Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXII/24 - 30 November 2003
   
Media

Merdeka dengan Pagar

Di tangan Wina Armada Sukardi, harian Merdeka diterbitkan lagi. Ada perjanjian tak menjadi corong negara atau partai.


DI rumah mendiang Burhanuddin Muhammad Diah, peristiwa alih tongkat itu terjadi, akhir September lalu. Harian Merdeka, koran tertua di Indonesia yang dirintis B.M. Diah?begini Diah kerap disapa?kini siap berganti pemilik. Herawati Diah, ahli waris Merdeka, menjabat erat tangan Wina Armada Sukardi, di rumah keluarga Diah di Jalan Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Sebagai simbol, satu edisi lawas Merdeka pun bertukar tangan. Di belakang mereka, ada potret besar B.M. Diah lagi tersenyum. Wajah Herawati tampak bungah. Begitu juga Wina Armada, si pemilik baru Merdeka.

Foto itu dimuat pada halaman muka edisi khusus Merdeka, 1 Oktober lalu. Itu memang edisi percobaan, setelah enam tahun harian itu tidur lelap. "Hari itu Merdeka genap berusia 58 tahun," ujar Wina, yang tak lain merupakan adik kandung Laksamana Sukardi, Menteri Negara BUMN dan pemimpin puncak PDIP. Sejak saat itu pula koran yang lahir enam pekan setelah proklamasi RI ini resmi dipegang angkatan muda. Merek Merdeka kini menjadi milik PT Pers Indonesia Merdeka, perusahaan baru milik Wina. Sebelumnya, pemilik sah brand koran itu adalah keluarga B.M. Diah, lewat PT Merdeka Pers.

Sebelumnya, koran bersejarah itu pernah berganti tuan. Pada 1995, saat B.M. Diah masih hidup, koran itu sempat berkongsi dengan Grup Jawa Pos. Kala itu Merdeka dalam keadaan sekarat. Setelah dipoles Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, jantung koran gaek itu mulai berdenyut lagi. Dalam tempo dua tahun, tirasnya pernah melejit sampai 70 ribu eksemplar.

Tapi begitulah. Bisnis memang tak selalu manis. Herawati, istri B.M. Diah, mengatakan, sejak dipegang Grup Jawa Pos, konsep Merdeka berubah total. Beritanya lebih keras dengan judul telanjang. Soal perbedaan konsep itu akhirnya merembet ke manajemen. Singkatnya, kerja sama itu mulai retak setelah B.M. Diah meninggal. Belum lagi soal pembagian saham.

Kongsi pun berguncang. Ujungnya, keluarga Diah berpisah dengan Jawa Pos. Merdeka pun lenyap dari pasar. Tapi Grup Jawa Pos muncul dengan koran berlogo "serupa tapi tak sama", Rakyat Merdeka. "Saya merasa dikhianati," kata Herawati mengenang.

Kini perempuan berusia 86 tahun itu menyatakan tak mau mengulang kesalahan. Dengan Wina, Herawati membuat perjanjian hitam di atas putih. Isinya semacam komitmen agar Merdeka tetap berada di garis nasionalis dengan semangat demokrasi yang kuat. Soalnya, bagi Herawati, dia cukup bangga dengan sejarah Merdeka sebagai koran kritis dan independen. Rupanya gayung bersambut. "Ya, sudah, akhirnya saya lepaskan ke Wina," ujar Herawati. Wina membeli merek koran itu senilai Rp 1,5 miliar.

Wina bukan orang baru di media cetak. Lelaki berusia 44 tahun itu pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Forum Keadilan dan kini punya saham di majalah Matra. Kendati bisnis televisi lebih getol meraup iklan, dia percaya usaha koran di Indonesia masih punya peluang. "Tapi tentu harus media dengan merek kuat," ujarnya. Itu alasannya mengapa dia melirik Merdeka. Koran itu, kata dia, punya nilai sejarah tinggi.

Wina pun tampak serius memompa darah untuk Merdeka. Dia telah menyiapkan duit senilai Rp 45 miliar. "Sebagian besar modal dari saya," ujarnya. Sisanya, sekitar lima persen, dia menggandeng Hendra Gunawan, seorang pengusaha anak mantan karyawan Merdeka (pada 1950-an). Ke- luarga B.M. Diah tak ikut campur lagi dalam bisnis. Mereka juga tak berniat punya saham di kapal baru itu.

Merdeka kini bersiap terbit. Tenaga baru sudah direkrut. Separuh awak redaksi, masih kata Wina, berasal dari karyawan lama. Sebagian lainnya tenaga segar, plus sejumlah wartawan kawakan. Sampai kini, mereka belum punya kantor tetap. Setelah terbit dengan edisi khusus itu, dapur redaksi masih terus diuji coba dan berpindah-pindah. "Masih mencari bentuk yang pas," ujar Wina, "Januari tahun depan, kita mulai terbit."

Wina menolak tudingan masuk ke Merdeka karena punya target tertentu di kampanye pemilu. Maklum, belum apa-apa sudah beredar suara miring bahwa koran ini bakal dijadikan corong PDI Perjuangan. "Meski berhaluan nasionalis, kami koran independen dan profesional," ujar Wina, yang juga baru terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia.

Area itu memang sudah dipagari. Sekurangnya berupa komitmen Wina dengan Herawati Diah, yang terang-terang mengharamkan koran yang didirikan suaminya itu diperalat semata untuk menjadi corong negara atau partai politik mana pun. "Kita belum bisa menilai Wina tepat janji atau tidak. Kan, belum lagi terbit," kata Herawati.

Nezar Patria, Ecep S. Yasa


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data