Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXII/29 Desember - 04 Januari 2004
   
Ilmu dan Teknologi

Dari Kekeringan ke Banjir Bandang

Mentari memanggang bumi khatulistiwa sejak Februari. Sebenarnya ini fenomena yang lazim di daratan tropis seperti Indonesia, yang cuma kenal dua musim. Tapi panas kali ini lebih menyengat dari biasanya. Memasuki Mei, kemarau memperlihatkan keperkasaannya. Tanah-tanah retak, air sulit dicari, kekeringan melanda Indonesia.

Hujan yang ditunggu-tunggu tak juga mau jatuh menginjak akhir bulan kedelapan. Masyarakat meronta dicengkeram kegersangan. Puluhan ribu hektare sawah gagal panen. Petani ikan di waduk besar seperti Jatiluhur menderita kerugian miliaran rupiah. Pasokan listrik di Pulau Jawa terancam akibat permukaan air yang terus merosot.

Di Gunung Kidul, setiap hari, truk berisi air bersih hilir-mudik masuk kampung. Penduduk membeli air itu dengan harga gila-gilaan, kadang menukarnya dengan hewan ternak semata wayang. Sedangkan telaga-telaga yang masih berair selalu dijejali antrean manusia dari pagi hingga malam. Di Cirebon, kekeringan memicu konflik antarpetani yang berebut membuka pintu-pintu air.

Hujan yang ditunggu-tunggu baru turun awal September. Tapi curah air cepat mengubah keadaan menjadi bencana. Tanah-tanah yang rengkah dan akar-akar pohon di hutan negeri ini yang sudah tercerabut akibat pembalakan gila-gilaan tak ada yang bisa menahan gelontoran air.

Banjir pun tak terhindarkan. Yang terbesar dalam tahun ini melanda Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Banjir bandang yang terjadi pada September lalu itu menewaskan ratusan jiwa, membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Usai banjir, saling lempar tudingan yang terdengar. Pemerintah dianggap gagal menghentikan laju penebangan liar, sedangkan pemerintah berlindung di balik bencana alam. Apa pun itu, setiap bencana hanya menyisakan penderitaan, tak peduli pada perdebatan siapa salah, siapa benar.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
12/XXXVII/12 - 18 Mei 2008

 

Berita lainnya

Peradi Nilai Todung Mulya Lubis Langgar Etika - 16 Mei 2008 | 17:12 WIB
Pemimpin Agama se Asia Serukan Perangi Terorisme - 16 Mei 2008 | 16:56 WIB
Tunda Usut Korupsi, Kepala Kejaksaan Tinggi Akan Dicopot - 16 Mei 2008 | 16:53 WIB
Korban Lumpur Lapindo Mogok Makan - 16 Mei 2008 | 16:45 WIB
Warga Malaysia Ditangkap Bawa 35 Ribu Pil Ekstasi - 16 Mei 2008 | 16:25 WIB
BUMN Lalu Lintas Udara Dibentuk - 16 Mei 2008 | 16:23 WIB
Intel dan IM2 Bantu Pendidikan - 16 Mei 2008 | 16:22 WIB
Anggaran Infrastruktur Akan Naik 14 Persen - 16 Mei 2008 | 16:20 WIB
Dua Tewas Dalam Pawai Obor Pattimura - 16 Mei 2008 | 16:11 WIB
Purwakarta Padam Listrik - 16 Mei 2008 | 15:56 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data