Berharap Emas dari Angkat Besi Angkat besi masih menjadi andalan peraihan emas di SEA Games 2003. Buah pembinaan berkelanjutan.
|
DI atas panggung kayu yang tak begitu tinggi, Sunaryo memainkan sebatang besi seberat 20 kilogram pada sore yang panas Selasa pekan lalu. Besi sekitar dua meter itu—yang di kalangan lifter (atlet angkat besi) disebut "batangan"—ia angkat dengan kedua tangan ke dada. Selang beberapa detik, ia dorong batangan tadi ke atas kepala. Ia mengulang gerakan itu beberapa kali, sampai butiran keringat mengucur deras dari tubuhnya yang gempal berkilat.
Berikutnya, lelaki 31 tahun itu memasang dua lempeng besi—masing-masing seberat 25 kilogram—pada bulatan besi yang lain. Satu lempeng dimasukkan di sisi kanan dan yang lainnya di sisi kiri. Lalu, dengan kekuatan penuh, ia angkat barbel seberat 50 kg itu ke dada dan lalu ia tolak ke atas kepala. Gerakan ini diulanginya beberapa kali sebelum ia memasukkan lempengan lain untuk menambah beban.
Kali ini lifter asal Jambi itu menambah beban menjadi 90 kg. Setelah beristirahat beberapa menit, Sunaryo melangkah ke salah satu sisi panggung. Ia melumuri tangannya, yang terbungkus sarung tangan tipis, dengan bubuk magnesium, agar cekalannya tak gampang lepas dari batangan. Ikat pinggang ia kencangkan. Setelah itu, ia berancang-ancang dan huup... batangan itu nangkring di dadanya. Ia biarkan beberapa detik, lalu secara bersamaan ia membentangkan kakinya ke depan sembari mengangkat barbel ke atas kepala. "Kaki kurang lebar, Naryo," teriak pelatih Julien Stella Lasut. Teriakan itu terdengar bersamaan dengan dentam barbel yang jatuh menghantam permukaan kayu.
Sunaryo adalah satu dari tujuh lifter putra yang disiapkan Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) untuk SEA Games 2003 di Vietnam, bulan depan. PABBSI juga menyiapkan enam lifter putri. Dalam pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara itu, Naryo bakal turun di kelas 105 kg.
Sore itu, sejak pukul 16.00 WIB, Sunaryo berlatih angkatan clean and jerk bersama dua lifter SEA Games lainnya, Yudi Suhartono (85 kg) dan Tarso (94 kg), di Gedung B Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Sepuluh rekannya yang lain sedang mengikuti kejuaraan dunia se-kaligus babak kualifikasi Olimpiade 2004 di Vancouver, Kanada.
Setelah beristirahat beberapa menit, Naryo kembali menambah beban. Kali ini ia mengangkat barbel seberat 130 kg. Sebelum melakukannya, ia melepas singlet putih yang sudah kuyup oleh keringat. Dengan bertelanjang dada, ia mengangkat barbel itu dengan kekuatan penuh. Seperti sebelumnya, kali ini angkatannya mulus tanpa cela.
Sunaryo diandalkan merebut emas di Vietnam. Bapak tiga anak itu punya modal besar untuk menjadi juara. Ia makin percaya diri setelah meraih medali perunggu dalam Kejuaraan Asia di Beijing, Cina, bulan lalu. Kala itu, total angkatannya 340 kg. Ia mengangkat barbel 150 kg di angkatan snatch dan 190 kg di clean and jerk.
Harapan Naryo bukan tanpa alasan. Mengawali kiprahnya di angkat besi sejak berusia 16 tahun, ia sudah mengukir prestasi emas. Turun pertama kali dalam SEA Games 1991 di Filipina, Naryo langsung menyabet perak kelas 75 kg. Tradisi emas dimulai dua tahun kemudian di Singapura. Kala itu, ia turun di kelas 82 kg. Seiring dengan bertambahnya usia, Sunaryo naik kelas lagi dalam SEA Games 1995 di Chiang Mai, Thailand. Turun di kelas 99 kg, ia kembali menyabet emas. Dua tahun kemudian, di Jakarta, ia mengulang kejayaan itu di kelas yang sama. Tapi, lantaran cedera kaki pada Pekan Olahraga Nasional 2000 di Surabaya, Naryo terpaksa tidak berlaga dalam SEA Games 2001 di Malaysia.
Meski peluangnya besar, andalan Indonesia itu tak mau takabur. Sebab, kondisi kesehatan saat bertanding akan sangat menentukan. Ia juga memperhitungkan atlet dari negara lain yang bisa saja muncul tiba-tiba dan menjadi sandungan. "Atlet Thailand akan menjadi pesaing, tapi Vietnam bisa bikin kejutan," kata karyawan PT Telkom Divisi I Sumatera itu sambil menyapukan selembar handuk ke wajahnya, yang dibasahi keringat.
Sunaryo kini berlatih keras untuk mewujudkan tekadnya. Sore itu ia tak puas hanya mengangkat barbel seberat 130 kg. Setelah beristirahat beberapa menit, ia menambah beban menjadi 150 kg dan berancang-ancang. Dan dengan kuda-kuda yang mantap, ia berhasil meng- angkat barbel itu, yang disambut tepuk tangan rekan dan pelatihnya. Naryo tampak puas. Seulas senyum pun merekah dari bibirnya.
Angkatan itu memang masih lebih ringan dibandingkan dengan angkatan terbaiknya: 190 kg. Tapi itu sudah cukup bagus dalam sebuah latihan rutin. Seperti diakui pelatih Dirdja Wihardja, porsi latihan yang dijalani Naryo dan kawan-kawan sudah disesuaikan dengan kondisi pertandingan yang sesungguhnya. "Kalau bisa, mereka mengangkat barbel seberat angkatan pertama dalam pertandingan," kata Dirdja.
Setelah berlatih angkatan clean and jerk sekitar satu setengah jam, Naryo turun dari panggung. Ia mengambil lempengan besi lainnya dan menambah beban menjadi 220 kg. Kali ini ia melakukan angkatan pull clean. Ia hanya mengangkat barbel sebatas lutut dengan badan tegak. Ia mengulangi gerakan itu beberapa kali sebelum menambah beban menjadi 230 kg. "Latihan ini gunanya untuk memperkuat otot kaki," kata pelatih Julien Lasut.
Setelah 15 menit Naryo berlatih jerk press bersama Tarso dan Yudi, batangan diberi beban 50 kg dan ditaruh di atas meja kayu setinggi pinggang. Dengan bergantian mereka mengangat barbel itu ke atas kepala. Gerakan yang berfungsi menguatkan otot lengan itu mereka lakukan beberapa kali, sampai pelatih menyuruh mereka berhenti. Program latihan sore itu ditutup dengan sit band. Naryo duduk dengan mengangkat barbel kecil di tangan kiri dan kanan.
Bukan cuma target pribadi yang dikejar Sunaryo dan dua rekannya di Vietnam. Ada target besar yang dibidik PABBSI: mempertahankan tradisi juara umum cabang angkat besi. Cabang ini memang selalu menjadi primadona kontingen Indonesia. Sejak SEA Games 1977, angkat besi Indonesia memang selalu menjadi juara umum. Dua tahun lalu di Malaysia, cabang ini menyabet lima medali emas dari 13 nomor pertandingan. Myanmar, yang menjadi pesaing terberat Indonesia, kebagian empat emas, diikuti Thailand dengan tiga emas dan Malaysia dengan satu emas. Prestasi terbaik diukir di Jakarta pada 1997 dengan menyabet delapan emas dari 18 nomor pertandingan.
Sukses ini berkat pembinaan yang berkelanjutan. Setiap tahun PABBSI selalu ruitn menggelar kejuaraan remaja, junior, dan senior. Hasilnya, tim nasional tak pernah kekurangan atlet berbakat.
Dengan prestasi yang stabil, cabang angkat besi bakal kembali menjadi primadona di Vietnam. Kini PABBSI mempersiapkan 13 lifter: delapan orang di Jakarta dan lima lainnya di Pringsewu, Lampung. Menurut pelatih Dirdja, PABBSI memperkirakan peluang Indonesia merebut emas lewat angkat besi sangat terbuka di tujuh nomor putra. Selain pada Sunaryo, harapan digantungkan pada Misdan Yunip (69 kg), Gustar (62 kg), Jadi Setiadi (56 kg), Erwin Abdullah (77 kg), Yudi Suhartono (85 kg), dan atlet yang baru pertama kali ini tampil di SEA Games, Tarso (94 kg). Meski baru pertama kali ikut, Tarso diharapkan mampu merebut emas. "Doakan saya merebut emas," ujar Tarso, atlet asal Nanggroe Aceh Darussalam.
Tapi jangan remehkan rekan-rekan cewek mereka. Enam lifter putri yang disiapkan bukannya tak berpeluang. Rosmainar (48 kg), Citra (48 kg), Supeni (53 kg), Lisa Rumbewas (53 kg), Patmawati (58 kg), dan Tanti Pratiwi (63 kg) tetap berpeluang merebut emas.
Setelah dua jam mengangkat barbel, selepas magrib Sunaryo meninggalkan tempat latihan dengan langkah mantap. Sisa keringat membasahi kausnya. Perhatiannya kini hanya terpusat pada berlatih dan berlatih. "Saya ingin emas karena ini SEA Games terakhir buat saya," ujar Sunaryo.
Sapto Yunus
|