|
Kurdistan, Sebuah Tanah Air yang Hilang
Terbelah-belah di antara Turki, Suriah, Iran, dan Irak, Kurdistan sejatinya memiliki segala kelengkapan sebagai bangsa: tanah, rakyat, sejarah, tradisi, bahkan para pahlawan. Tapi ia tak kunjung melahirkan tanah air. Maka, bergolaklah warga Kurdi dari masa ke masa, melewati aneka perang serta ikhtiar damai demi kemerdekaan dan sebuah negara. Di Kurdistan Irak, perjuangan panjang kaum tersebut untuk mendapatkan identitas terbaca dengan jelas dalam kekuasaan setiap rezim. Musim dingin ini, pada Desember silam di tengah udara yang menggigit, wartawan TEMPO Rommy Fibri memasuki sejumlah wilayah Kurdistan di Irak Utara. Dia menyaksikan perubahan kehidupan bangsa itu selepas jatuhnya rezim Saddam Hussein. Sejatinya, apa yang membuat mereka mampu bertahan? Benarkah suku-bangsa ini tak pernah berhenti "berjalan", toujours en marche, demi impian akan sebuah tanah air?
Rommy Fibri menuliskan laporannya, dilengkapi oleh Purwani Dyah Prabandari dan Endah W.S. Berikut ini rangkumannya.
|
|
Jatuh-Bangun Pelobi Kurdistan
Menyambangi setiap meja di Washington, Teheran, Tel Aviv, dan kota-kota lain. Sejarah yang penuh penindasan, pengabaian, dan penculasan.
|