Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXII/19 - 25 Januari 2004
   
Indonesiana

Indonesiana

Hantu Pocong, Hii...

HANTU pocong sempat membuat warga Desa Kecila, Kecamatan Kemrajen, Banyumas, Jawa Tengah, kalang-kabut dan bertikat. Kuburan pun dibongkar, ternyata....

Kisahnya berawal dari meninggalnya Mbah Tasiyah pada malam Jumat pekan pertama 2004. Nah, beberapa hari kemudian, berembus kabar ada hantu pocong gentayangan, siang dan malam.

Adalah Mario, lelaki tetangga sebelah rumah almarhumah, yang mengaku per- tama memergoki si hantu beberapa malam setelah kematian si Mbah. Saat ia hendak memasukkan sepeda motornya ke rumah, tiba-tiba muncul sesosok bayangan putih. Dan, hii..., dalam hitungan detik, bayangan itu berubah menjadi hantu pocong. Si pocong memintas ke samping rumahnya, dan sap! Lenyap tak berbekas.

Karena amat ketakutan, Mario langsung ambruk. "Kulo wedine pol-polan. Lha wong, mlakune kaya mabur (saya takut sekali, hantu itu melayang seperti terbang)," paparnya dalam logat Banyumasan kepada Ari Aji H.S. dari TEMPO.

Yang bikin rasa takut Mario tambah pol, wajah pocong itu mirip sekali paras Tasiyah. "Saya langsung lari dan memberitahukan keluarganya," ujarnya. Namun cerita hantu gentayangan itu sudah menyebar. Apalagi Tarko, peronda yang bertugas keliling kampung se- panjang malam, juga mengaku melihatnya. Akibatnya, Desa Kecila seperti kuburan begitu malam tiba.

Warga juga bersilang kata. Soalnya, ada yang meminta kuburan almarhumah dibongkar, yang ditentang keluarganya. "Kabar hantu pocong itu sengaja diembuskan orang karena ada yang tidak suka dengan keluarga kami," kata Martodiharjo, salah satu anggota keluarga Mbah.

Akhirnya Kepala Kepolisian Sektor Kemrajen, Inspektur Satu Isfa Indarto, turun berembuk dengan famili almarhumah. Runding punya runding, pihak keluarga akhirnya setuju kuburan Mbah dibongkar. Pada hari H, 7 Januari, pe-kuburan Kejubung pun berubah mirip pasar tumpah. Di bawah bakaran matahari, ribuan warga tumplek-blek, bahkan ada SD yang diliburkan. Soalnya, ilmu pocong belum ada gurunya.

Puluhan petugas polisi juga berjaga-jaga dan memasang pita kuning di sekitar liang lahat. "Agar tak rusuh, kami kerahkan polisi sebanyak-banyaknya," kata Kapolsek. Saat mayat dikerek, para penonton merangsek ke depan. Mereka cuma mau tahu, apa benar arwah Nenek Tasiyah bergentayangan gara-gara tali kain kafannya belum dibuka. Percaya tak percaya, tali kain kafan almarhumah memang belum sempat di- lepas saat ia dikebumikan.

Namun keluarga Mbah Tasiyah tak yakin itu. "Ah, tak mungkin. Mayat tak dilepaskan tali kain kafannya sudah terjadi sering kok. Gak terjadi apa-apa," ujar Martodiharjo.

Bebek Dinas Aktivis

ADA saja cara Rektor Universitas Negeri Surabaya, Profesor Haris Supratno, "mengikat" aktivis mahasiswa. Diberi "bebek".

Jumat 2 Februari lalu, Rektor Haris menyerahkan motor Honda Astrea Supra Fit warna biru kepada Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dian Anshori. Cuma, pelatnya bukan hitam. "Kami sengaja memasang nomor polisi warna merah, agar tak bisa disalahgunakan," ujar Rektor. O ya, biaya bahan bakarnya juga dapat gratis dari rektorat, Rp 150 ribu sebulan.

Pemberian "bebek" yang bisa ngebut itu bertujuan menunjang kegiatan pengurus BEM. Menurut Dian, syaratnya ketat, hanya untuk kepentingan BEM, bukan buat urusan pribadi. Syarat lain, para pengguna harus mematuhi peraturan Menteri Dalam Negeri tentang tata cara penggunaan fasilitas negara. Kalau ketahuan digunakan untuk, misalnya, ngapel pacar? Bisa langsung masuk daftar hitam, "Seperti politikus busuk," ujar mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni eks-IKIP Surabaya itu kepada Agus Raharjo dari TEMPO. Tidakkah pemberian fasilitas dinas itu akan membungkam daya kritisnya? "Tak akan mengurangi kevokalan kami," kata Dian. Yakin?

Namun tak urung Dian menjadi bahan olokan rekan-rekannya. "Di satu sisi mahasiswa butuh kendaraan, tapi di sisi lain pemberian fasilitas itu juga strategi (pemberi) untuk menundukkan mahasiswa," ujar Sekretaris Kabinet BEM IAIN Sunan Ampel, Bustomi.

Belakangan pencurian sepeda motor di Surabaya, terutama di kampus, marak. Lalu dipasangi pengaman jarak jauhkah sepeda motor Dian? Ternyata tidak. Agar kendaraan dan pengemudinya selamat, dua hari setelah diserahkan oleh Pembantu Rektor II Haris Setiono, tunggangan pelat merah milik "pejabat" BEM itu diruwat dulu, dimandikan air kembang tujuh rupa. "Ruwatan ini untuk tolak bala, biar tidak menabrak atau hilang," kata Dian, sang calon sarjana. Yakin?

Ahmad Taufik


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

40 Napi LP Krobokan Ikut Mencoblos - 09 Jul 2008 | 10:49 WIB
Warga Padangpanjang Pilih Wali Kota - 09 Jul 2008 | 09:17 WIB
Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur - 09 Jul 2008 | 08:24 WIB
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data