Tanda Tanya di London Calon investor lebih melirik BII ketimbang Lippo. Peluang keluarga Riady kian lapang. |
ADA satu pertanyaan yang selalu membayangi Kepala BPPN Syafruddin Temenggung. Saat itu ia berkeliling ke mancanegara untuk menjajakan 52 persen saham pemerintah di Bank Lippo, akhir bulan lalu. Bunyinya: akankah juragan lawas kembali masuk?
Dicecar begitu, di depan para pemilik uang yang menghadiri pertemuan yang digelar BPPN di London, Syafruddin hanya mampu mengutarakan pengalaman lembaganya ketika melego saham BCA, Niaga, dan Danamon. Saat itu, ia mengklaim, "Tak ada satu pun pemilik lama yang kembali." Namun, dalam divestasi Lippo, ia tak berani mengeluarkan garansi. "BI tidak memasukkan nama keluarga Riady dalam Daftar Orang Terlarang. Jadi, mereka boleh saja membeli kembali," Syaf beralasan.
Kendati gencar dihujani tudingan telah terlibat, sedikitnya harus ikut bertanggung jawab, dalam sejumlah skandal keuangan yang menerpa Bank Lippo—yang terakhir menyangkut rencana penjualan aset yang diambil alih ataupun penggorengan saham—nama Mochtar Riady memang tak pernah muncul dalam lis hitam BI.
Toh, hingga kini keluarga Riady belum secara terbuka menyatakan minat mereka untuk turut menawar saham pemerintah. Saat dihubungi TEMPO, Komisaris Bank Lippo, Roy E. Tirtadji, mengelak memberi penjelasan. "Saya ini hanya profesional di Lippo. Kalau ingin tahu keluarga Riady berminat atau tidak, silakan tanya langsung ke mereka," kata Roy.
Gencarnya pertanyaan investor terhadap keberadaan keluarga Riady di Bank Lippo dinilai logis oleh analis perbankan Mirza Adityaswara. Secara hukum, dengan penawaran jumlah saham yang mencapai 52 persen, siapa pun pembelinya seharusnya berhak memegang kendali.
Tapi ini Indonesia, Bung. Kenyataan di masa lalu menunjukkan, meski setelah direkap pemerintah saham keluarga Riady menyusut hingga 9 persen, dan pemerintah lalu menguasai kepemilikan mayoritas sebesar 52 persen, tetap saja warna Riady terlihat begitu dominan. Lihat saja. Dalam rapat pemegang saham Maret lalu, mereka bahkan berhasil mendudukkan lima calon di kursi direksi plus lima lainnya di jajaran komisaris. Jadi, Mirza menyimpulkan, siapa pun investor yang berniat masuk Lippo memang harus siap berbagi jok sopir dengan keluarga Riady.
Karena itu, tak mengherankan jika minat calon pemodal lebih tersedot ke Bank Internasional Indonesia (BII). "Para investor lebih banyak bertanya mengenai BII," ujar Syaf.
Di tengah suasana "sepi warung" itu, menurut seorang pejabat BPPN yang ikut roadshow ke London, ada tiga bank asal Eropa yang sempat bertanya ini-itu tentang Bank Lippo. "Tapi mereka hanya menanyakan hal-hal umum," sumber itu menjelaskan, sembari menolak merinci lebih lanjut.
Namun, sejumlah pengamat perbankan meragukan kesungguhan tiga bank tersebut membeli Lippo. Sebabnya bukan karena situasi Indonesia yang buruk atau kinerja industri perbankan yang jeblok, melainkan lebih karena ada banyak bank lain yang juga lagi dijajakan. Pekan ini, misalnya, BPPN akan mulai melego saham BII. Setelah itu menyusul Kementerian BUMN melepas 50 persen saham Bank Rakyat Indonesia.
Dalam situasi pasar yang jenuh seperti ini, di luar keluarga Riady, Lippo tampaknya hanya akan dilirik bank-bank Asia, seperti Singapura, Malaysia, ataupun Taiwan. Bank-bank Eropa, menurut kalkulasi Mirza, tak akan terlalu bernafsu menguber bank di Indonesia. Kalaupun ada, paling mereka yang telah memiliki basis operasi luas di Asia dan Afrika. Mirza, misalnya, menyebut nama sebuah bank asing yang pernah gagal mengambil Bank Bali dan BCA. "Hanya, saya dengar mereka lebih tertarik ke BII," ujar Mirza.
Seorang analis yang enggan disebut namanya mengamini prediksi Mirza. Dia juga menilai divestasi BII tampaknya lebih menarik minat dibanding Lippo. Soalnya, di BII investor berpeluang menyerok porsi saham yang lebih besar. Selain menjual 51 persen saham melalui penjualan strategis, BPPN juga akan melepas 21 persen stok BII melalui bursa.
Beberapa indikator keuangan memang menunjukkan brankas BII tampak lebih mengkilap ketimbang Lippo. BII, misalnya, lebih unggul dalam rasio kecukupan modal atau CAR, yang kerap dijadikan tolok ukur kesehatan bank. Pada akhir Juni kemarin, CAR BII tercatat 25,88 persen, sementara Lippo sedikit lebih kecil, yaitu 23,2 persen. Selain itu, menurut Mirza, BII juga lebih unggul dalam penyaluran kredit dan penghimpunan dana. Dalam kurun waktu yang sama, rasio kredit terhadap dana ketiga BII adalah 29,32 persen, lebih tinggi ketimbang Lippo yang 23,12 persen.
Naga-naganya, jawaban buat tanda tanya di London telah menjadi kian jelas.
Thomas Hadiwinata, Iwan Setiawan
|