Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXII/09 - 15 Februari 2004
   
Gaya Hidup

Kemilau yang Terabaikan

Dunia sedang gandrung pada perhiasan dari batu-batuan. Alam pun sudah menyiapkan bahan baku melimpah. Sayang, kita belum menggarapnya.

Awalnya adalah lahar gunung berapi. Gempa vulkanik membuat cairan panas ini mengalir keluar dari perut bumi, mengikis mineral dan aneka makhluk yang menghalangi jalannya. Jutaan tahun kemudian, di antara lahar yang telah membeku, muncul batuan cantik. Ragam warna dan motifnya terentang begitu luas hingga tak ada kosakata yang sanggup menggambarkan dengan sempurna.

Pameran Sae Fine Jewelry di Hotel Mandarin, Jakarta, akhir bulan lalu, memberi bukti. Batu-batu obsidian yang mengkilap hitam dirangkai menjadi bandul kalung yang indah. Dengan perak yang diolah menggunakan teknik hias jawan Bali (orang Barat menyebutnya granulation technique), muncul bintik-bintik putih berkilau di atas batu obsidian. Hasilnya, laksana langit malam yang dihiasi bintang kejora. "Keren banget," komentar Soraya Haque, selebriti dan model yang menghadiri pameran Sae.

Soraya memang penggemar aneka batuan alam, yang pamornya kini sedang naik daun. Hampir di setiap mal, kita menjumpai gerai khusus perhiasan batu-batuan etnik. Semuanya tampil dengan desain yang unik dan segar.

"Buat aku, batu alam itu menampilkan kesan kesegaran, kesederhanaan, dan kemurnian," kata Soraya. Maka, tak perlu heran kalau perempuan cantik berusia 38 tahun ini selalu tampil semarak dengan aksesori bernuansa etnik.

Malam itu pula semangat etnik Soraya menggema. Di tengah pameran yang disponsori Yayasan Helen Keller ini, tempat dana yang terkumpul digunakan untuk memajukan kesehatan anak-anak, mata Soraya berkilatan menikmati aneka perhiasan indah. "Aku naksir yang ini," katanya sambil menunjuk sepasang anting yang diganduli ornamen mata berwarna biru. "Kayak yang ada di film Tomb Raider," kata perempuan berdarah Pakistan ini.

Adalah Irwan Holmes, perancang perhiasan kelahiran Los Angeles, Amerika Serikat, yang menciptakan anting mata biru dan kalung bintang kejora itu. Lelaki 60-an tahun ini pertama kali singgah ke Indonesia pada 1967. "Waktu itu saya jadi hippie," kata Irwan, "Enggak punya uang, tapi nekat berkeliling dunia." Begitu menyaksikan keindahan Indonesia, Irwan muda memilih menjadikan negeri ini sebagai rumahnya.

Irwan bukan sekadar turis. Dia serius mempelajari aneka kebudayaan Indonesia, dari membatik, menari Bali, menari Jawa, sampai mendalang wayang kulit. Tak lupa, sebagai perancang perhiasan, Irwan menggali potensi batu-batu alam Nusantara. Dia menjelajah semua wilayah, dari Lampung sampai Papua, demi mendapatkan segala jenis batu yang ada di perut bumi Indonesia.

Kini, 35 tahun berlalu sejak Irwan pertama kali menapak Indonesia, dia membuktikan bahwa sebutan Nusantara bumi yang kaya memang bukan omong kosong. Tak terhitung jenis batuan—akik (agate), kalimaya (black opal), obsidian, mutiara, juga koral—yang berpotensi menjadi perhiasan indah.

Kekayaan batu alam Nusantara ini juga yang banyak mengilhami perancang perhiasan kelas dunia. Vivianna Torun Bulow Hube, desainer papan atas dari Swedia, umpamanya, kerap menggunakan batuan asal Indonesia dalam ciptaannya. Torun, yang menggebrak jagat perhiasan dengan model rancangannya yang minimalis dan berkelas, juga sempat tinggal lama di pedesaan Banten untuk menangkap spirit alam setempat.

Begitulah, alam telah bermurah hati menyediakan yang terbaik. Sayang, kekayaan batu alam yang melimpah belum digali optimal. "Belum ada satu persen yang kita manfaatkan," kata Irwan. Dunia perhiasan kita masih tertinggal jauh dibanding Thailand, Hong Kong, atau Malaysia. "Kita bahkan juga kalah dibanding Singapura, yang miskin bahan baku," kata Irwan prihatin.

Memang, harus diakui, penggarapan batuan asli Indonesia masih amat minimal. Batu akik, contohnya, hanya dianggap sebagai batu murahan karena diasah ala kadarnya. Walhasil, keunikan dan jiwa yang terkandung di dalam batu tidak menonjol ke permukaan.

Padahal, dengan pengolahan yang baik, akik bisa bernilai tinggi. Memang, butuh kerja keras untuk mendapatkan batu nan indah. Dari sebungkah besar batu akik mentah, hanya akan didapatkan secuil batu dengan motif-motif unik. Teknik pemotongan dan penggosokan pun tak bisa serampangan.

Tapi, hasil yang didapat dijamin sepadan dengan serentetan kerja keras itu. Pajangan dinding dari batu akik dengan motif taman bunga, misalnya, bernilai belasan juta. Begitu pula seuntai kalung dari 26 batu akik yang masing-masing bertuliskan abjad A sampai Z. Batu akik yang paling mahal, untuk penggemar batu di Indonesia, adalah yang bermotif tulisan Allah, Muhammad, atau orang yang sedang disalib. "Harganya bisa ratusan juta rupiah," kata Totot Susanto, kolektor batu alam yang juga pengusaha di bidang teknologi informasi.

Sekarang, bandingkan dengan harga batu akik yang umum bertebaran di kios-kios Pasar Batu Rawa Bening, Jatinegara. Hanya dengan 3.000 atau 5.000 perak, segenggam batu akik bisa kita dapatkan. Warnanya memang aneka rupa, tapi tak ada kecemerlangan yang mengesankan dari batu pasaran ini.

Selain kemasan yang ala kadarnya, orientasi pemanfaatan batuan alam di Indonesia juga masih sarat mitos berbau mistis. Tidak sedikit yang percaya bahwa batu-batu tertentu berkhasiat mendatangkan wibawa, rezeki, juga menolak marabahaya.

Tren batu alam masa kini, Totot melanjutkan, lebih mengarah pada unsur estetika. Orang berburu batu semata-mata demi keindahan yang tidak akan dijumpai pada jenis perhiasan yang lain.

Kalimaya dari Banten, misalnya, adalah primadona yang tengah banyak dicari. Kebetulan, kualitas kalimaya kita terbaik di dunia dan setara dengan kalimaya dari Australia. Batu mungil berwarna hitam ini bisa memancarkan aneka warna-warni yang mengagumkan. Bila dikemas menjadi perhiasan, batu kalimaya bisa berharga puluhan sampai ratusan juta.

Sayang sejuta sayang, kalimaya yang prestisius itu pun belum dikelola serius. Para petani di Banten hanya menjualnya Rp 30 ribu per buah. Padahal hanya butuh sedikit sentuhan untuk menjadikannya produk yang elok bernilai tinggi.

"Kuncinya memang pada pemerintah," kata Irwan. Jika pemerintah memiliki visi dan komitmen kuat, batu-batuan alam bisa menjadi sumber harta yang tak ternilai.

Gunung api dan lahar telah bekerja menciptakan batu-batu yang indah ajaib. Alangkah sayang bila kita abaikan begitu saja.

Mardiyah Chamim


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

JPPR: Pelanggaran Terjadi diberbagai Wilayah - 24 Jul 2008 | 12:22 WIB
Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data