Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Peristiwa

Rusuh, Uji Publik Bupati Nabire

INSIDEN berdarah langsung pecah pada hari pertama uji publik dalam proses lanjutan pemilihan bupati 2004-2009 di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, Kamis pekan lalu. Akibatnya, belasan orang terluka, satu di antaranya karena tertembak.

Itu dimulai dari pengepungan gedung DPRD Nabire oleh ribuan warga dari 10 distrik: Topo, Sukikai, Sirimo, Mapia, Kammu, Napan, Siriwo, Wanggar, Yaur, dan Wapa. Menumpang puluhan truk, mereka mendatangi pimpinan Dewan untuk menyampaikan penolakan atas terpilihnya kembali Bupati Nabire, Anselmus Petrus Youw. Sebagai bupati, Youw mereka nilai cacat hukum. Selain ijazahnya diduga palsu, ia dicurigai terlibat korupsi, kolusi, nepotisme.

Tertahan aparat ketika hendak merangsek ke gedung Dewan, warga melemparinya dengan batu. Saat itulah, karena terdorong emosi, satu polisi memukul seorang demonstran. Baku hantam yang kemudian pecah memaksa aparat membuang sekitar 38 tembakan. Selain mengenai pantat Aloysius Tebay, Ruben Magai dan Alpiner Magai juga ikut terluka.

Anggota DPRD Nabire, Daniel Buto, menyesali unjuk rasa lewat pengerahan ribuan warga itu. ”Keberatan waktu uji publik itu harus diajukan kepada panitia pemilihan dengan menyertakan bukti-bukti,” katanya.

Habibie: Politik ’No’ bagi ICMI

MANTAN presiden B.J. Habibie, lewat Rapat Koordinasi Nasional dan Silaturahmi Akbar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), 12-14 Desember 2003 di Jakarta, meminta para anggota ICMI tidak berpolitik praktis. Ia malah mendesak pengurus ICMI yang anggota parpol dan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, DPD, presiden, dan wakil presiden agar mengundurkan diri. ”Itu untuk menjaga netralitas ICMI,” kata Habibie, yang datang sebagai Ketua Dewan Kehormatan ICMI.

Habibie sendiri menolak menjawab saat ditanya wartawan tentang kemungkinan pencalonan dirinya sebagai presiden. ”Belum saatnya menyebut calon presiden kita,” jawabnya.

Lagi, Unsur TNI-Polri Bentrok

BELUM lagi bentrok Kompi C Batalion Infanteri 721 dengan anggota Kepolisian Resor Luwu di Sulasewi Selatan selesai, pertikaian serupa pecah di Mempawah, Pontianak, Kalimantan Barat. Pada kejadian Selasa pekan lalu itu, Sersan Dua Sriyono, anggota Batalion 643/Wanara Kompi Anjungan, tewas tertembak. Rabu esoknya, jenazah korban diterbangkan untuk dimakamkan di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah.

Menurut Komandan Resor Militer 121/Alam Bhana Wanawai, Kolonel (Kav.) Marciano Norman, insiden bermula dari tertabraknya Prajurit Dua Supriyadi dari Batalion 643 di Monton Tinggi, Anjungan, oleh bus Pangakalan. ”Melihat itu, rekan-rekan Supriyadi menyetop truk dan mengejar sopir (bus) yang kabur,” katanya.

Dalam pengejaran, mereka melihat bus itu terparkir di pos polisi lalu lintas di Sei Pinyuh. Tapi, kepada para pengejar, anggota polisi setempat mengatakan si sopir sudah dibawa ke Markas Kepolisian Resor Mempawah. Menyusul ke sana, mereka juga gagal menemukan pengemudi bernama Taufik Badaiman itu. Suasana yang memanas berujung dengan pemecahan kaca jendela dan baku pukul antar-aparat. ”Sebenarnya, sejak di Sei Pinyuh, komandan peleton mereka, Letda Muniram, sudah berusaha meredam, tapi tak sepenuhnya berhasil,” kata Marciano. Muniram pun menyusul ke Mempawah untuk membawa kembali anak buahnya dengan truk.

Saat itulah berdentam senjata api. ”Tembakan itu langsung menewaskan Serda TNI Sriyono dan melukai paha Muniram,” kata Marciano, yang menambahkan saat itu anggota TNI tidak bersenjata. Di pihak polisi, lima orang luka-luka. ”Kita akan menyelesaikan masalah ini dan memprosesnya secara hukum,” janji Panglima Kodam Tanjungpura, Mayjen Hery Cahyana, yang untuk itu berkoordinasi dengan Kepala Polda Kalimantan Barat, Brigjen Iwan Panjiwinata.

Jibril Akan Pulang

MUHAMMAD Iqbal alias Fikiruddin alias Abu Jibril, yang 2 tahun ditahan pemerintah Malaysia tanpa proses, akan dipulangkan ke Indonesia pekan ini. ”Insya Allah, kami akan pulang 21 Desember, bawa bayi. Doakan saja semoga dimudahkan segala urusan,” demikian pesan SMS Fathimah Zahra, istri Jibril, kepada Tempo News Room, Kamis pekan kemarin.

Meski sejak Juli silam telah dibebaskan dari penjara, hingga pekan lalu Jibril masih mendekam di Depo Tahanan Ajil, kantor imigrasi Terengganu. Lelaki yang sempat menyandang tuduhan ”pentolan Jamaah Islamiyah” ini masih terserimpet soal keimigrasian.

Kepulangan Jibril akan disertai dirinya, kata Fathimah, dan putra bungsu mereka, Salahuddin al-Ayubi, 2 tahun. Empat anak mereka yang lain akan dititipkan pada seorang kerabat di Kuala Lumpur. ”Saya sudah pesan tiket,” kata Fathimah lewat telepon, riang.

Kepala Bidang Konsuler Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Supeno Sahid, membenarkan informasi itu. Kalau mereka sudah punya tiket, katanya, ”Kami akan mengeluarkan surat perjalanan laksana paspor untuk mereka.”

Jibril ditangkap aparat Malaysia pada 21 Juni 2001 dengan tuduhan melanggar Akta Keamanan Dalam Negeri (ISA). Dakwaannya: terlibat Jamaah Islamiyah, ingin mendirikan negara Islam, mengirim pasukan ke Maluku, dan ikut perang di Afganistan. Tapi semuanya tak dapat dibuktikan.

Anang Divonis 1 Tahun

MAJELIS hakim memvonis Ajun Komisaris Polisi Anang Sumpena, terdakwa pengeboman Markas Besar Kepolisian RI, satu tahun penjara dipotong masa tahanan (sejak 15 Februari). Meski vonis itu lebih ringan 4 tahun dari tuntutan Jaksa Ramos Hutapea, ia minta naik banding. ”Kalau saya terima hukuman itu, berarti saya mengakui kesalahan saya. Padahal saya tidak melakukan itu,” kata Anang seusai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu pekan lalu. Jika hukumannya lebih ringan pun, katanya, ia tetap akan minta banding.

Majelis hakim yang diketuai Syamsul Ali berpendapat, Anang terbukti melakukan tindak pidana: tanpa hak membuat dan membawa bom rakitan ke Wisma Bhayangkari, Mabes Polri, dan meledakkannya hingga merusak bangunan itu. Ia juga dinyatakan melanggar Pasal 1 ayat 1 UU Darurat No. 12/1951 dan Pasal 187 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Anang mengaku kecewa kepada hakim. Pembacaan putusan, misalnya, terasa aneh karena ia baru membacakan pembelaannya dua hari sebelumnya. ”Artinya, pleidoi saya enggak dianggap.... Jangan-jangan putusan itu sudah diputuskan sebelum pleidoi,” katanya.

’Noordin Top’ Si Tukang Kredit

SETELAH pusing seharian, Mabes Polri akhirnya memastikan Muhammad Nurdin bukanlah Noordin M. Top. Noordin yang warga Malaysia sedang diburu polisi karena dicurigai sebagai pelaku peledakan bom di Bali dan Hotel JW Marriott, Jakarta. Tapi Nurdin yang warga Kampung Pasir Jambu, Hegar Manah, Cianjur, Jawa Barat, telanjur ditangkap polisi pada Kamis siang pekan lalu. Untung, suatu kekeliruan. ”Yang jelas, yang bersangkutan bukan Noordin Mohd Top,” kata Wakil Kepala Divisi Humas, Brigjen Soenarko, Sabtu pagi pekan lalu di Jakarta.

Kecurigaan pada Nurdin dimulai oleh Serda Komar, ketua RT yang juga anggota Koramil setempat. Setelah diamati, warga barunya ternyata mirip Noordin M. Top, yang fotonya disebar di mana-mana. Apalagi di KTP-nya tertera nama Nurdin. Ia juga dianggap ”aneh”—selalu keluar rumah pagi-pagi buta. Merasa mendapat ”kakap”, Polres Cianjur pun mengatur penangkapan dengan melibatkan anggota tim resersenya yang terbaik.

Nah, begitu Nurdin turun dari angkutan umum Kamis sore itu, ia dicokok dan digelandang ke ruang reserse dan kriminal. Mungkin karena kaget, ketika diperiksa Nurdin terus-menerus menangis. Tapi polisi tak merasa salah tangkap. Apalagi di dompet lelaki yang selalu berkemeja lengan panjang itu ditemukan SIM atas nama H. Saleh Zajali asal Yogyakarta, kelahiran 1966, tapi foto diri Nurdin menempel di sana. Demi penyamaran?

Keyakinan polisi kian bertambah. Ketika ditanya lolosnya penangkapan Azahari dan Noordin di Bandung, Oktober silam, Nurdin mengaku lari ke kampus Universitas Islam Bandung, dekat Taman Sari. Nah, kan? Hanya, ketika ditanya kos-kosan tempatnya mondok, ciri-cirinya tak cocok dengan kamar Noordin. Anggota tim antiteror dari Polda Jawa Barat serta dari Mabes Polri pun datang membantu.

Tanda tanya pun muncul. Untuk menjawabnya, tim Mabes Polri mendatangkan Rais. Kakak ipar Noordin M. Top ini tertangkap lebih dulu di Jakarta. Kepada Tempo News Room, sumber di Polda Jawa Barat mengatakan, Rais tidak mengenal lelaki yang mengaku tukang kredit asal Tasikmalaya itu. ”Nurdin itu bukan adik iparnya,” ujarnya.

Sabtu pagi pekan lalu, Nurdin dipindahkan dari Cianjur ke Polda Jawa Barat. ”Polisi akan memeriksa soal KTP dan SIM itu,” kata seorang polisi di Cianjur.

Adik Hambali Hanya Saksi

RUSMAN Gunawan alias Gun Gun, 27 tahun, adik pentolan organisasi Jamaah Islamiyah Hambali alias Encep Nurjaman, bersama lima mahasiswa lain dari Universitas Islam Abu Bakar, Karachi, Pakistan, akhirnya mudik. Ditangkap agen Federal Intelligence Agency (FIA), awal September lalu, ia kini sedang diperiksa Polda Metro Jaya, setelah dideportasi dari Pakistan, Kamis pekan silam. Kelima rekan Gunawan adalah Muhammad Saefuddin, Furqon Abdullah, Ilham Sofyandi, David Pintarto, dan Muhammad Anwar al-Shadaqi.

”Statusnya hanya sebagai orang yang dimintai keterangan,” kata Brigjen Pranowo Dahlan, Direktur VI Antiteror Mabes Polri di Polda Metro Jaya, Jumat petang pekan lalu. Pemeriksaannya, katanya, ”Belum mengarah ke tersangka.”

Aparat Pakistan menangkap keenam mahasiswa ilmu agama Islam itu atas tuduhan terkait terorisme dan perencanaan teror. Khusus pada Gunawan, aparat di Pakistan mencurigai ia menerima kiriman dana dari abangnya, Hambali, US$ 200. ”Gunawan tidak menyebut apakah itu bantuan bulanan,” ujar Temu Alam, Konsul RI di Karachi, yang menemuinya saat itu.

Pemeriksaan polisi di Jakarta terhadap Gun Gun dan kawan-kawan sempat diprotes pengacara mereka. ”Pemeriksaan sebagai apa, pasal apa yang dilanggar?” kata pengacara Akhmad Kholid. Kholid menilai mereka tidak bersalah. ”Mereka dideportasi karena Pakistan tidak menemukan kesalahan pada Gun Gun dan kawan-kawan,” katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

40 Napi LP Krobokan Ikut Mencoblos - 09 Jul 2008 | 10:49 WIB
Warga Padangpanjang Pilih Wali Kota - 09 Jul 2008 | 09:17 WIB
Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur - 09 Jul 2008 | 08:24 WIB
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data