Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXII/13 - 19 Oktober 2003
   
Opini

ASEAN, Tujuh Belas Tahun dari Sekarang

Indonesia termasuk negara yang paling tidak siap memasuki era perdagangan bebas AFTA dan integrasi ekonomi ASEAN. Tapi, pilihan lain juga tidak ada.

Dunia masa kini jauh berbeda dengan dunia 36 tahun lalu, ketika ASEAN (Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara) terbentuk. Dunia sekarangmenghadirkan banyak tantangan yang tidak sepenuhnya bisadiakomodasi oleh kerja sama ASEAN dan blok perdagangan sepertiAFTA (ASEAN Free Trade Area = wilayah perdaganganbebas ASEAN). Pertemuan para wakil 10 negara ASEAN diBali, pekan lalu, tidak saja merumuskan kembali tekad kerjasama ASEAN ini, tapi juga menyadari satu hal yangmendesak: AFTA harus diperbaharui dan implementasinya ditingkatkan.

Semenjak awal, integrasi ekonomi ASEAN sebenarnyasudah terhambat. Masalahnya, sesama anggota bersaing ketathanya karena mereka menghasilkan produk yang sama, sepertikaret, minyak sawit, kayu, udang, dan barang elektronik.Bahkan, ketika AFTA dicanangkan (1992), banyak yang mencibirkarena tak yakin cita-cita itu bisa terlaksana. Gaya kerjaASEAN, yang terkenal lamban, juga ikut memperburuk keadaan.

Satu hal pasti, dalam liberalisasi perdagangan,ASEAN tidak mencatat banyak kemajuan. Tapi, perlu diingatjuga bahwa Masyarakat Eropa perlu persiapan 30 tahunditambah sembilan tahun lagi untuk mematangkan rencana matauang euro. Kerja sama perdagangan yang lain, misalnyaantara Kanada, AS, dan Meksiko, kini pun sudah takterdengar gemanya. Yang paling menghebohkan adalah kegagalanpertemuan WTO (World Trade Organization) di Cancun,bulan lalu. Penyebabnya adalah protes negara-negaraberkembang terhadap subsidi pertanian negara-negara maju. Dalamkonfrontasi ini, Brasil dan 21 negara berkembangbersatu-padu menolak subsidi tersebut. Cancun akhirnya gagal, danpihak-pihak terkait langsung salah-menyalahkan.

Dalam suasana sesuram itu, apa yang dicapai dalampertemuan 10 negara ASEAN di Bali tentu lebihmenjanjikan. Setidaknya, ada kesadaran bahwa dunia yang cepatberubah tidak bisa dihadapi dengan pola kerja gaya lama. Jugakrisis moneter yang menghantam ketahanan ekonomi kawasanini memaksa negara-negara ASEAN untuk kembalimerapatkan barisan. Siapa pun bisa memetik hikmah darikeberhasilan Malaysia—yang menolak bekerja sama denganIMF—atau kesungguhan Indonesia menangani aksi-aksi teroris.Pertentangan antara blok negara maju dan negara berkembangdi Cancun juga mengajarkan pada semuanegara—termasuk Cina, yang semakin memantapkan posisinya sebagairaksasa ekonomi Asia—bahwa masalah perdaganganinternasional sudah terlalu rumit dan terlalu mengglobal untukdihadapi sendiri-sendiri.

Dalam semangat itulah, barangkali, pertemuan ASEANdi Bali bertekad mewujudkan Komunitas ASEAN atauMasyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2020—berarti 17tahun dari sekarang. Ditargetkan juga, dalam 10 tahunmendatang, integrasi harus dipercepat di 11 sektor. Thailand danSingapura malah lebih suka jika integrasi menyeluruhdipercepat pada 2012 atau 2015. PM Thaksin Sinawatra berdalihbahwa akan terlalu lama kalau harus menunggu setiap negarasiap untuk perdagangan bebas. Pertimbangan Thaksinagaknya murni pertimbangan bisnis. Ia memperhitungkan akanadanya tekanan keras dari blok perdagangan lain yangdalam 17 tahun ke depan bisamelemahkan ekonomi ASEAN.Di sisi lain, banyak yang khawatir bahwa gagasanKomunitas Ekonomi ASEAN bisa kehilangan geregetnya jika tidaksegera direalisasi.

Bicara tentang siap atau tidak siap, Indonesia, the sick man of South-East Asia dan negara yang tergolong paling korup di dunia (Transparency International), jelas sangat tidak siap. Aliran dana dari luar tersendat, produknya tidak kompetitif, pemerintahnya korup, hukum diperjualbelikan, penyelundupan merajalela, dan banyak lagi. Jadi, kalau Indonesia harus siap, semua kendala tersebut harus diperangi. Bahkan, percepatan jadwal, seperti diusulkan Thailand dan Singapura, justru harus dijadikan cemeti untuk memberantas inefisiensi, pungli, korupsi, dan kolusi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

JPPR: Pelanggaran Terjadi diberbagai Wilayah - 24 Jul 2008 | 12:22 WIB
Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data