Anak Jalanan Melek Komputer Sekelompok sukarelawan muda mendirikan sekolah dan laboratorium komputer di kompleks Taman Ismail Marzuki bagi anak-anak jalanan. |
Dalam sebuah laboratorium komputer, sejumlah murid sedang asyik ber-chat dengan sesama temannya. Sebagian lainnya sibuk membuka dan menulis e-mail. Ada pula yang tengah berselancar di Internet untuk mencari aneka informasi. Sekitar 35 komputer ada di dalam laboratorium itu, berprogramkan aplikasi perkantoran dari Microsoft lengkap dengan akses ke jaringan Internet. Inikah suasana belajar di sekolah dasar (SD) mewah di Jakarta? Surabaya? Atau Singapura?
Jangan keliru! Suasana di atas berlangsung di SD Negeri 002 Tiban, Kota Batam, Riau. Dibandingkan dengan para murid SD di daerah lainnya, anak-anak Tiban memang beruntung. Sekolah ini merupakan satu-satunya SD dari enam sekolah yang menjadi proyek percontohan nasional "Satu Sekolah Satu Laboratorium Komputer" yang dicanangkan pemerintah pada awal November 2003.
Keberuntungan serupa dicecap murid-murid SD Negeri Manggarai 02 Petang di Jakarta Selatan. Pekan lalu, sekolah ini menerima sumbangan komputer yang dapat mengakses Internet dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Pulau Batam terpilih sebagai proyek percontohan karena infrastruktur telekomunikasinya bagus dan mendapat dukungan kalangan industri di sana, sedangkan Jakarta dipilih oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk menerima sumbangan karena lebih mudah dijangkau.
Namun ada ratusan ribu murid sekolah dasar yang nasibnya tak seberuntung anak-anak SD di Manggarai dan Tiban. Maka syukur kepada sekelompok anak muda di Jakarta yang peduli kepada anak-anak yang kurang beruntung. Anak-anak muda inilah yang menggagas berdirinya Sekolah Anak Jalanan (www.ictwatch.com/saj/) dan Laboratorium Komputer Swadaya. Terletak di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, sekolah yang mengasuh lebih dari 70 anak didik berumur 3 hingga 19 tahun ini berdiri sejak Juni 2002.
Mereka terdiri atas penyemir sepatu, pengamen, tukang parkir, serta anak putus sekolah yang tinggal di daerah Kalipasir, di dekat kompleks TIM. Sekolah Anak Jalanan (SAJ) itu dikelola para sukarelawan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) Era Aku. Menurut Rittar Alfina, salah satu aktivis SAJ, ada tiga program jangka pendek di sekolah ini, yakni orang tua asuh untuk pendidikan formal anak jalanan, belajar musik bagi anak SAJ yang putus sekolah serta yang sudah terlalu tua untuk masuk kelas, dan pemberian makanan bergizi.
"Selain itu, ada pembinaan budi pekerti, contohnya bersikap sopan dan tertib, mencuci piring sendiri sehabis makan, dan mencuci tangan sebelum makan," ujar Rittar. Pendidikan tambahan lainnya adalah pembinaan akhlak. Salah satunya melalui pesantren kilat selama Ramadan. Aktivitas belajar di SAJ diadakan pada setiap Minggu pukul 10 pagi. Namun, selama bulan puasa ini, jam belajar dialihkan ke pukul dua siang hingga petang saat berbuka bersama. Mereka mendapatkan pelajaran tambahan bahasa Inggris, matematika, dan pelajaran lain yang sulit mereka cerna di sekolah formalnya.
Tak sekadar memberikan les tambahan itu, sejak Agustus 2002, sekolah ini dilengkapi laboratorium komputer yang dibangun ICT Watch—Information & Communication Technology Watch—(www.ictwatch.com) dan Jaringan Informasi Sekolah (JIS) Jakarta (www.jis.or.id). Ada tujuh unit komputer bekas yang terpasang di laboratorium SAJ. Komputer-komputer itu diperoleh dari sumbangan perusahaan atau perseorangan (lihat Cara Membangun Lab Komputer SAJ).
Menurut Donny B.U., koordinator ICT Watch—dia juga aktivis di Lab Komputer SAJ—laboratorium komputer ini bertujuan mengenalkan komputer kepada anak didik SAJ. "Misalnya memberikan pelajaran yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi modal dalam bekerja atau mencari kerja," ujarnya. Bagi murid-murid yang lebih kecil, Lab Komputer SAJ memberikan pelajaran menulis dan menggambar sederhana serta pelajaran berhitung memakai peranti lunak yang interaktif.
Menurut Donny, setelah setahun, Lab Komputer SAJ telah menghasilkan beberapa alumni. Di antaranya dua wanita yang kini bekerja di salah satu kafe di kompleks TIM. "Ada sekitar 20 remaja yang menjadi siswa tetap di Lab Komputer SAJ saat itu. Sayang, administrasi masih belum tertata rapi sehingga kami kehilangan jejak mereka," Donny menjelaskan.
Lab Komputer SAJ sempat mengalami masa vakum. Donny mengakui, hal itu sengaja dilakukan untuk menemukan pola, karakteristik pendidikan, juga mencari kelemahan, kekuatan, kesempatan, dan tantangan. "Dengan persiapan yang lebih matang, kita bisa mengurangi kendala yang muncul di tengah jalan," dia menambahkan.
Sejak November ini, kegiatan di Lab Komputer SAJ kembali marak. Bersama sukarelawan SAJ lainnya, tim ICT Watch dan JIS menyusun manajemen pelatihan, modul pelajaran, dan jadwal sekolah serta pembagian jatah sukarelawan pengajar komputer. Murid yang berjumlah 77 orang itu dibagi menjadi lima kelompok usia. Kelompok A adalah anak yang belum dapat membaca serta yang duduk di kelas 1 dan 2 SD, kelompok B anak kelas 3 dan 4 SD, kelompok C anak kelas 5 dan 6 SD, dan kelompok D anak SMP kelas 1 dan 2. Adapun kelompok E diperuntukkan bagi anak SMA, anak putus sekolah, dan yang sudah lulus SMA.
Untuk program ke depan nanti, pendidikan komputer hanya difokuskan pada kelompok D dan E. Menurut Rittar alias Kepala SAJ, mereka sudah memiliki pengetahuan aplikasi Microsoft Word dan sudah menerima pelajaran tambahan komputer di sekolah. "Lagi pula, kalau semua kelompok diajari komputer, itu bakal menghambat kelompok yang sudah siap," ujarnya. Pengajar di SAJ berasal dari beragam latar belakang. Ada mahasiswa, guru, pekerja, dan pengusaha.
Yang tak kalah pentingnya adalah para donatur yang menyumbangkan perlengkapan kelas, buku pelajaran, dan komputer serta makanan untuk perbaikan gizi anak didik. Apa yang dilakukan sukarelawan SAJ sesungguhnya mirip dengan proyek "Satu Sekolah Satu Laboratorium Komputer" yang dilaksanakan pemerintah di Batam, yakni proyek percontohan yang membangun laboratorium komputer agar semakin banyak anak Indonesia yang melek komputer.
Bedanya, proyek percontohan pemerintah membutuhkan infrastruktur dan bantuan kalangan industri, sementara Laboratorium Komputer SAJ dibangun oleh masyarakat secara gotong-royong.
Dody Hidayat
Cara Membangun Lab Komputer SAJ
- Diskusi: Keinginan untuk memberikan pengetahuan mengenai komputer kepada anak didik di Sekolah Anak Jalanan (SAJ). Inilah latar belakang berdirinya Laboratorium Komputer SAJ yang dikelola oleh LSM Era Aku di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
- Komputer Hibah: Information and Communication Technology Watch mendapatkan informasi bahwa Bank Bali akan menghibahkan beberapa komputer bekas. Pendekatan dengan Bank Bali berakhir dengan kesepakatan untuk mengalihkan 10 unit komputer bekas itu ke SAJ.
- Jaringan Komputer: Kerja sama dijalin dengan Jaringan Informasi Sekolah (JIS) Jakarta, yang memiliki kemampuan membangun jaringan komputer tanpa media penyimpanan (diskless). Kabel dan perangkat jaringan disumbangkan oleh perusahaan Corexindo, Jakarta.
- Instalasi: Pada 9 Agustus 2002, tujuh unit komputer berbasis Pentium 1, memori 16 megabyte, tanpa hard disk, dan monitor hitam-putih dapat dirangkaikan menjadi jaringan yang terhubung dengan sebuah server Pentium III bermemori 256 dan hard disk 40 gigabyte sumbangan donatur perorangan.
- Program Aplikasi dan Akses Internet: Jaringan dapat menjalankan
aplikasi perkantoran dan Internet. Tapi SAJ tak punya saluran telepon
yang bisa langsung dial-up.
- Pembaruan Perangkat: Lab Komputer Sekolah Menengah Kejuruan Jaya Wisata II di Kalimalang, Jakarta Timur, menyumbangkan 3 komputer bekas Pentium I memori 32 megabyte, ber-hard disk 4,3 gigabyte, dan bermonitor warna. Sebuah printer deskjet Epson juga disumbangkan donatur anonim.
- Pengembangan: Lab Komputer SAJ merupakan proyek percontohan. Jika ada sumbangan komputer dan peralatan lainnya, dapat dibangun laboratorium serupa di tempat lain.
- Forum Pengembangan: Lab Komputer SAJ memiliki milis (mailing list): absaj@groups.or.id, yang dapat diikuti oleh siapa saja. Melalui milis ini, pengelola Lab SAJ dan anggota lainnya mendiskusikan dan menyusun modul belajar, manajemen pelatihan, penjadwalan, dan implementasinya.
- Open Source: Dari diskusi di milis itu, dibuat semacam jurnal (termasuk modul belajar)—siapa saja boleh membuatnya—bagi yang ingin membangun laboratorium komputer sejenis di mana saja. Tujuannya adalah agar model pengembangan secara gotong-royong ini dapat menyebar.
- Donasi: Uluran tangan dari para donatur yang ikhlas masih dibutuhkan. Siapa saja silakan menyumbang. Jika barang sumbangan itu masih bagus—tapi tak cocok untuk kebutuhan lab komputer—akan dilelang di situs lelang lokal www.amboi.com. Dana hasil lelangnya dipakai untuk keperluan Lab SAJ.
DOD
|