Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Laporan Utama

Ulah Para Kiai Nyentrik

Sejumlah kiai NU memiliki kebiasaan nyentrik, kalau tak mau disebut aneh. Ada yang bicaranya tak jelas, ada pula yang punya hobi telanjang dada sambil melamun.

Wajah K.H. Moeslim Imam Rifai Puro, 79 tahun, mendadak berubah galak. Napasnya memburu, nada bicaranya meninggi. Matanya menatap tajam ke arah TEMPO yang menemuinya, Senin silam. "Ora usah wawancara. Sing tak aboti NKRI seisinya (Tidak perlu wawancara, yang saya pikirkan NKRI seisinya). Ke mana nanti arahnya. Komitmen dunia-akhirat!" kata Mbah Lim, begitu pemimpin Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti, Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, ini disapa.

Padahal waktu itu obrolan baru dimulai dengan pertanyaan seputar kiprah kiai-kiai NU menjelang Pemilu 2004. TEMPO pun harus menunggu dua hari untuk menemuinya. Kemarahannya tertumpah seperti air bah, tapi kata-katanya tak bisa dimengerti. Mbah Lim memang cadel. Ia selalu meminta santrinya menemani untuk menjadi penerjemah jika menemui tamu.

Asbak beling di depannya mendadak dicomotnya, lalu dilemparkan. Mbah Lim tiba-tiba mendekati wartawan majalah ini dan menjewer kuping sang wartawan berkali-kali. "Kalau santri-kiai nggladrah (tak jelas), bagaimana nanti NKRI? Kalau santri-kiai sudah bengkok kiblatnya, bagaimana nasib RI dan isinya? Diobok-obok," ujarnya lagi. Tak jelas apa yang dia maksudkan.

Mbah Lim kemudian membeber segepok kertas bertuliskan huruf Arab dan meminta seorang santrinya membacakan. Lembar yang diambil secara acak berisi permintaan agar Gus Dur?panggilan mantan presiden Abdurrahman Wahid?mengatur negara secara adil. Juga harapan supaya semua elemen bangsa bersatu membicarakan masalah negara. "Gus Dur juga harus sadar, jangan karena cucunya Mbah Hasyim (K.H. Hasyim Asyari, pendiri NU). Iso mikir ora (bisa berpikir tidak)?" ujarnya dengan ketus.

Emosinya tiba-tiba sirna berbarengan dengan dering telepon. Ternyata si penelepon cendekiawan Nurcholish Madjid, yang berniat datang ke pesantrennya dua pekan lagi. "Syukur-syukur karo (dengan) Amien Rais," ucap Mbah Lim dengan ramah.

Usai menutup pembicaraan dengan Rektor Universitas Paramadina Mulya itu, ia menulis di selembar kertas. Isinya, mempertanyakan kesiapan Susilo Bambang Yudhoyono berembuk dengan Gus Dur jika Menteri Koordinator Polkam itu menjadi presiden. Demikian pula kesiapan Amien dan Nurcholish untuk melakukan hal serupa.

Memang perilakunya kadang aneh di mata orang awam. Tiba-tiba ia bisa berbicara panjang-lebar tanpa diketahui maksudnya. Karena cadel itulah, makin tak jelas apa maunya. "Anehnya, kalau saya bicara lewat telepon atau dia sedang mengaji, suaranya jelas sekali," ujar Gus Dur, Selasa silam.

Keanehan kadang ditunjukkan dengan pakaian. Seperti saat diwawancarai, Mbah Lim mengenakan sarung dan baju koko warna cokelat. Tapi ia tak memakai peci, melainkan topi pet Banser, satgas NU. Konon Mbah Lim kerap mengenakan atribut militer, misalnya baret merah dan baju loreng, menjelang Soeharto lengser yang diikuti hujatan kepada tentara. Entah apakah itu "pertanda", atau dia hanya ingin kelihatan gagah.

Perilaku aneh itu bukan monopoli Mbah Lim saja. Habib Luthfi, 57 tahun, punya hobi yang bisa dibilang nyentrik. Kiai karismatik asal Pekalongan, Jawa Tengah, ini keranjingan main organ dan menikmati lagu musik klasik karya Beethoven dan Mozart. Waktu-waktu senggangnya tak pernah dilewatkan tanpa jreng, jreng, jreng, main musik. Tiga organ merek Yamaha seri terbaru plus sound system tertata apik di ruang khusus.

Mungkin kegemaran semacam itu tak aneh kalau dimiliki "orang biasa". Tapi Habib Luthfi seorang ahli thariqat (ajaran menuju ke-esa-an Tuhan). Bahkan ia menjabat Ketua Umum Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah, Organisasi Ahli Thariqat NU, selain sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah. Padahal ada sebagian penganut Islam yang mengharamkan menikmati musik, apalagi lagu-lagu Barat.

Pak Kiai juga gemar jalan-jalan. Tiap pagi, dengan mobilnya, ia diantar sopir keliling Kota Pekalongan. Sekitar pukul 11.00, Habib Luthfi yang kelimis ini kembali ke rumah, kemudian tidur sambil menunggu waktu salat zuhur. Tapi, waktu malam, ia sering menerima tamu dari berbagai daerah dengan beraneka keperluan. Dari minta nama anak sampai minta doa agar bisnis lancar jaya. "Rumah ini seperti rumah sakit. Semua orang datang dengan permasalahannya," kata Abdul Karim, santri yang bertugas menerima tamu.

Kiai lainnya, K.H. Maksum Djauhari, yang biasa dipanggil Gus Maksum, punya kebiasaan beda lagi. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, ini punya hobi memelihara binatang buas di rumahnya. Tak pelak, kediamannya di sekitar pesantren di Desa Kanigoro menjadi semacam kebun binatang mini. Burung berkicau, merak, berbagai jenis ikan, orangutan, buaya, dan hewan liar lainnya ada di sana.

Gus Maksum ingin manusia bisa bergaul dengan binatang. Tujuannya, apa lagi kalau bukan belajar banyak dari kehidupan dan perilaku makhluk Tuhan itu. "Selain itu, menjadi hiburan bagi para santri, daripada (santri-santri) kelayapan enggak keruan," ujarnya kepada TEMPO.

Kegemaran memelihara binatang ganas cocok dengan penampilannya yang tampak garang. Perawakannya gagah. Rambutnya gondrong dengan janggut lebat, meski mulai memutih. Jabatan sebagai Guru Besar Perguruan Silat Pagar Nusa, perguruan milik NU, membuatnya makin berwibawa. "Ilmu kanuragannya memang hebat. Saya tahu latihannya, kok," ujar Gus Dur.

Sayang, tubuh lelaki 59 tahun penggemar mobil VW Combi itu kini seperti lumpuh gara-gara sakit asam urat akut. Gus Maksum harus digendong santrinya untuk menemui TEMPO dan mesti berbaring selama wawancara. Tapi ia tetap bersemangat membantu menyembuhkan pemakai narkoba. Sudah lima tahun klinik pengobatan untuk pecandu berjalan mulus.

Ratusan pemuda sembuh total di tangan Gus Maksum. Yang unik, terapinya hanya dengan memberi buah kurma sebanyak-banyaknya kepada pasien. Untuk membantu konsentrasi, pasien diberi kesempatan merenung sambil berkarya di kebun buah belimbing miliknya di lereng Gunung Kelud. Tentu kesibukan mengajar dan menyembuhkan pecandu narkoba tak mengurangi waktunya buat menemui tamu yang tak pernah berhenti datang.

Adapun anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa, Effendy Choirie, punya cerita lain. Ia mengaku terkesan dengan Gus Hamim, yang ditemuinya saat menjadi santri selama delapan tahun di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Gus Hamim adalah adik kandung K.H. Abdullah Faqih, pemimpin dan pengasuh Langitan. "Gus Hamim sangat aneh di mata kami para santri. Kini beliau sudah almarhum," katanya kepada TEMPO.

Kala Effendy remaja, Gus Hamim berusia sekitar 45 tahun. Ia punya kebiasaan berjalan-jalan memutari kawasan pesantren hanya mengenakan sarung. Tanpa baju dan, maaf, celana dalam. Dia tak malu meski auratnya terlihat orang lain karena menggulung sarungnya terlalu tinggi.

Dia cuek saja, tiap malam keluar rumah hanya untuk duduk di pinggir sungai terusan Bengawan Solo sambil merenung. Para santri mengira, Gus Hamim sedang berkomunikasi dengan Nabi Qidir, nabi yang kemampuannya menyaingi Nabi Musa.

Mereka tak berani berkomentar lebih kecuali menganggap keanehan itu se bagai kelebihan sang Gus. Anggapan para santri, kata Effendy, bisa jadi tak berlebihan karena Gus Hamim dipercaya sangat cerdas. "Beliau tidak gila. Wong cerdas sekali kok," ujar Effendy.

Kata Effendy lagi, Gus Hamim hafal dan memahami semua kitab di pesantren itu. Dalam memberikan pelajaran membaca kitab tertentu, si Gus pilih-pilih santri, tapi tak jelas kriterianya. Ia tega memaksa seorang santri belajar membaca kitab, walau sebenarnya santri itu tak sreg. "Sebaliknya, meski santrinya memaksa, kalau beliau tak berkenan, ya, ilmu tak diberikan," tuturnya.

Jobpie Sugiharto, Sohirin (Pekalongan), Imron Rosyid T.R. (Klaten), Dwidjo U. Maksum (Kediri)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data