Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 36/XXXII/03 - 9 November 2003
   
Buku

Filsafat Gadis, Filsafat Perempuan

Inilah buku yang menggugat filsafat yang secara eksklusif dibikin oleh laki-laki, penuh prasangka laki-laki, dan berbau laki-laki.

Filsafat Berperspektif Feminis

Penulis: Gadis Arivia

Penerbit: Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta, 2003, 336 halaman.



Mari kita renungkan angka- angka ini. Terdapat 298 filsuf terkemuka segala zaman yang diakui perannya sangat menonjol dalam sejarah pemikiran. Kesemuanya pernah dibahas dalam buku Philosophenlexikon (Metzler, 1995) oleh 127 filsuf laki-laki dan 18 filsuf perempuan. Namun, dari 298 tokoh itu, hanya empat yang perempuan. Mereka adalah Hannah Arendt, Simone de Beauvoir, Rosa Luxemburg, dan Margaret Mead. Kenyataan ini membuktikan tesis sentral Gadis Arivia bahwa filsafat sampai sekarang merupakan kerajaan kaum laki-laki.

Buku Gadis Arivia, Filsafat Berperspektif Feminis—disertasi yang dipertahankan di depan Senat Universitas Indonesia untuk memperoleh gelar doktor dalam ilmu filsafat—membahas hubungan bermasalah antara filsafat dan perempuan dari sudut feminisme. Yakni tentang fakta bahwa filsafat dalam 100 tahun terakhir secara eksklusif dibikin oleh laki-laki, penuh prasangka laki-laki, dan berbau laki-laki.

Gadis juga mengangkat bahwa dalam 2.500 tahun sejarah filsafat, ada nama pemikir perempuan muncul—ia memperkenalkan 27 di antaranya—tetapi selalu hanya sebagai sampingan, tak pernah sebagai pemikir yang perlu ditanggapi. Jadi, dengan demikian, tak pernah dianggap.

Buku ini merupakan sumber informasi lengkap tentang seluruh persoalannya sekitar perempuan dan filsafat (misalnya ada bagan rinci pendapat 14 filsuf penting tentang kaum perempuan), filsafat feministik, dan kritik feminisme terhadap filsafat (laki-laki).

Jelaslah, sejak 100 tahun silam perempuan tidak diberi ruang di alam filsafat. Banyaknya pernyataan misoginis—pernyataan kebencian terhadap kaum perempuan—di mulut pelbagai filsuf barangkali dapat diartikan secara Freudian sebagai ungkapan bersalah. Gadis juga menunjuk bahwa ada alasan obyektif untuk menyangka bahwa ada filsuf laki-laki yang mendapat beberapa ide kunci dari pemikir perempuan—tanpa menyebutkannya.

Daftar kronologis filsuf perempuan di bagian appendix buku ini sangat berguna. Sayang, Rosa Luxemburg dan Margaret Mead tidak disebut, begitu pula Margaret Anscombe dan Simone Weil. Lalu, Hypatia kok muncul di tahun 1500?

Mutu pemikiran Gadis kelihatan juga ketika ia mengangkat problematika inheren dalam usaha untuk berfilsafat secara feminis. Upaya "menyelamatkan" filsafat laki-laki yang "logosentris", yang mencari "pulau kebenaran", dengan lebih "beranjak dari titik tolak pemikiran marginal, emosional, partikular, dan kebenaran pluralitas" bisa memperkuat prasangka gender tradisional bahwa pemikiran perempuan selalu diburamkan oleh keterharuan hati.

Rosa Luxemburg, Hannah Arendt, Simone de Beauvoir, dan Sheila Benhabib justru membuktikan bahwa pemikiran perempuan tak kalah tajam, analitis, dan agresif dari pemikir laki-laki. Membaca cara Iris Murdoch menyembelih pengandaian Kant, Sartre, dan Hare tentang a foot-lose, solitary, substanceless will adalah suatu kenikmatan intelektual istimewa!

Lalu, mengapa pemikiran perempuan dianggap dekat dengan pandangan bahwa "filsafat hanya sebuah teks" (Derrida)? Adalah Iris Murdoch yang, dengan bertolak dari Plato (tokoh "logosentrisme" itu), membongkar keanehan sebuah filsafat yang membanggakan diri bahwa ia tidak bisa tembus sampai ke kenyataan sendiri.

Jadi, argumen bahwa filsafat perempuan akan membawa segi-segi yang sampai sekarang dilalaikan ke dalam filsafat perlu ditangani dengan hati-hati agar tidak menjadi gol bunuh diri. Bisa juga para filsuf yang maunya feministik sudah ditinggalkan oleh—sekarang sudah ratusan—filsuf perempuan profesional yang tidak mau berfilsafat secara feministik, melainkan hanya berfilsafat, dan justru karena itu sepenuhnya masuk dalam diskursus filsafat kontemporer. Adalah jasa Gadis bahwa ia mempersoalkan konslet-konslet feministik semacam itu.

Tentu, buku ini tidak lepas dari pelbagai kesalahan yang perlu diperbaiki dalam cetakan berikut. Misalnya: gambar sampul depan tentu "la penseuse", bukan "la panseuse". Juga Martin Heidegger tidak pernah menjadi "anggota komunis" dan ia tidak terpengaruh oleh "kebangkitan sosialisme", melainkan nasional-sosialisme. Di edisi berikut, daftar isi sebaiknya dirinci, bukan hanya judul bab, karena kekayaan bahasan kemudian langsung terpaparkan bagi pembaca.

Terakhir, kesimpulan saya jelas: membaca buku ini wajib hukumnya bagi mereka yang mau omong filsafat di Indonesia.

Franz Magnis-Suseno (guru besar filsafat di STF Driyarkara, Jakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
Tangker Pertamina Terbakar - 25 Jul 2008 | 17:59 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data