Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Laporan Utama

Kiai Waskita dari Tanah Jawa

Mereka dinilai punya kemampuan khusus, terutama dalam menafsirkan iktikad (politik) seseorang. Inilah profil beberapa figur kiai yang berperan sebagai penyangga moral bangsa. Mengapa mereka berpolitik?

Kiai Abdullah Abbas

81 tahun, Pesantren Buntet, Cirebon

Kiai Abbas dikenal ratusan santrinya sebagai ahli hadis. Tengoklah, saban sore, di rumahnya yang sederhana yang dihuni bersama ratusan santrinya yang mondok di Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat, berjajar ratusan santri, siap menyimak pelajaran hadis darinya.

Di luar pesantren, orang mengenalnya sebagai penasihat spiritual Abdurrahman Wahid saat menjabat Presiden RI.

Namanya mulai dikenal publik tatkala Gus Dur hendak dicalonkan sebagai presiden oleh Poros Tengah pada Sidang Umum MPR 1999.

Konon, Mbah Abbas merupakan satu dari sedikit kiai sepuh yang punya dimensi supernatural yang lebih tinggi dibandingkan dengan kiai umumnya. Bersama Kiai Abdullah Faqih (Langitan, Tuban, Jawa Timur) dan (almarhum) Kiai Abdullah Salam (Pati, Jawa Tengah), konon, Kiai Abbas disebut-sebut sebagai "penyangga masyarakat Jawa".

Tak ayal, ucapan mereka selalu menjadi rujukan umat Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan Abdurrahman Wahid, presiden kala itu, menempatkan mereka dalam posisi yang sangat terhormat dan sangat ia hormati. Itulah sebabnya, pada 27 September 1999, di rumahnya digelar pertemuan yang dihadiri antara lain Amien Rais, Fuad Bawazier, Gus Dur, Alwi Shihab, dan sejumlah kiai penting NU untuk merembuk pencalonan Gus Dur. Para kiai yang hadir setuju. Rupanya, Amien Rais bisa meyakinkan mereka bahwa Gus Dur merupakan satu-satunya figur yang bisa menyelamatkan bangsa.

Tapi kewaskitaan Kiai Abbas muncul. Ia menjadi satu-satunya orang yang tetap meragukan iktikad baik Poros Tengah. "Saya enggak percaya kepada mereka. Dan nyatanya terbukti Gus Dur didongkel," katanya. Cuma, katanya, musyawarah tetaplah yang nomor satu. Karena itulah saat itu ia akhirnya luluh, memberikan restu bagi pencalonan Gus Dur. "Musyawarah harus didahulukan ketimbang istikharah," ujar sesepuh Pondok Pesantren Buntet ini kepada TEMPO suatu ketika.

Bagi bekas presiden yang kini menjadi Ketua Dewan Syuro PKB itu, Kiai Abdullah Abbas menjadi satu dari segelintir kiai yang disegani bukan karena kewaskitaannya, tapi lebih pada sikapnya yang bersahaja dan selalu menempatkan diri pada kepentingan umat. "Saya sangat hormat kepada beliau. Soal waskita atau tidak, saya tidak tahu. Yang saya tahu, beliau itu kiai yang selalu mementingkan umat, bukan dirinya sendiri," ujar Gus Dur kepada TEMPO.

Lahir di Cirebon pada 1922 (tanggal dan bulannya ia tak ingat), Abbas muda sebenarnya tak pernah bercita-cita menjadi kiai. Pada masa revolusi fisik, terutama awal kemerdekaan, Mbah Dullah, demikian ia biasa dipanggil di lingkungannya, malah memilih aktif menjadi anggota pasukan Hisbullah dan aktif di TNI. Pada 1950, saat berpangkat letnan muda, ia memilih keluar dari TNI dan menjadi guru di madrasah aliyah di Cirebon hingga 1980. Inilah dunia yang kemudian mengantarnya menjadi seorang kiai hingga kini.

Pada masa kecil, ia melanglang buana ke berbagai pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia pernah berguru kepada Mbah Maksum di Pesantren Lasem, Jawa Tengah, lalu Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri?dua-duanya di Jawa Timur. Ihwal berpolitik, Kiai Abbas berprinsip, ulama merupakan salah satu kelompok terdidik, sehingga wajar kalau mereka terjun ke politik guna kemaslahatan umat dan bangsa. "Jangan untuk ambisi pribadi. Selama itu yang terjadi, Pemilu 2004 juga tak ada artinya bagi rakyat," ujarnya.

Kiai Abdullah Faqih

Pesantren Langitan, Tuban

Gaya bicaranya lembut. Ia hemat bergerak dan tak sembarang mengumbar pidato, apalagi komentar kepada pers. Alerginya kepada pers bermula ketika sebuah koran milik NU memelintir ucapannya tiga tahun silam. Sejak saat itulah, menurut Abdoellah Thoyyib, Kepala Kantor Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Abdullah Faqih ogah bersentuhan dengan pers. Popularitas Kiai Faqih menanjak setelah ia memimpin para kiai beristikharah pada September 1999 untuk mencari isyarat langit soal pencalonan Gus Dur menjadi presiden pada Sidang Umum MPR 1999.

Kiai Faqih kini memimpin Pesantren Langitan, Widang, sebuah pesantren salafiyah (sangat tradisional) yang berdiri pada 1852 di tepi barat Bengawan Solo, yang membelah Kabupaten Lamongan dan Tuban. Pesantren tertua di Indonesia ini memiliki 5.500 santri.

Selama Ramadan ini, ia harus mengajarkan lima kitab kepada para santri yang mondok pasan?semacam santri kilat. Lima kitab itu adalah Tafsir Jalalain, Bidayatul Hidayah, Kifayatul Adzkiya, Al-Mahdi Wa Asyirotussa'ah, dan Luzumu Ittiba'i Madzahibil'Aimmah. Semua kitab ini diajarkan sejak usai salat subuh hingga menjelang magrib. Karena itu, "Abah tak bisa ditemui untuk wawancara," ujar Thoyyib.

Sikap politik Kiai Faqih terbaca secara tegas ketika ia berbicara dalam silaturahmi alim ulama se-Kabupaten Lamongan, Juli lalu. "Sekarang kita harus kompak mencalonkan Gus Dur. Mengenai jadi atau tidak, itu urusan Allah," ujar Abdullah Faqih saat itu.

Dalam Kaki Langit, majalah internal Pesantren Langitan, edisi I Agustus-September 2003, Abdullah Faqih juga terang-terangan mengakui bahwa ia merasa ikut membidani lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bersama tokoh NU lainnya.

"Sebagai orang tua, kita harus menyayangi anak, tak boleh berharap jasa. Orang tua yang berharap jasa kalah dengan ayam, yang mengerami telur sampai menetas tapi tidak menuntut balasan," katanya.

Kiai Faqih berharap partainya menang pada Pemilu 2004. Sebab, tak ada partai di Indonesia yang dipimpin oleh seorang habib kecuali PKB. "Saya ingat cerita dalam kitab bahwa besok akhir zaman, sebelum Imam Mahdi muncul, dunia akan dipimpin oleh pemuda keturunan Bani Tamim. Bani Tamim itu orang Arab. Entah Pak Alwi atau siapa, yang penting sekarang kita harus kompak mencalonkan Gus Dur. Mengenai jadi atau tidak, itu urusan Allah," katanya.

Kiai Mas Subadar

61 tahun, Pesantren Raudhatul Ulum, Pasuruan

Mas Subadar dikenal sebagai kiai bertemperamen keras tapi lembut hatinya. Pendiriannya kukuh, nyaris tanpa kompromi. Kalau diajak berdebat perkara fikih, jangan tanya. Ia memang dikenal jagonya menelisik kitab dalam forum kajian internal NU, bahtsul masa'il diniyah, yang membahas soal-soal keagamaan. Di majelis kajian kitab kuning itu, Kiai Subadar betah beradu argumen berjam-jam, sedari pagi hingga malam.

Di tengah kesibukannya mengasuh pesantren, Kiai Mas Subadar mengaku masih sempat "berpolitik" yang dianggapnya sebagai bagian dari amar ma'ruf nahi munkar. Cuma, anehnya, ia tak pernah mau menjadi pengurus. "Beliau memang tidak mau menjadi pengurus partai, bahkan sejak era PPP,"' kata A. Mudjib Imron, Ketua NU Pasuruan.

Kiai Mohammad Subadar atau biasa dipanggil Kiai Mas Subadar adalah cucu Kiai Ali Murtadho, pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, yang berdiri pada 1881. Ilmu agamanya diperoleh dengan mondok di Pesantren Lirboyo selama tiga tahun (1958-1961) di bawah asuhan Kiai Machrus dan Kiai Marzuki. Dari Lirboyo, Kiai Subadar ngaji ke pesantren di daerah Kajen, Pati, Jawa Tengah, yang diasuh oleh Kiai Muhamadun, selama 21 hari. Selebihnya, "Saya banyak belajar secara otodidak saja," ujarnya kepada TEMPO.

Politik? Ia sama sekali tak merasa alergi. Bahkan, kata Kiai Subadar, itu adalah bagian dari ibadah jika disertai keikhlasan dan tujuan positif. Motivasinya harus untuk membangun umat, bangsa, dan negara. "Sebab, jika negara tidak baik, perjalanan agama juga akan terganggu. Fokus sebenarnya ya agama. Tapi kan tidak bisa dicapai oleh agama secara langsung," ujarnya.

Meski menghalalkan berpolitik, ia tak pernah mau menjadi pengurus partai. Bahkan kini makin banyak saja tamu partai yang ingin "berkunjung" ke pesantrennya untuk minta dukungan. Tapi, untuk tamu yang sengaja berkunjung untuk urusan beking calon legislatif atau untuk menyokong partai lain di luar garis NU, sikapnya tegas. "Saya tolak," kata Subadar.

Kiai Muhaiminan Gunardho

80 tahun, Pesantren Parakan, Temanggung

Usianya memang sudah 80 tahun. Tapi kondisi fisiknya masih prima dan tampak jauh lebih muda dari usianya. Ia terlahir sebagai putra R. Abu Hasan (Kiai Sumomihardho), yang masih kerabat Sultan Hamengku Buwono II. Ibunya, Hj. Mahwiyah, putri Kiai Badrun, sesepuh Kota Parakan yang juga ulama berpengaruh karena kedalaman ilmu yang dimiliki.

Kini Kiai Muhaiminan Gunardho mengasuh Pondok Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing, Parakan, Kabupaten Temanggung. Namanya kerap disebut Abdurrahman Wahid sebagai kiai yang mendapat tempat di hatinya lantaran "kedalaman ilmu dan kedekatannya dengan umat." Konon, selain menguasai ilmu agama, Muhaiminan dikenal sebagai kiai waskita dan dikelompokkan ke dalam elite kiai khos (khusus) yang punya kemampuan supernatural.

Coba dengar kisah aneh ini?Anda boleh percaya boleh tidak. Ia mengisahkan, ada cerita orang atau kiai melakukan salat Jumat di Mekah, tapi waktu asar sudah tiba lagi di Indonesia. Bukankah ini perkara mustahil? "Ah, itu bisa saja terjadi. Tapi, selama kita masih bisa dengan jalan wajar, ya, kita tempuh cara itu. Kecuali kalau keadaan darurat, tak ada jalan lain, baru kita gunakan (ilmu khusus itu)," kata Muhaiminan.

Soal politik, ia punya sikap tegas: ulama harus tetap pada fungsinya sebagai ulama dan bukan milik partai. "Ulama itu milik umat. Contohnya saya. Orang PDI ke saya, orang PPP ke saya, orang Golkar ke saya, karena semua itu adalah anak-anak saya. Kalau memang tidak cocok dengan syariat, ya, saya katakan apa adanya," katanya kepada Syaiful Amin dari Tempo News Room.

Adi Prasetya, Ivansyah (Cirebon), Sunudyantoro (Tuban), Adi Mawardi (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

40 Napi LP Krobokan Ikut Mencoblos - 09 Jul 2008 | 10:49 WIB
Warga Padangpanjang Pilih Wali Kota - 09 Jul 2008 | 09:17 WIB
Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur - 09 Jul 2008 | 08:24 WIB
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data