Teka-teki Pembantai Bertopeng Polisi menduga, pembunuhan K.H. Asmuni Ishaq berkaitan dengan konflik bisnis atau keluarga. Tapi kemungkinan motif politik masih terbuka. |
SUDAH dua pekan lebih jasad Asmuni Ishaq ditanam di sebuah kuburan yang sepi di Lumajang, Jawa Timur. Tapi kematian kiai 64 tahun ini masih terus menjadi perbincangan khalayak ramai. Ia dibunuh sejumlah lelaki bertopeng dengan senjata celurit yang mendatangi rumahnya pada dini hari. Mirip perampokan. Hanya, publik jadi geger karena ada yang menyakini Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Anak Cabang Jatiroto, Lumajang ini dihabisi karena alasan politik.
Yang paling lantang berteriak tak lain mantan presiden Abdurrahman Wahid, yang kini menjadi Ketua Dewan Syuro PKB. Ia menyatakan pembunuhan terhadap Asmuni dan seorang kiai di Jember, Jawa Timur, sebagai upaya untuk menggagalkan pemilihan umum tahun depan. "Saya khawatir itu ada kaitannya dengan yang sudah disebut Panglima TNI (Jenderal Endriartono Sutarto) bahwa ada pihak-pihak yang ingin menunda pemilu," kata Abdurrahman alias Gus Dur.
Ingatan orang langsung tertuju pada pembunuhan sekitar 200 orang (separuhnya santri) yang dituduh sebagai dukun santet di Jawa Timur menjelang Pemilu 1999. Hingga kini siapa dalang dan motif pembunuhan berantai itu tidak terkuak dengan jelas.
Sinyalemen Gus Dur segera membuat rumah almarhum Asmuni di Kampung Persil, Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto, Lumajang, tidak pernah sepi. Wartawan berdatangan dan polisi terus mengawasinya. Di rumah itulah pada Kamis dini hari dua pekan silam Kiai Asmuni dibantai. Saat itu, udara cukup dingin karena Desa Kaliboto baru saja diguyur hujan. Ahmad Ivan Syauqi, putra sulung Asmui, baru saja rebahan usai menonton pertandingan sepak bola di televisi. Mendadak dia mendengar suara jendela sisi rumahnya berderak. Lelaki 27 tahun ini mengira sang ayah keluar untuk salat tahajud seperti biasa. Namun beberapa saat kemudian kembali ter- dengar suara daun jendela ruang depan rumahnya dibuka paksa. "Begitu keluar kamar, saya telah dihadang enam orang bertopeng yang mengancam dengan celurit dan mercon banting," katanya.
Kedua adik Ivan, Amil Mujamilah dan Indah Ulinnuha, yang juga terbangun, lantas berteriak-teriak minta tolong karena pelaku lainnya mendobrak pintu kamar mereka dengan ancaman yang sama. Namun terlambat. Hanya dalam hitungan menit, Asmuni Ishaq dan istrinya, Mutmainnah, telah tergeletak bersimbah darah di depan kamar tidur mereka. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, para pelaku itu pun bergegas keluar rumah dan kabur ke arah selatan, menyusuri jalur rel kereta api dan hilang di kegelapan malam. Asmuni tewas dengan luka bacokan di kepala. Adapun Mutmainnah selamat dan kini sudah kembali ke rumahnya. Tak ada barang berharga yang diambil para pembunuh yang mengenakan tudung kepala itu.
Berdasarkan pemeriksaan terhadap sedikitnya 20 saksi dan gelar perkara yang dilakukan pada Selasa pekan lalu, kecurigaan Gus Dur tidak menemukan indikasi. Kepolisian menyimpulkan bahwa motif pembunuhan Asmuni yang diduga di- lakukan enam orang ini murni kriminal. Mereka, kata Kepala Kepolisian Lumajang, Ajun Komisaris Besar Syafril Nursal, mencoba merampok dan karena ketahuan pelaku memba- cok korban. Selain itu, soal penggunaan topeng, polisi menduga bahwa pelaku punya hubungan tertentu dengan korban, sehingga mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Karena itu, polisi mengarahkan penyelidikannya pada percobaan pencurian dengan kekerasan dan pembunuhan dengan perencanaan. "Kami belum melihat ada motif lain," kata Syafril.
Lalu, bagaimana dengan pembunuhan kiai di Jember? Sinyalemen Gus Dur lebih gampang lagi dipatahkan. Kiai yang dimaksud, H. Rofik Nurhuda Sutrisno, warga Dusun Telomuyo, Desa Semboro, Jember dibunuh pada 3 November silam. Sebenarnya ia lebih dikenal sebagai salah satu juragan tebu terbesar di Jember dan bukan pengurus PKB setempat. Ia ditemukan terkapar bersimbah darah di rumahnya menjelang makan sahur. Para pembunuh kemudian membawa kabur sejumlah barang dari rumah Rofiq. Empat pelaku dan seorang penadah barang hasil rampokan sudah ditangkap.
Dari hasil pemeriksaan terhadap Pudjiadi, diketahui bahwa motif mereka tak lain karena Pudjiadi sakit hati gara-gara dipecat sebagai sopir. "Bagaimana tidak diberhentikan, wong dia benar-benar tidak bisa menyetir," kata Ali Fikri, anak korban.
Kalangan PKB Jawa Timur bisa menerima kesimpulan polisi mengenai pembunuhan terhadap Rofik. Tapi kematian Asmuni masih terus menjadi perdebatan. Masalahnya, sejumlah pengurus PKB mengaku diteror. Mereka diancamkan akan "diasmunikan". Ini dialami H.Zainuri Rachman (Ketua DPRD dan Ketua PKB Cabang Situbondo), H. Aqiq Zaman (Wakil Ketua DPRD dan Wakil Ketua PKB Cabang Situbondo) dan Fathorrasjid (Ketua FKB DPRD Jawa Timur) serta sejumlah tokoh PKB dan NU di Jawa Timur lainnya.
Itu sebabnya, polisi masih terus menyelidiki misteri kematian Asmuni, yang sehari-hari juga dikenal sebagai pedagang. Dari hasil pendalaman penyelidikan sejauh ini, menurut Direktur Reserse Kriminal Kepolisian Jawa Timur, Komisaris Besar Sutarman, korban pernah terlibat dalam lima konflik sebelum dibunuh. Polisi menduga salah satu konflik inilah yang mendorong terjadinya pembunuhan Asmuni. Konflik itu antara lain konflik keluarga berkaitan dengan pernikahan putra-putrinya, konflik dalam penyelenggaraan ziarah ke makam Wali Sanga, konflik yang berkaitan dengan manasik haji, konflik bisnis karena tokonya pernah dilempari kotoran oleh orang tak dikenal, dan konflik internal Partai Kebangkitan Bangsa setempat berkaitan dengan penyusunan calon legislatif.
Polisi tengah mendalami berbagai konflik tadi untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat. Dalam soal penyusunan calon legislatif, misalnya, polisi sudah memeriksa Ketua Tanfidziah PKB Jatiroto, H. Husein Cholil. Dari hasil pemeriksaan itu terungkap bahwa Husein mengajukan tiga nama calon, masing-masing H. Soleh, H. Suparman, dan H. Husein Cholil sendiri, ke Dewan Pimpinan Cabang PKB Lumajang tanpa tanda tangan Asmuni. Husein menjelaskan bahwa formulir itu diserahkan ke PKB cabang Lumajang tanggal 24 November dan sudah harus dikembalikan pada 28 November. Husein mengaku tak punya kesempatan meminta persetujuan sekaligus meminta tanda tangan Asmuni. "Saya tidak takut. Saya tidak bersalah," kata Husein.
Komisaris Besar Sutarman mengakui tak mudah mengungkap kasus ini karena minimnya barang bukti dan pengakuan para saksi. Sejauh ini, memang tak ada saksi yang melihat wajah dan mengenali pelakunya. Sejumlah saksi yang diperiksa polisi hanya bisa menyebut postur tubuh para pelaku: ada yang kurus, ada yang gemuk, ada yang hanya memakai celana pendek. Salah satu saksi yang diharapkan bisa mengenali para pelakunya hanyalah Mutmainnah. "Itu pun paling dari suaranya karena mereka semua bertopeng," kata Sutarman.
Paling tidak, polisi sekarang sudah menemukan dua motif yang mengerucut, yakni persaingan bisnis dan dendam pribadi. Dari pemeriksaan para saksi yang berkaitan dengan dua soal itulah, polisi kemudian berhasil mendapat dua nama yang diduga kuat menjadi pembunuh Asmuni. Keduanya orang Lumajang. Tapi, Sutarman tak bersedia mengungkapkan hal-hal apa sajakah yang membuat polisi yakin bahwa pembunuhan Asmuni bermotif persaingan bisnis dan dendam pribadi. "Nanti mereka kabur. Wong, sekarang saja sudah hilang," katanya.
Pernyataan Sutarman kontan dipertanyakan oleh Ketua PKB Jawa Timur, Choirul Anam. "Dendam? Siapa yang dendam, wong Pas Asmuni tak punya musuh. Bisnis? Persaingan bisnis apa, wong tokonya cuma satu," kata Choirul. Kesimpulan yang sama disampaikan Tim Investigasi PKB Cabang Lumajang dan K.H. Syamsul Arifin, kakak Asmuni. Syamsul yakin, itu bukan perampokan karena Asmuni bukan orang kaya. Tokonya di Pasar Randu Agung pun tak begitu besar. Syamsul pun tak percaya Asmuni punya musuh karena orangnya santun. Dia juga meragukan bahwa pembunuhan Asmuni dilatarbelakangi soal penentuan calon legislatif. "Dia bukan orang yang ambisius. Menjadi Ketua Dewan Syuro juga karena ditunjuk masyarakat," katanya.
Siapa yang benar, tak mudah mencari jawabannya. Dugaan Gus Dur pun tidak bisa diabaikan. Misteri ini baru bisa terkuak jika polisi mampu menyergap para pembantai bertopeng itu.
M. Taufiqurohman, Mahbub Junaedy (Lumajang), Kukuh S. Wibowo (Surabaya)
|