hotel? Lalu, pertanyaan praktis: seberapa berat sebetulnya beban perusahaan keluarganya, hingga ia sampai hati meninggalkan para saudaranya berjuang sendiri? "Bunuh diri" itu, akhirnya, tetap menyisakan teka-teki.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data