Seperti Kematian Iswargia Sudarno kembali tampil solo. Sosok yang berani tak mengikuti selera pasar, dan bergulat dengan hal baru: idiom yang gugup, medium yang tak berbatas, dan perkara yang pelik. |
Di penghujung tahun 2003, dua seniman berbakat meninggal dalam sakit dan putus asa: komponis/penyair Saut Situmorang dan perupa Gendut Riyanto. Mereka pergi di zaman yang cuek, ketika orang telah terbiasa dengan keanehan, dengan cerita-cerita tentang seniman yang sedih. Juga yang mati muda.
Tapi, ketika kematian datang dengan muka yang garang, tak mudah mengingat hidup di baliknya. Seperti kata John Steinbeck: You see sir; death is an intellectual matter, but dying is pure pain. Dan kita tersentak, karena hidup terasa berharga. Jadi, penghormatan macam apakah yang pantas: yang melukiskan detik-detik terakhir atau yang mengenang jalan ke sana? Dan bagaimana kalau keduanya sama sakit dan putus asa?
Komponis Tony Prabowo, yang intim dengan keduanyaSaut dan Gendut, dan juga sakit dan putus asadatang dengan 2004: sebuah monolog interior lima menit yang berbicara mengenai sepi yang tak tepermanai. Ada saat-saat yang terasa padat dan menjejal, mungkin karena karya ini begitu pendek (hanya 5 menit). Tapi saya kira ini lebih merupakan problem interpretasi: di beberapa bagian, Iswargia terkesan tergesa dan tak memberi cukup perhatian kepada ruang-ruang hening.
Perlu dicatat bahwa ini merupakan karya pertama Tony untuk pianosebuah instrumen yang tak mudah, bahkan untuk seorang Olivier Messiaen, salah satu komponis yang paling dikaguminya. Terakhir kali Tony menghadapi tema kematian adalah dalam Requiem for Voices and Drums, sebuah tribut kepada polifoni abad pertengahan.
Pada mulanya adalah sejumlah akor, yang bagaikan segenggam bijih, telah mengakar dan menebar jauh: mereka telah menjadi batu sendi pengembaraan musik Tony selama hampir 20 tahun. "Awal tahun 80-an, saya tergila-gila pada Messiaen dan Toru Takemitsu, tapi saya sengaja tak mau membaca partitur karya mereka," kata Tony. Yang ia lakukan adalah mengembangkan telinganya.
Dalam 2004, harmoni bergerak di antara modus mayor/minor dan dodekafoni; antara tenang dan tegang, dekat dan jauh, harapan dan sia-sia. "Bagi saya, ekspresi terletak di antara interval pendek dan panjang," kata Tony mengenai dodekafoni, sistem komposisi tempat 12 nada dalam sebuah tangga nada mempunyai nilai dan perlakuan sama. Apa pun, saya kira Tony tetap beruntung karena musik dan kematian punya semacam ikatan: mereka sama-sama berangkat dari bunyi, dan tergantung padanya untuk menegaskan diri dalam alam bunyi sekitar.
Sebuah komposisi datang sebagai sebuah sikap, sebuah isyarat tunggal, yang dengan sendirinya adalah musik. Jalannya tak mudah: ia semacam ziarah ke jenjang spiritual terendah, tempat apa saja mungkin, dan semua serba tak bernama. Apabila sikap ini mengakar, ia butuh disiram agar tumbuh, sementara sang komponis, seperti kata Arvo Part, "tetap terombang-ambing antara surga dan dunia." Adalah tugas komposisi untuk mencari "sistem" yang terpribadi bagi sikap tersebut.
Secara sadar, percampuran modus dan dodekafoni merupakan siasat Tony dalam mencari "sistem" itu, di sebuah zaman ketika segalanya mungkin, dan ketika "harmoni sudah habis"seperti banyak didengungkan orang pasca-Schoenberg. Hasilnya memang sesuatu yang lebih hangat dan membumi daripada serialisme ortodoks Pierre Boulez dalam Structures I untuk 2 piano-nya yang terkenal, atau semangat eksperimental Stockhausen yang, meski deras seperti mata air yang tak kunjung habis, sering kali menyinggung dan menusuk kuping. Secara pianistis, karya perdana ini juga "cantik": ia memanjakan jari, sekaligus membentangkan medan pemaknaan yang luas.
Saya rasa ada dua hal penting yang memungkinkan ini. Pertama, pemahaman atonalitas Tony selalu bersifat instinktif: ia lebih berlandaskan bunyi ketimbang teori, impresi ketimbang teknik. Tiga tahun yang lalu, komponis ini menyatakan bahwa ia "sudah berhenti menghitung". Kedua, ia telah semakin matang. Sementara lima tahun yang lalu hantu Takemitsu begitu menguasai Requiem for Strings-nya, pada Requiem for Voices and Drums, yang digubahnya tahun lalu, ia telah "menjadi". Tubuh dan jiwa, bumi dan surga, bertemu: ia membuat kita ingin menari, mati dan abadi sekaligus.
Karya kedua, Musica Ricercata, yang dimainkan Iswargia dengan ajek dan terkontrol, terasa tepat. Karya komponis Hongaria, Gyorgi Ligeti, ini merupakan contoh eksperimen awal komponisnya dengan atonalitas. Hasilnya: sebuah perayaan bentuk, tekstur, dan karakter yang tegas dan orisinal. Seperti banyak karya yang telah menyusup ke dalam diri kita, dan hidup di dalamnya.
Laksmi Pamuntjakpianis, pengamat musik, penulis
|