Kisruh 'Voucher' Minyak Saddam Sebuah koran Irak menulis Presiden Megawati dan Ketua MPR Amien Rais pernah menerima hadiah minyak mentah dari Saddam Hussein. Tapi banyak yang meragukan isi laporan itu. |
Terselip di antara 270 individu dan organisasi dalam sebuah daftar, nama dua pejabat Indonesia itu sepintas tak istimewa. Di urutan pertama dalam lajur berkepala "Indonesia" tertulis: "President Sukarno's daughter." Selanjutnya, dalam urutan nomor 4, tertera: "Megawati." Persis di bawahnya ada juga: "Muhammad Amin Rayyis."
Tidak jelas siapa yang disebut Al-Mada—koran baru yang terbit setelah Irak jatuh ke tangan Amerika Serikat—dalam edisi dua pekan lalu itu dengan " President Sukarno's daughter." Tapi kedua nama yang lain cukup mudah diterka: Presiden Megawati Soekarnoputri dan Ketua MPR Amien Rais. Keduanya masuk daftar ratusan orang yang menerima voucher minyak mentah dari bekas penguasa Irak Saddam Hussein, masing-masing sebesar 1 juta barel. Dalam versi yang lain, Australian Broadcasting Corporation (ABC) menyebut Megawati menerima 8 juta barel minyak mentah selama 1999-2002.
Selain keduanya, ada nama putra bekas Presiden Mesir, Khaled Gamal Abdul Nasser, yang mendapat bagian 17 juta barel minyak mentah. Partai Nasionalis Rusia pimpinan Vladimir Zhirinovsky serta Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) juga turut kecipratan. Juga Gereja Ortodoks Rusia. Dari Indonesia ada pula perusahaan minyak Natuna Oil dan Jawa Atlantic. "Sebagian orang dan organisasi itu tak ada hubungannya dengan bisnis minyak," tulis Al-Mada.
Al-Mada menuding Saddam telah menjadikan minyak Irak sebagai bancakan bisnis bagi orang penting yang hendak dirangkulnya. Pemberian minyak gratis itu tentu bukan tanpa iming-iming. Lawan-lawan politik Saddam menuding, Saddam menghamburkan kekayaan alam Irak itu untuk mendapat dukungan internasional atas posisinya yang sedang digoyang aliansi negara Barat. "Dokumen itu," kata seorang pejabat perminyakan Irak seperti dikutip Daily Telegraph, "adalah bukti bagaimana Saddam menghamburkan kekayaan minyak Irak dan menutup mata atas kuburan massal dan ketidakadilan kepada bangsa Irak."
Di dalam negeri, kabar ini segera memancing kasak-kusuk. Soalnya, baik Mega maupun Amien Rais adalah tokoh nasional yang sedang bertarung dalam Pemilu 2004. Betulkah mereka mendapat rezeki nomplok dari Saddam Hussein? Atau ini cuma trik dari lawan politik mereka untuk menggunting keduanya menjelang pemilu?
Al-Mada mengaku data daftar organisasi dan tokoh itu diperoleh dari State Oil Marketing Organization (SOMO), agen resmi minyak Irak semasa Saddam berkuasa. Di era Saddam, lembaga itu andalan pemerintah Irak untuk menjajakan minyak Irak ke pasar dunia.
Middle East Media Research Institute (MEMRI)—lembaga riset yang punya kantor di Bagdad—menganalisis, voucher yang diberikan rezim Saddam itu bertujuan ganda: pertama, sebagai alat sogok kepada individu dan organisasi untuk mendukung rezim pemerintah; kedua, merupakan pengganti uang dalam program Oil for Food—sebuah kebijakan PBB yang memungkinkan Irak mendapatkan makanan dan obat-obatan setelah negara itu diembargo Amerika Serikat pasca-invansi mereka ke Kuwait pada 1990 lalu.
Kemungkinan kedua inilah yang dibenarkan Arifin Panigoro, pemimpin teras PDI Perjuangan, partai yang diketuai Megawati. Arifin membantah Megawati ataupun PDI Perjuangan menerima voucher dari Saddam. Tapi ia mengakui sempat melakukan pembelian minyak ke Irak saat negara itu tergencet embargo ekonomi. Namun, katanya, transaksi itu dilakukan oleh Medco—perusahaan minyak milik Arifin.
Medco, kata Arifin, memang biasa membeli cadangan minyak dari Timur Tengah seperti dari Irak, Iran, Libya, dan juga Asia Tengah. Pada 1999, Medco ikut program Oil for Food. Dari program itu, perusahaan Arifin berhasil mendapatkan minyak hingga 2-3 kali pengangkutan—sekali angkut, kapasitasnya 2 juta barel.
Sebagai kader PDIP, Arifin mengaku pernah berkunjung ke Irak. "Tapi itu kunjungan dari partai ke partai, nothing to do sama (pembelian minyak)," kata Arifin kepada TEMPO, Selasa pekan silam. Kata Sophan Sophiaan, pengurus PDI Perjuangan lainnya, PDIP memang pernah mengutus tiga orang ke Irak, yakni Arifin Panigoro, Sabam Siagian, dan Sophan sendiri. "Kita belajar dari Partai Baath, bagaimana mereka merekrut kadernya." Partai Baath di Arab memang punya kedekatan emosional dengan Megawati karena dulu Presiden Sukarno, ayah Megawati, mendukung partai itu ketika Semenanjung Arab menentang kolonialisme.
Proyek Oil for Food, kata Sophan, memang ditangani Arifin Panigoro sebagai saudagar minyak. Dia hakulyakin, tak ada kontrak atau voucher gratis dengan motif dukungan politik yang diterima Megawati. Dia bahkan berani menjamin Megawati tak pernah menerima voucher itu. "Megawati diundang berkali-kali oleh Saddam, tapi dia belum pernah berkunjung ke Irak," ujar Sophan.
Bantahan serupa datang dari Amien Rais. Dia mengaku sangat kaget namanya disebut-sebut dalam daftar penerima voucher politik dari rezim Saddam itu meski memang mendukung Irak saat negeri itu diembargo AS. Ketika dikonfirmasi, Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu hanya menggelengkan kepala. "Kalau tidak setan, dia itu iblis si tukang fitnah," katanya kepada Anas Syahirul dari Tempo News Room, yang menemuinya saat dia berkunjung ke Jawa Tengah pekan silam.
Pengamat politik Timur Tengah, Riza Sihbudi, melihat isu voucher itu boleh jadi merupakan bagian dari gerakan lawan politik Saddam. "Semakin mereka bisa membuktikan rezim Saddam bobrok," kata Riza, "semakin kuat legitimasi pemerintahan baru bercokol di Irak." Meski begitu, dalam tradisi politik negara dunia ketiga yang kelebihan duit karena minyak seperti Irak, pemberian hadiah bermotif politik adalah sesuatu yang biasa. "Ya, semacam upetilah," katanya.
Nezar Patria, Deddy Sinaga (TNR)
|