Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 28/XXXII/08 - 14 September 2003
   
Luar Negeri

Saat Duka Menyelimuti Najaf

Ia kerap tersenyum. Ia menjawab pertanyaan dengan lemah-lembut, sekalipun itu sebuah kritik pedas. Ayatullah Mohammad Baqir al-Hakim, 64 tahun, sosok yang berhasil melepaskan diri dari pagutan masa lalu yang gelap dan bikin mulas.

Lima dari delapan saudara kandung Al-Hakim tewas di bawah angkara murka rezim Partai Baath Saddam Hussein. Tapi, di menit-menit terakhir hidupnya, di mimbar Jumat di Masjid Imam Ali, Najaf, ia menyeru: lupakan perbedaan, Irak yang bersatu pantas diperjuangkan.

Al-Hakim tewas, Jumat dua pekan lalu, setelah memberikan khotbah. Tubuh sang Ayatullah nyaris tak berbekas digodam bom berkekuatan raksasa, bom yang menewaskan sekitar 80 warga dan melukai lebih dari 100 orang lainnya. Orang hanya mengenalinya dari serpihan serban hitam, cincin kawin, dan jam tangan yang dikenakannya saat salat Jumat.

Al-Hakim mungkin seperti yang dituliskan seorang koresponden Timur Tengah di New York Newsday: lebih tepat menjadi ulama ketimbang politikus. Ia memang tumbuh di Najaf dalam lingkungan yang meletakkan ulama pada posisi terhormat. Karena itulah, pada usia 25 tahun, ia yang sudah menempuh pendidikan madrasah itu menjadi dosen syariah di Baghdad. Tapi kini orang pun mafhum, karena itu pula ia menjadi musuh Saddam Hussein—meski ia tak bisa meninggalkan ciri-ciri keulamaannya.

Di sebuah gedung berlantai empat, tempat pengasingannya di Teheran, Iran, ia menjalani rutinitas seorang pemimpin agama. Ia menjawab ratusan surat berisi pertanyaan mengenai fikih, akidah, dan lainnya. Tiap-tiap hari raya, Al-Hakim menerima ribuan tamu yang hendak bersilaturahmi. Baik di Teheran maupun di kota suci Qom, ia selalu memimpin salat zuhur dan isya. Ia ulama, tapi pengalamannya—saat ia berhasil lolos dari tujuh percobaan pembunuhan, saat ia menjalani siksaan di empat penjara pemerintah—telah membuka matanya: politik sesuatu yang tak dapat dihindari. Dan ia pun menempuh jalan bersenjata.

Di Iran, ia mendirikan Brigade Badar, yang beroperasi di perbatasan Iran-Irak. Sebagian anggota Brigade Badar adalah orang terlatih, desertir angkatan bersenjata Irak sendiri. Kelompok ini punya 10 ribu personel yang mendapat dukungan keuangan dan latihan militer langsung dari Garda Revolusi, pasukan elite Iran. Dua dasawarsa mereka beroperasi di sepanjang perbatasan Iran-Irak, tapi baru pada 1991 mereka melancarkan serangan hebat.

Al-Hakim dan anak buahnya mendengar seruan Presiden George Bush Sr. agar rakyat Irak menggulingkan Saddam. Iran sepenuhnya mendukung gerakan Brigade Badar, tapi Amerika rupanya punya pikiran lain. Bush khawatir, gerakan ini akan lebih menguntungkan Iran ketimbang Washington, bahkan mungkin membahayakan kepentingan Amerika. Dan perlahan AS mulai menarik jarak. Melihat Amerika tidak lagi berdiri di belakangnya, Al-Hakim dan pasukannya terpukul. Tak pelak lagi, pasukan Saddam akhirnya berhasil mematahkan serangan Brigade Badar.

Sebenarnya pertikaiannya dengan rezim Saddam Hussein berakar jauh. Al-Hakim lahir pada 1939 di Najaf, selatan Irak, dengan titisan nasib yang membuatnya tak akur dengan sekularisme yang dipraktekkan Saddam Hussein. Ayahnya seorang ulama besar, Ayatullah Muhsin al-Hakim. Ketika Partai Baath mengambil alih kuasa pada 1968, sosok Al-Hakim tua ini memaklumkan sebuah fatwa. Ia mengharamkan warga Irak menjadi anggota Partai Baath. Sejak saat itulah pecah pertikaian keluarga Al-Hakim dengan satu rezim sekuler di Baghdad.

Sekarang, 12 tahun setelah pertempuran 1991, Amerika Serikat yang pernah berkhianat itu tak dapat berpaling dari sosok populer Al-Hakim. Al-Hakim memang kecewa, tapi kini ia tahu: dunia boleh berubah, tapi kepentingan masing-masing pihak tetap hal utama. Ia mendorong adiknya, Abdul Aziz al-Hakim, seorang kepala staf Brigade Badar yang kini menggantikannya, masuk ke perwakilan sementara yang berjalan di bawah supervisi Amerika. Ia juga tak menolak pembicaraan dengan Amerika—pembicaraan yang tidak membawa banyak hasil.

Jumat itu, dua pekan lalu, di atas mimbar, sambil tersenyum Al-Hakim berbicara tentang persatuan Irak. Itulah khotbah yang terakhir. Kini kematiannya telah menumbuhkan banyak kecurigaan di antara sesama warga. Siapa sang pembunuh? Kita tahu, persatuan dan kecurigaan tak tahan duduk berdampingan terlalu lama.

Idrus F. Shahab


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data