Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXII/09 - 15 Februari 2004
   
Buku

Selamat Datang, Faiz dan Izzati

Dua penulis cilik menguak jagat sastra Indonesia. Oase di tengah gersangnya "sastrawan" kecil yang cukup memikat.

Untuk Bunda dan Dunia

Penulis: Abdurahman Faiz

Penerbit: DAR! Mizan, Bandung 2004

Kado untuk Ummi

Penulis: Sri Izzati

Penerbit: DAR! Mizan, Bandung, 2004



BUKU Untuk Bunda dan Dunia karya Faiz dan Kado untuk Ummi karya Izzati diterbitkan DAR! Mizan Anak dengan tajuk "Kecil-Kecil Punya Karya" baru-baru ini. Keduanya mengejutkan dan menggembirakan, mengingat mereka baru berumur delapan tahun! Kreativitas dan keberanian anak-anak ini mengagumkan, apalagi kita sadar betapa sulit menemukan buku yang baik dan menarik bagi para pembaca anak.

Kedua puluh sajak Faiz ditulis pada 2003, kecuali sebuah pada 2001 dan tiga lainnya pada tahun 2002. Seperti tecermin dalam judul kumpulan ini, karya Faiz amat menonjol oleh kekayaan hubungannya dengan bunda, dan pemahaman sosialnya yang luas: dari soal "Siti dan Udin di Jalan", "Pengungsi di Negeri Sendiri", tentang anak Irak, kesediaan "mengajari" presiden, koruptor, kekhawatiran akan tirani George W. Bush, kesadaran akan hakikat seorang penulis, hingga Rasulullah Muhammad SAW. Tema dan pikiran yang mengaduk Faiz—walau belum menunjukkan sebuah kecenderungan stilistik dan konsistensi penataan emosi, apalagi pilihan kata—sangatlah mengagumkan. Sebab, amat matang dalam apresiasi, pemikiran, dan kepedulian.

Ketika dia berkata "bunda/ engkaulah yang menuntunku/ ke jalan kupu-kupu" dalam "Jalan Bunda", atau "Engkau adalah puisi abadiku/ yang tak mungkin kutemukan/ dalam buku" dalam "Puisi Bunda 2", dan "Aku menaruh semua mainan/ dan teman di sisiku/ Aku menaruh bunda/ di hatiku/ dekat sekali/ dengan tempat kebaikan" dalam "Menaruh", kita saksikan peran besar bunda dan goresan kuat yang dapat ditancapkannya dalam hidup anak di dunia. Tapi ketika dia melukiskan derita anak, tentang "peluru-peluru itu bicara pada tubuh kami/ dengan bahasa yang paling perih/ dalam "Dari Seorang Anak Irak dalam Mimpiku, untuk Bush", kita disentakkan betapa tak ada lagi jendela yang tertutup bagi perilaku kejam orang dewasa yang merenggut kehidupan anak-anak tak berdosa, di Irak dan Indonesia.

Tulisan Izzati sendiri, dalam bahasa dan logika yang tertata, lincah dan memancarkan kekhasan dunia anak. Ia mengisahkan upaya tokoh Aisyah membelikan sebuah jilbab, hadiah kejutan Hari Ibu bagi ibu yang dicintai dan dikaguminya. Sebagai cerita, karya Izzati berstruktur kuat dengan latar perkawanan dan keluarga yang mudah dikenali dan diidentifikasi pembaca anak, dan dapat dipelajari bahkan diteladani pembaca dewasa. Nilai-nilai baik dalam cerita Izzati secara organis tumbuh dan tampak pada setiap tokoh terlebih dalam upaya Aisyah yang ngotot namun masuk akal, hampir ketahuan. Ia terpaksa berbohong, dengan diselingi sodoran bantuan ayahnya, Abi, yang juga sedang mencari hadiah untuk istrinya.

"Aku sebenarnya ingin berterus terang …, tapi mana bisa! Itu bukan kejutan lagi namanya. Aaah! Mudah-mudahan aku tidak berdosa. Berbohong, sama orang tua lagi!" kata sang tokoh. Kalau karya sastra anak disepakati berisi informasi atau ajaran yang diperlukan bagi pertumbuhan rohani mereka, tulisan Izzati ini telah berlipat ganda mendidik pembacanya: tanpa menggurui karena ia datang dari hati paling dalam seorang anak.

Kedua buku ini mengingatkan saya pada Theresia Citraningtyas dengan bukunya Suara Pagi, yang mengumpulkan baik puisi maupun cerpennya di harian Suara Karya dan Sinar Harapan. Theresia waktu itu berumur lima-enam tahun. Juga Sherly Malinton, bintang film yang juga banyak menulis di Sinar Harapan ketika berumur tujuh tahun. Dan tak lupa Ajip Rosidi, yang telah menulis sebuah novel (kala itu) saat berumur 14 tahun. Anak-anak seperti ini, selain istimewa, juga beruntung ditemukan dan difasilitasi sehingga dapat menelurkan tulisan walau muda usia.

Mereka anak-anak dengan orang tua—selain menjadi teladan—penginspirasi dan pendorong utama. Harusnya, kesadaran seperti itulah yang mendorong sosok seperti majalah Bobo, selaku "orang tua", memiliki "Arena Kecil" dan "Tak Disangka" untuk menampung pikiran dan cerita anak-anak. Dan mereka juga punya kebiasaan menulis buku harian, semacam kebiasaan Anne Frank, yang dapat kita temukan pada setiap anak yang diizinkan menjadi dirinya.

Pertanyaannya, apakah kita mau meneladani jejak para penulis muda ini dengan bijaksana dan memakaikannya pada penciptaan yang berpusat pada anak, menggembirakan, membangun, dan mengembangkannya. Agak berat tanggungan kita, orang tua yang dipuja anak, namun belum memberikan segalanya untuk kebaikan mereka dan dunia. Inilah ranah bacaan anak, selalu tentang anak dan orang tuanya, tetap membincangkan kehidupan. Selamat datang, Faiz dan Izzati!

Riris K. Toha Sarumpaet, dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data