Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 37/XXXII/10 - 16 November 2003
   
Musik

Hamburger dan Nasi Pecel

Kelompok jazz asal Jerman, Pata Masters, berkolaborasi dengan grup Kua Etnika. Perbedaan nada dasar jadi persoalan utama.


PERKAWINAN itu mungkin tak pernah terjadi. Di atas panggung, sebuah saksofon mencoba menggapai garis melodi yang baru saja diguratkan oleh sebuah tembang Jawa. Tapi instrumen di tangan Norbert Stein itu kemudian seakan-akan terbang, meninggalkan deretan nada pentatonis gamelan yang bergerak perlahan bagai aliran sungai cokelat pembawa lumpur di bawahnya. Saksofon Norbert Stein menyemburkan not-not yang berloncatan dari titik tertinggi ke titik yang berjarak satu oktaf di bawahnya. Seraya menaburkan titik—not-not yang punya durasi sekejap—ketimbang menorehkan garis melodi lain.

Jiwa, karya Norbert Stein, panglima grup jazz asal Jerman, Pata Masters, akhir bulan lalu dimainkan bersama kelompok asal Yogyakarta, Kua Etnika, di Graha Bhakti Budaya, Jakarta. Dua tahun lalu, Stein mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa di Jakarta. Dari situ, lahirlah Jiwa, nomor musik dengan permainan saksofon yang meloncat-loncat. Tidak begitu jelas, apakah ia sengaja menggunakan bahasa musikal itu buat melukiskan gangguan skizofrenik, keterpecahan pikiran, kepribadian, ketidakruntutan pikiran. Yang terang, ada segelintir penonton seolah-olah merasakan sesuatu yang janggal: seperti cita rasa setangkup roti hamburger dalam nasi pecel.

Perkawinan si Barat dan si Timur, diatonis dan pentatonis, mungkin tak pernah terjadi. Ada perbedaan nada dasar yang sekonyong-konyong siap menghambarkan pertemuan, menggagalkan penyatuan. Memang, akhirnya Norbert Stein "menemukan" segaris melodi yang pas: satu rangkaian nada istimewa yang tidak menimbulkan rasa bosan jika dimainkan berulang-ulang. Tapi jazz yang ditampilkan dalam pertunjukan musik bertajuk Patra Java itu, paling tidak, telah mendekatkan keduanya.

Kita tahu, jazz sebuah dunia yang terbuka, inklusif. Ada kerangka sebuah lagu, namun setiap musikus bisa memainkan instrumen secara akrobatik di sekitar kerangka itu. Seiring dengan perguliran sang waktu, tampaklah bahwa suara instrumen-instrumen itu mengalir bagaikan mengikuti suatu garis petunjuk, kendati mereka tidak selalu mengikuti garis itu. Mereka meloncat-loncat, menari, jungkir balik—semuanya bersifat improvisatoris, tapi tidak saling merusak.

Sering suara-suara itu seolah begitu kacau, namun bukan karena lepas kendali, melainkan karena mereka memang mempermainkan ketertiban, bermain-main dengan keharusan, bercanda dengan peraturan musikalitas. Tentu saja permainan dengan kekacauan ini hanya bisa dilakukan oleh para musikus yang sudah beres dengan urusan kesempurnaan teknis. Alhasil, jazz telah menyiapkan sebuah setting sempurna, namun penyatuan yang diharap Djadug Ferianto, pucuk pimpinan Kua Etnika, dan Norbert Stein, ketua Pata Masters, tak kunjung nongol.

Cita rasa hamburger dalam nasi pecel—atau sebaliknya—mungkin kita jumpai dalam Jiwa, tapi tidak dalam Dialog. Di sini teritori tiap musikus dihormati. Tatkala Ugal, Pemade, dan Reyong memainkan demung, saron, bonang, gempul-gongnya, seketika bass-slidrums dan deep mallet di tangan Matthias von Welsk undur diri. Seraya memberikan ruang bagi koleganya. Begitu pula halnya Djadug dan Norbert Stein yang sama-sama memainkan instrumen tiup. Nomor-nomor di luar Dialog, seperti Jiwa, I-Ging Kersan, Code Carnival, Wulang Sunu, Speak of Yomm, Tukang Pijet, Juzzla Juzzli punya masalah dengan perbedaan nada dasar.

Perpaduan itu mungkin tak pernah—lebih tepat lagi, jarang—terjadi. Permainan gamelan Jawa-musik modern yang padu pernah diperlihatkan Barbara Benary, dengan kelompoknya, Son of Lion. Dalam karyanya yang berjudul Vancouver, jazz berjalan beriringan dengan gamelan bergaya sampakan. Musikus-komponis Sapto Rahardjo juga pernah bereksperimen menggabungkan musik gamelan Jawa dengan musik modern. Penggabungan diatonis-pentatonis bukan hal baru. Namun dibutuhkan suatu komposisi yang matang untuk mendatangkan bunyi yang istimewa sekaligus mencerahkan.

Idrus F. Shahab, L.N. Idayanie


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data