Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Laporan Utama

"Kami Tak Berani Mendukung Gus Dur"

RUANG pribadi Kiai Idris Marzuki tampak bersahaja. Kamar tanpa meja kursi itu hanya beralaskan karpet. Di sana-sini terlihat tumpukan kitab berbahasa Arab. Di tengah-tengahnya ada dua bantal yang biasa dipakai sang Kiai untuk merebahkan diri seusai mengajar. Bagi seorang ulama ahli kitab kuning seperti dirinya, Ramadan adalah waktu yang sangat sibuk. Dari subuh hingga larut malam, seluruh waktunya dicurahkan untuk mengajari para santri. Selama sebulan, secara khusus ulama kelahiran Kediri, Jawa Timur, 12 Agustus 1940, ini mengkaji kitab Al-Mahdi, Nizamul A'mal, Bahjatul Wasa'il, Nashoiqul Ibad, Dalaa'ilul Khairat, dan masih banyak lagi, bersama para santrinya.

Namun, di sela-sela kesibukannya, putra almarhum Kiai Marzuki Dahlan ini masih bersedia menyisihkan waktu untuk menerima Dwidjo U. Maksum dari TEMPO Kamis pekan lalu di ruang pribadinya untuk sebuah wawancara. "Niki mangke lak mboten dangu-dangu, tho? (ini nanti tidak terlalu lama, kan?)," ujarnya dalam bahasa Jawa halus sebelum wawancara dimulai. Sebab, ulama yang kerap disebut sebagai kiai khos yang menjadi salah satu motor pengkritik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Abdurrahman Wahid ini tak mau terlalu lama meninggalkan kewajiban mengajari para santri.

Meskipun terkesan zuhud, Kiai Idris tak mau ketinggalan informasi. Selama wawancara satu jam sambil lesehan di pagi yang segar itu, seorang santri masuk mengantarkan koran-koran pagi hingga lima kali. Bahkan, menurut para santri, ia pun aktif mengakses Internet untuk mengikuti kabar terbaru dari situs-situs berita. Dengan ucapannya yang datar dan tidak emosional serta banyak menggunakan bahasa Jawa halus, Kiai Idris menjawab pertanyaan TEMPO. Setiap kali selesai menjawab, pengasuh pesantren termasyhur yang terletak di Kediri, Jawa Timur, ini mengakhiri dengan senyum dan tawa. Petikannya:

Pada pertemuan di Lirboyo, September lalu, Kiai Mas Subadar menyatakan ulama akan membuat sekoci jika PKB tak mau mendengarkan tausiah ulama. Benarkah rencana itu?

Itu hanya wujud sebuah reaksi karena ada aksi. Ibarat anak kecil, jika disentil, tentu saja marah. Yang jelas, enggak sejauh itu sikap para ulama. Para ulama bersikap begitu karena mengharapkan Gus Dur tahu diri dan prihatin atas sikapnya. Kami berusaha ngerem perilakunya di internal PKB yang inkonstitusional. Dia gampang mecati orang. Yang lebih buruk, langkah apa pun dalam organisasi juga harus selalu terpaku pada dia.


Bagaimana para kiai melihat kepemimpinan Abdurrahman Wahid, khususnya di PKB?

Di NU itu sebenarnya banyak kader yang bisa diajak bekerja di partai: Hafidz Usman, Ahmad Bagja, Ma'ruf Amin, dan lain-lain. Tapi itu tak dilakukan Gus Dur. Kami ingin kader NU yang bagus itu bisa diikutkan membangun PKB. Kalau ulama, sama sekali tak ingin dimasukkan ke mana-mana, karena tugas kami memang hanya mengajar ngaji.


Kenyataannya?

Justru yang diajak ke PKB orang lain. Itu sangat menjadi keprihatinan kami. Meskipun orangnya baik, bukankah orang seperti Pak Mahfud (Wakil Ketua PKB) dan Pak Alwi Shihab (ketua) itu hakikatnya orang lain karena mereka dulu enggak dari NU? Kemunculan mereka di PKB begitu tiba-tiba. Bahkan Mas A.S. Hikam lebih memprihatinkan karena seluruh warga NU Jawa Timur secara terbuka menolak dia.


Lalu apa yang akan dilakukan?

Sama dengan tausiah kiai terdahulu di DPP PKB. Kami tak mengatasnamakan NU, tapi atas nama ulama dan pesantren serta NU dan PKB.


Tapi, seperti pertemuan para kiai di Batu Ceper itu, bukankah itu langkah politik?

Yang mendorong pertemuan itu, partai yang dimiliki NU harus akhlaqul karimah. Sifatnya amar ma'ruf nahi munkar dan itu tanggung jawab ulama. Jadi, bukan gerakan politik praktis.


Bagaimana sih para kiai memandang keabsahan pencalonan Gus Dur secara fisik?

Secara hukum Islam tidak sah. Kalau secara hukum negara atau pemerintah, saya enggak tahu. Kalau saya pribadi, terang-terangan mendukung Gus Dur sebagai presiden sangat tidak berani. Menurut hukum Islam, orang buta menjadi pemimpin atau presiden itu enggak boleh. Bahkan ada keterangan, jika sudah telanjur dipilih, harus dilepas di tengah jalan. Sebab, bagaimanapun cerdasnya seorang buta, pasti tidak bisa merahasiakan sesuatu.


Mengapa dulu kiai banyak mendukung Gus Dur dan saat dia akan dilengserkan sampai ada tausiah yang dirumuskan di Lirboyo?

Itu konteksnya karena upaya penurunannya sangat tidak konstitusional. Padahal naiknya Gus Dur menjadi presiden kan secara yuridis sah. Yang jelas, sebelum dia menjadi presiden, kami tak pernah mendukung. Tapi, kalau dia bersedia, kami mempersilakannya. Itu hak setiap orang.


Apakah pendapat para ulama ini sudah disampaikan langsung kepada Gus Dur?

Pandangan ini belum pernah kami sampaikan langsung kepada Gus Dur karena kami tidak mentala (tidak tega).


Tapi Gus Dur sudah tahu dan menanggapi santai. Bahkan dia bilang, yang berkumpul di pesantren K.H. Noer Iskandar Sq. itu tidak ada apa-apanya....

Gus Dur memang begitu. Tapi, yang jelas, untuk menyampaikan secara langsung, kami tidak mentala. Sebab, ambisi Gus Dur untuk mencalonkan diri lagi menjadi presiden sangat besar.


Itu ambisi pribadi Gus Dur atau ada dorongan pihak lain?

Menurut perasaan saya, itu murni ambisi Gus Dur, bukan atas dorongan orang lain atau ulama. Dari ulama yang sering bergerak ke luar, enggak ada yang mendorong dia menjadi presiden. Entah kalau Gus Dur punya ulama yang dianggap sebagai gurunya, lantas ia diperintah maju menjadi presiden.


Bukankah selama ini Anda pendukung setia Gus Dur saat menjadi presiden?

Sejak dulu sesungguhnya tak ada ulama yang mendorong Gus Dur menjadi presiden. Dulu Gus Dur menjadi presiden bukan atas dorongan ulama. Anehnya, Gus Dur selalu bilang dia didukung para ulama. Lantas ulama yang mana yang dimaksudkan Gus Dur? Kami enggak ngerti, he-he-he....


Tapi, ketika Gus Dur menjadi presiden, kok direstui?

Para ulama pernah berpikir, jika memang Gus Dur memenuhi syarat undang-undang kemudian dipilih menjadi presiden, ya, dipersilakan. Tapi itu bukan berarti kami mendukung atau menganjurkan.


Bagimana jika Gus Dur bersikeras maju mencalonkan diri sebagai presiden?


Jika nanti PKB tetap mendukung Gus Dur menjadi presiden, kita doakan saja semoga selamat. Yang jelas, kami tak berani mendukung Gus Dur karena itu sama halnya dengan mengingkari pengertian kami sendiri.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data