Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 28/XXXII/08 - 14 September 2003
   
Luar Negeri

Setelah Pundi Mengempis

Setelah kehabisan duit, Amerika mengajak PBB menangani Irak. Strategi apa yang tengah dimainkan Presiden Bush?

PASUKAN koboi itu akhirnya lemas juga. Setelah jorjoran membuang pelor dan membabat gedung-gedung, para tentara Abang Sam kewalahan menangani tanah jarahannya, Irak. Ketidakberdayaan mereka itu ditandai dengan melayangnya sebuah resolusi dari pemerintah Amerika Serikat, Rabu pekan silam. Mereka memang kecapekan dan ingin agar Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa ikut membantu.

Ini mengejutkan. Sejak semula, Amerika paling anti meminta bantuan PBB. Apa daya, keamanan kian menjadi problem pelik di negeri gurun itu belakangan ini. Sejak menduduki Irak pada April silam, Amerika sudah berkali-kali kecolongan. Seiring dengan sikap anti-Amerika, serangan terhadap pasukan tentara koalisi—Inggris dan Amerika—sesekali meletup. Dan korbannya tak sedikit.

Puncaknya, dua serangan besar pecah bulan lalu. Yang pertama terjadi ketika markas besar PBB di Baghdad luluh-lantak oleh sebuah bom mobil. Sebanyak 23 orang mati. Ikut di dalamnya utusan khusus PBB di Irak, Sergio Vieira de Mello. Ratusan orang lain mengalami luka serius. Sepuluh hari kemudian, muka Abang Sam kian hitam tercoreng ketika sebuah bom ngejegur di dekat Masjid Imam Ali di kota suci Najaf. Yang repot, Ayatullah Mohammad Baqir al-Hakim, pemimpin Syiah Irak, meninggal akibat bom itu. Ratusan orang pun ikut kena getahnya. Mereka tersungkur dan harus dirawat di rumah sakit.

Tak pelak, dua kejadian berdarah ini membuat kepala George W. Bush dan para punggawanya cenut-cenut. Bila tak segera melakukan perbaikan, bisa jadi mereka akan kehilangan muka. Sialnya lagi, dari kantor anggaran Kongres AS, tersiar kabar Pentagon akan mengurangi jumlah tentara Amerika Serikat di Irak. Jumlah serdadu AS di Irak, yang kini sekitar 140 ribu personel, akan dikurangi menjadi setengahnya saja.

Itu sebabnya mereka menyerahkan komando militer di sebagian wilayah Irak kepada pasukan Polandia. Untuk soal dana, pemerintah Bush, yang kehabisan duit, memohon kucuran dana segar kepada Kongres sebesar US$ 65 miliar atau sekitar Rp 552,5 triliun. Nah, dengan keadaan yang kurang menyenangkan itu, digadang-gadanglah draf resolusi tersebut.

Pertimbangannya, selain soal uang, Amerika kepingin berbaikan lagi dengan beberapa negara yang sebelumnya menentang aksi mereka masuk ke Irak. Negara seperti Prancis, Jerman, dan Rusia, yang dari awal menentang invasi, dengan tegas menolak bergabung dengan pasukan AS di Irak jika tanpa dilandasi mandat baru PBB.

Soal lain, dalam naskah resolusi ini, AS masih tetap ingin menjadi pemimpin dalam pasukan multinasional kelak. "Akan ada (bagian) dalam resolusi itu yang meminta Amerika Serikat memimpin koalisi militer," kata Menteri Luar Negeri AS Colin Powell. Menurut Powell, AS telah menunjuk seorang komandan untuk memimpin pasukan multinasional tersebut.

Hal inilah yang membuat lamaran AS ibarat gadis cebol berbaju mahal: tawaran itu tak membuat negara-negara di atas tertarik. Malah, sebaliknya, dalam sebuah pertemuan di Dewan Keamanan PBB pada Rabu pekan lalu, Amerika mendapat kecaman.

Prancis, misalnya, dalam perdebatan itu sudah menunjukkan sikap tegas sejak awal. Menurut Prancis, kalau ingin membagi bebannya tentang Irak, AS juga harus mau membagi-bagi wewenang, informasi, serta hak dalam menentukan kebijakan. Jerman dan Rusia juga meminta agar pemerintah AS memberikan wewenang lebih besar kepada PBB, terutama dalam upaya mempercepat rekonstruksi Irak sehingga negeri itu dapat memperoleh kedaulatannya kembali.

Alhasil, wajarlah bila Jerman, Rusia, dan Prancis belum menunjukkan respons positif terhadap rencana Amerika itu. Tapi penolakan ini tak membuat Amerika kehilangan rasa percaya diri. Colin Powell menegaskan, AS akan mempertahankan peran pentingnya dalam bidang politik dan militer. Dan administrator AS di Irak, Paul Bremer, tetap memiliki kewenangan tertinggi.

Apakah Amerika akan bertahan dengan sikapnya? Barangkali tidak—jika menimbang langkah-langkah Bush ini bukan sekadar problem jangka pendek. Sejatinya, Presiden Bush dan para pembantunya tengah menyiapkan sebuah rencana akbar dalam jangka panjang: mengamankan posisi Bush dalam pemilihan presiden tahun depan. Dan membenahi Irak adalah jalan terbaik agar dirinya tidak menjadi sandungan langkahnya.

Irfan Budiman (Economist, BBC)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur - 09 Jul 2008 | 08:24 WIB
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
Polda Maluku Kerahkan 1.047 Personel Amankan Pemilihan Gubernur - 09 Jul 2008 | 06:57 WIB
Industri Tekstil Tak Kena SKB Pemindahan Hari Kerja - 09 Jul 2008 | 06:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data