|
Sebuah chip komputer yang mampu menjadikan personal computer (PC) bisa menghitung secepat super-komputer kini siap diluncurkan. Chip yang dikembangkan oleh ClearSpeed Technologies, perusahaan di California, Amerika Serikat, dan dinamakan CS301 itu sanggup melakukan 25 juta penghitungan per detik (25 gigaflop).
Menurut rencana, ClearSpeed akan mulai menjual versi yang cocok untuk PC ke perusahaan riset dan universitas beberapa bulan lagi. Belum ditetapkan harganya, tapi Tom Beese, Chief Executive Officer ClearSpeed, menyebutkan sebuah chip menelan biaya produksi US$ 16.500.
CS301 dirancang untuk berfungsi sebagai komponen pelengkap bagi prosesor biasa, yang kemampuannya hanya beberapa ratus juta flop. Sebuah chipset yang memuat satu atau dua CS301 bisa dipasang ke PC seperti halnya kartu grafis (graphic card) dan menjalankan penghitungan-penghitungan intensif atas nama prosesor biasa yang ada di situ.
Dengan kemampuannya yang besar, CS301 terhitung efisien, mengkonsumsi tenaga hanya tiga watt. ClearSpeed juga sedang menyiapkan versi untuk laptop.
Menurut Beese, chip baru itu cocok untuk aplikasi sains yang melakukan penghitungan intensif, misalnya untuk membuat model protein atau analisis data geologi. CS301, kata Beese, dirancang khusus untuk melakukan penghitungan matematika, dengan 70 persen permukaannya disiapkan untuk "mengunyah" angka.
Rencananya, spesifikasi terperinci dari CS301 akan dibeberkan pada Microprocessor Forum 2003 yang berlangsung di California pekan ini.
Metode Baru Radiasi Kanker
Sebuah alat terapi radiasi berpresisi tinggi, bagi penderita kanker dan leukemia, untuk pertama kalinya akan dibuat dan siap digunakan di rumah sakit tiga tahun lagi. Siemens, perusahaan Jerman yang lebih dikenal sebagai produsen peralatan komunikasi, sudah membeli lisensi teknologinya pekan lalu.
Menurut Hermann Requardt, Medical Executive Vice President Siemens, teknologi alat itu memungkinkan penyinaran langsung ke tumor yang menjadi target, yang sebelumnya terlalu berbahaya jika diobati dengan penyinaran. "Kita khususnya membicarakan chondrosarcomas (tumor sel tulang rawan), batang otak, kanker mata dan anak-anak, leukemia," katanya. Requardt yakin, 5-10 persen kanker bakal bisa diobati dengan radiasi jenis baru itu.
Cara kerja alat baru itu adalah menghancurkan sel-sel kanker dengan menembakkan "ion berat" pada kecepatan sangat tinggi. Teknologi ini dikembangkan oleh institut riset partikel GSI, bekerja sama dengan German Cancer Research Center dan Heidelberg University. Sejak 1997, setidaknya sudah 200 pasien di Kota Darmstadt ikut serta dalam penelitian dan mereka memperoleh kesembuhan dari metode baru itu.
Biaya pengobatan dengan metode radiasi baru itu diperkirakan dua kali biaya radiasi konvensional. Tapi Requardt mengatakan besarnya biaya dan tingkat keberhasilan yang tinggi bakal sebanding. "Akan ada keinginan besar untuk memilih terapi ini," kata Requardt optimistis. n
Gerakan Robot dengan Sinyal Otak
Sebuah eksperimen membuktikan bahkan sinyal dari otak monyet pun bisa mengontrol lengan robot sealami lengan sesungguhnya. "Ini seolah-olah mereka (monyet-monyet itu) punya lengan ketiga," kata Miguel Nicolelis, pemimpin proyek eksperimen di Duke University di Durham, Carolina Utara, Amerika Serikat. Para ahli percaya, keberhasilan eksperimen akan bermanfaat di masa depan untuk mengembangkan peralatan yang bisa dikontrol oleh pikiran.
Salah satu jenis alat itu adalah prosthetic yang digerakkan oleh saraflengan, atau tungkai, yang dikontrol oleh otak. Menurut Nicolelis, hasil kerja timnya penting karena menunjukkan bahwa prosthetic hanya bisa melakukan gerakan yang tepat jika bagian-bagian otak dimonitor dan umpan balik visual disediakan.
Inti dari eksperimen itu adalah model saraf yang diciptakan oleh para peneliti. Inilah yang menerjemahkan sinyal dari otak monyet menjadi gerakan-gerakan pada lengan robot. Model ini dikembangkan dari pemantauan kegiatan normal otak dan otot ketika monyet menggerakkan lengannya sendiri.
Mula-mula monyet dilatih menggunakan joystick untuk menggerakkan kursor di layar monitor komputerbermain game. Aktivitas saraf di dalam otak dimonitor, juga otot-otot di lengan. Begitu model saraf itu telah menghasilkan tingkat prediksi yang akurat, para peneliti mengubah kontrol kursor dari joystick dengan lengan robot, yang lalu dikontrol oleh otak si monyet. Sempat terus menggerakkan lengannya sendiri, pada akhirnya monyet itu bisa belajar menggerakkan lengan robot tersebut.
Bagi Nicolelis, tujuan akhir eksperimen itu adalah membantu orang-orang yang lumpuh. Percobaan, katanya, sudah dilakukan. Tapi, ia menegaskan, terlalu dini untuk dibuka.
|