|
Kencan Membawa Sial
SIAL benar nasib Anas dan pacarnya, Lia, masing-masing 20 dan 18 tahun. Maunya berasyik-masyuk di dekat pagar Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, pasangan warga Pasar Kemis, Tangerang, Banten, ini malah kena peras, Kamis 22 Januari silam.
Di hari libur tahun baru Imlek itu, perpacaran mereka mungkin sudah terlalu seru. Akibatnya, mereka didatangi tiga lelaki yang mengaku penjaga Istana Bogor, yang bersebelahan dengan Kebun Raya. Mereka lalu mengancam, kira-kira begini bunyinya: "Awas, gua laporin ke polisi!"
Ibarat keong kena garam, Anas dan Lia langsung ciut. Apalagi, kata para pemeras, adegan mesra itu telah terekam dalam kamera tersembunyi dan akan ditayangkan di layar monitor yang terpasang di setiap pintu masuk Kebun Raya. Malu dan terlebih-lebih takut, pasangan bercinta itu akhirnya menyodorkan uang Rp 100 ribu, dua buah ponsel, perhiasan emas, dan jam tangan.
Keluar lewat pintu masuk I Kebun Raya, Anas dan Lia bertemu Yogi, anggota satuan pengamanan (satpam). "Apakah adegan kencan memang direkam dan ditayangkan lewat monitor di pintu masuk?" demikian lebih-kurang Anas bertanya. Tentu saja si satpam bengong, yang mendorong Anas mengungkapkan kejadian yang menimpa mereka. Sambil menahan geli, seorang rekan Yogi menimpali, "Kami tidak punya kamera tersembunyi, apalagi menayangkan aib orang. Itu bohong."
Yogi rupanya satpam yang tanggap. Ia mengajak dua anggota Brimob meluncur ke lokasi kejadian di dekat Kali Ciliwung, belakang Pos Bayurin, samping kiri Istana Bogor. Sayang, ketiga pelaku telah raib. Akhirnya, Anas melapor ke Polres Kota Bogor. "Ketiganya berbadan tegap, berambut cepak, dan berpakaian safari. Mereka mengaku penjaga Istana Bogor," tutur Anas.
Menurut Kasatserse dan Kriminal Polresta Bogor, Ajun Komisaris Yayan Sofyan, itu kasus pertama yang dilaporkan ke pihaknya. Padahal, kata pedagang di sekitar Kebun Raya, minimal tiga pemerasan terjadi tiap bulannya. Jika terjadi pemerasan, imbau Yayan, "Jangan malu-malu untuk melapor."
Di Kamis nahas itu, cerita Anas, ia mengajak pacarnya itu berkeliling dengan sepeda motor bebek. Setibanya di Kebun Raya warisan Belanda tersebut, mereka sengaja memilih tempat kencan sepi yang bersisian dengan pagar Istana Bogor. Rupanya, pasangan remaja ini tak sadar ada tiga pasang mata yang mengawasi, yang lalu menghampiri mereka. "Saya kaget ketika ketiga orang itu sudah di depan saya," kata Anas, tersipu malu. Ia mengaku jera berkencan di tempat-tempat umum.
Bus 'Kesurupan' di Paiton
BANGKAI bus ternyata bisa bikin orang kesurupan. Ini dialami sekitar 50 mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan dan Perikanan Universitas Hang Tuah, Surabaya, Kamis dua pekan lalu. Saat itu, para mahasiswa angkatan 2002-2003 ini sedang pulang menuju Surabaya setelah mengikuti studi kenal lapangan di Situbondo (Jawa Timur) dan Bali.
Menjelang magrib, bus tumpangan mereka melewati bangkai bus AO Transport, yang terbakar dan merenggut nyawa 54 siswa SMK Yayasan Pembinaan Generasi Muda (Yapemda) I Sleman, Yogyakarta, di Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, 8 Oktober 2003. Tiba di sekitar sana, bus yang mereka tumpangi harus merambat naik karena jalan mendaki tajam. Nah, kesempatan ini dimanfaatkan mahasiswa Anjar memotret bangkai bus maut yang teronggok di pinggir jalan.
Tapi Desyane langsung melarangnya. "Jangan memotret," teriak mahasiswa angkatan 2002 asal Maluku itu, yang mengaku mampu menjenguk dunia lain. "Saat itu saya melihat banyak roh korban kecelakaan menangis dan berteriak minta tolong," tutur Desy.
Tapi larangan Desy, 21 tahun, tak digubris. Anjar tetap memotret, dan, anehnya, saat itu juga Desy kesurupan. Ia mengomel terus dan tubuhnya bergerak tak keruan. Dalam sekejap, lima mahasiswi lain ikut kemasukan. Mereka berteriak-teriak histeris dan akhirnya pingsan. Anehnya, Anjar hanya ketakutan. Ia tidak ikut kesurupan.
Sialnya, pengemudi bus ikut panik. Apalagi hanya ada seorang dosen yang ikut bersama anak-anak asuhannya. Rekan-rekannya yang lain telah mendahului. Bus "kesurupan" itu akhirnya berhenti di sebuah masjid di Paiton, lalu mendaulat seorang kiai agar turun tangan. Setelah Desy dipisahkan dari lima rekannya yang Islam—ia ditangani rekannya yang seiman—doa pun dipanjatkan. Mereka baru siuman setengah jam kemudian. "Saya masih trauma mengingat peristiwa itu," tutur Desy.
Sapto Yunus, Deffan Purnama (Bogor), Agus Raharjo (Surabaya)
|