Ledakan dalam Kekeruhan Tewasnya Ayatullah Baqir Hakim karena dibom membuat situasi Irak semakin runyam. Siapa mengail di air keruh? |
Shalat Jumat baru saja usai. Ayatullah Mohammad Baqir Hakim, Ketua Dewan Tertinggi Revolusi Islam di Irak (SCIRI), baru saja keluar jalan kaki dari pintu kiri Masjid Imam Ali di Najaf. Tiba-tiba, saat mendekati mobilnya, dua kendaraan lain yang mengapitnya meledak, blaaar...! Dentuman yang dahsyat ini membuat Ayatullah Baqir, 64 tahun, meninggal seketika bersama sekitar 125 pengikutnya yang saat itu berada di sekitar pemimpin spiritual yang amat disegani ini.
Akibat ledakan di Kota Najaf, sekitar 160 kilometer selatan Baghdad, Jumat pekan lalu, itu sungguh memilukan. Menurut Safa al-Hamidi, Direktur The Najaf Teaching Hospital, kebanyakan mayat korban yang ditemukan hangus terbakar. Sampai Sabtu pekan kemarin warga setempat masih mengais-ngais reruntuhan bekas ledakan, mencari potongan-potongan tubuh korban. Tak sedikit pula korban yang terluka parah. "Kini lebih dari 150 orang luka-luka berat dan dirawat di rumah sakit," kata Safa.
Peristiwa itu semakin memperkeruh situasi di Irak. Ini merupakan ledakan keempat yang terjadi di sana. Selasa dua pekan lalu, peristiwa serupa meletup di Baghdad. Sebuah truk berisi bom tiba-tiba menyeruduk markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyebabkan 19 orang tewas, termasuk Kepala Perwakilan PBB untuk Pembangunan Irak, Sergio de Mello. Sebelumnya, mobil berisi bom juga menabrak Kedutaan Besar Yordania di ibu kota Irak, dan 10 orang tewas.
Bukan cuma itu. Senin pekan lalu, bom kembali berdentum lagi di Kota Najaf, di dekat kantor Ayatullah Muhammad Saeed Hakim, 67 tahun. Ledakan ini menewaskan sejumlah orang. Tapi Saeed Hakim sendiri, yang dikenal sebagai imam senior kaum Syiah, selamat dan hanya terluka di bagian leher.
Dengan kematian Baqir Hakim, Negeri Seribu Satu Malam ini memasuki masa-masa yang paling sulit. Soalnya, Ayatullah Baqir Hakim merupakan pemimpin spiritual kaum Syiah, kelompok terbesar di negeri itu. Upaya Amerika Serikat mendirikan pemerintahan yang kukuh di sana bisa terseok-seok lantaran tiada lagi sosok semacam Baqir, yang amat dihormati dan berpengaruh besar.
Sosok Baqir Hakim kerap dibandingkan dengan pemimpin revolusi Iran almarhum Ayatullah Rohullah Khomeini, yang berhasil menumbangkan diktator boneka AS, Shah Iran. Selama rezim Saddam Hussein berkuasa, Baqir mengasingkan diri di Iran karena dikejar-kejar pasukan Saddam. Dari sana, ia melancarkan perlawanan terhadap Saddam, dan terus berkampanye untuk berlakunya hukum Islam di Irak.
Setelah rezim Saddam jatuh, Amerika Serikat dan Inggris—dua negara yang paling bersemangat menghajar Saddam—sempat mencemaskan sikap Ayatullah Baqir Hakim. Sang Ayatullah dikenal dekat dengan Iran, padahal negara ini masih bermusuhan dengan Amerika. Tapi AS dan Inggris tak punya pilihan lain, mesti bekerja sama dengannya, karena Baqir Hakim begitu populer di Irak dan paling banyak pengikutnya.
Saat pertama kali menginjakkan kakinya ke Irak setelah rezim Saddam tumbang, Baqir Hakim tak menunjukkan rasa takut kepada Amerika. "Bangsa ini akan menyiapkan kemerdekaannya, dan pasukan koalisi (AS dan Inggris) harus pergi dari negeri ini," ujarnya.
Posisi Baqir Hakim yang unik dalam konfigurasi politik di Irak itu membuat berbagai pihak bisa dituding sebagai pelaku pengeboman tokoh ini. Setiap kelompok bisa terkena tuduhan sebagai pihak yang memancing di air keruh, termasuk Amerika sendiri. Tuduhan semacam ini salah satunya dilontarkan oleh Ayatullah Sayid Ali Khamenei. Pemimpin Iran ini mengatakan perbuatan itu dilakukan oleh tangan-tangan berdosa para pembantu kekuatan yang besar. ''Sekali lagi tragedi besar. Bangsa Irak yang tengah membangun kekuatan sendiri telah dirampok oleh kekuatan besar yang kini tengah menguasai Irak," kata Khamenei.
Hanya, tak lama setelah peristiwa itu, Presiden AS George W. Bush sendiri terang-terangan mengutuk peledakan itu. "Itu perbuatan para teroris yang jahat. Karena cita-cita Ayatullah (Baqir Hakim) adalah mulia, ia berharap Irak bebas, damai, dan tercipta rekonsiliasi," kata Bush akhir pekan lalu.
Sejauh ini kelompok Sunni, yang didukung Saddam Hussein, memang paling sering disebut sebagai pihak yang menebarkan teror bom dan membunuh Baqir Hakim. Toh, tidak tertutup kemungkinan teror itu dilancarkan oleh kalangan Syiah sendiri yang kurang suka pada sikap para imam Syiah yang terlalu kompromistis terhadap Amerika. Yang jelas, berbagai ledakan bom di Irak membuat segalanya kian runyam dan serba samar, sesamar masa depan negeri ini.
Ahmad Taufik, Islamic Republic News Agency, dan CNN
|