Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Seni

Warna Merah dari Tuhan

Perajin tenun Biboki memperoleh Prince Claus Award. Seni tradisi yang beradaptasi dengan modernitas.

Suatu siang yang terik di Desa Sapaen, Timor Barat, Nusa Tenggara Timur, delapan perempuan sedang asyik memainkan tangannya di atas alat tenun sederhana. Sesekali terdengar obrolan kecil di antara mereka, sementara tiga anak bermain di luar rumah.

Sanggar kelompok Biboki adalah sebuah rumah berdinding batu bata beratap seng, sebagaimana umumnya rumah penduduk Desa Sapaen, 270 kilometer dari Ibu Kota Kupang. Dunia mereka berubah. Soalnya, sepuluh tahun silam rumah penduduk Sapaen hanya berdinding pelepah, beratap ilalang.

Bahkan belakangan, Ahad 14 Desember, di Amsterdam, nama salah satu putri daerah, Maria Yovita Meta, disebut sebagai salah satu pemenang Prince Claus Award. Ia berhak menerima 25 ribu euro. Yovita, 48 tahun, adalah Direktur Yayasan Tafen Pah, yang melakukan pendampingan terhadap perajin tenun ikat di Biboki lewat sanggar Biboki. Hadiah itu akan digunakan buat menyelesaikan pembangunan gedung art center dan gedung koperasi.

Tujuh anggota panitia penyeleksi, termasuk penyair Goenawan Mohamad, memuji kontribusi Yovita. "Tenun Biboki adalah model bagi orang yang berada di luar arus besar, menginspirasi mereka melihat elemen warisan budaya yang diadaptasi ke kondisi modern," bagitu panitia penyeleksi dalam siaran persnya.

Yovita mulai melestarikan tenun ikat Timor pada 1989. Ia cepat menyadari, budaya suku yang terkandung dalam motif itu terancam punah. Berawal dari bantuan delapan perempuan Desa Matabesi, Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, kini Yovita punya 25 kelompok dengan 406 anggota sanggar meliputi 12 desa di Kecamatan Biboki Selatan. Prestasinya dikenal. Ia pula yang memboyong tenun Biboki ke pameran di Museum Northern Territory, Darwin, Australia, pada 1993, dan di India pada 2001.

Motif kain tenun ikat Biboki adalah ungkapan perasaan seni yang dituangkan dalam ikatan motif pada susunan lembaran benang yang telah dihitung secara cermat. Motif dasarnya disebut mak'aif (kaitan) dengan cara mengikat dua kali. Perajin menggunakan material lokal, semisal kulit pohon mengkudu untuk warna merah, daun maol tarum dan lumpur danau untuk warna hitam—teknik kebanggaan masyarakat adat Biboki.

Merah adalah ciri khas yang sangat dominan pada tenun ikat Biboki. "Tuhan memberi warna merah kepada orang Biboki," kata Yovita. Warna kuning, hijau, abu-abu, dan merah muda sebagai pelengkap. "Lewat motif dan warna kain tenun ikat, pasti si pemakai orang Biboki," tuturnya. Jika satu suku mengambil motif dari suku lain, perlu digelar upacara adat sebagai simbol minta izin kepada leluhur.

Yovita mendata 30 motif tenun ikat Biboki. Ada motif yang dikembangkan suku tertentu, semisal motif fut biboeksa untuk acara kematian. Motif ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan Biboki. Ada juga motif fut bokfa, yang dibuat oleh suku Tulasi di Desa Kuluan, Kecamatan Biboki Utara. Kain motif ini hanya boleh dipakai saat suku ini menang perang.

Sebagaimana seni visual tradisi, motif kain ikat Biboki sarat ornamen dengan pola repetitif yang umumnya diambil dari gerakan tari melingkar dan saling mengait sebagai simbol kekerabatan. Ada juga motif burung (fut kolo), motif cecak, motif sapi, dan motif ular yang mengisahkan leluhur orang Biboki berasal dari ular. "Tenun ikat Biboki mengungkapkan bahasa visual yang kompleks, namun kaya akan puisi dan metafora," ujar James Bennet, Kurator Museum Kebudayaan Seni Asia Tenggara Northern Territory, Darwin, Australia, dalam katalog pameran "Tali Ikat Fiber Connection" di Yogyakarta, September 2002.

Perempuan Biboki butuh ketenangan dalam mengerjakan selembar kain. Taplak meja berukuran 150 x 50 sentimeter dengan pola memanjang diselesaikan dalam waktu dua pekan, sedangkan ukuran besar butuh waktu setahun. Ketekunan yang sepadan dengan harganya. Selembar kain Biboki berukuran paling kecil berharga Rp 185 ribu, sementara yang berukuran besar Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. Sanggar Biboki menampung hasil karya anggotanya dan dipasarkan ke luar Timor. Penghasilan perajin pun meningkat: dulu Rp 40 ribu per bulan, kini bisa Rp 300 ribu.

Industri garmen mulai mendesak ke desa-desa di Biboki. Tapi penduduk masih memberi ruang kepada tenun ikat sebagai pakaian adat dalam upacara pernikahan, dikenakan pada orang yang meninggal, upacara penguburan, pesta rumah baru, atau saat menari likurai, bonet, dan gong. "Kini orang Timor Barat berada di simpang jalan antara kehidupan modern dan tradisi," kata Yovita. Tapi, saat pemilik motif tenun Biboki meninggal, ia dikuburkan dengan kain bermotif karyanya. Motif yang sama diwariskan pada keturunannya.

Raihul Fadjri, Jem's de Fortuna (Kupang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

40 Napi LP Krobokan Ikut Mencoblos - 09 Jul 2008 | 10:49 WIB
Warga Padangpanjang Pilih Wali Kota - 09 Jul 2008 | 09:17 WIB
Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur - 09 Jul 2008 | 08:24 WIB
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data