Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXII/09 - 15 Februari 2004
   
Olahraga

Perang Ratu Hitam-putih

Justine Henin-Hardenne ngebet menjuarai Wimbledon. Ia mewaspadai kekuatan Williams bersaudara.

JUSTINE Henin-Hardenne langsung berlutut begitu Kim Clijsters gagal mengembalikan servisnya. Dengan kedua tangan ia mengusap wajahnya yang memerah disengat panas terik, bak kepiting rebus . Namun ia tak hirau. Dihujani tempik-sorak ribuan penonton di Rod Laver Arena, Melbourne, Australia, yang balik mengelu-elukannya, petenis putri Belgia itu bangkit sembari mengangkat tinggi kedua tangannya. "Bebanku langsung hilang," ujarnya sembari mengumbar senyum lebar.

Henin-Hardenne, 21 tahun, pantas bergembira. Sabtu siang dua pekan silam itu ia menjuarai turnamen Grand Slam Australia Terbuka 2004. Lagi-lagi, di babak final ia mengalahkan Kim Clijsters, 20 tahun. Dengan kelincahan kaki dan pukulan backhand satu tangan yang dahsyat, ia mengakhiri perlawanan rekan senegaranya itu dalam pertarungan tiga set. Kegembiraan Henin kian sempurna karena ia berhasil mengatasi tekanan dari sebagian besar penonton yang mendukung Kim Clijsters. Maklum, petenis ini kini jadi kesayangan warga Australia setelah ia bertunangan dengan bintang tenis Negeri Kanguru, Lleyton Hewitt.

Inilah gelar grand slam ketiganya dalam delapan bulan terakhir setelah Prancis Terbuka 2003 dan Amerika Serikat Terbuka 2003. Di final dua turnamen itu Henin mengalahkan Kim Clijsters, sahabat lamanya sejak usia 10 tahun.

Wimbledon. Inilah satu-satunya turnamen grand slam paling bergengsi yang belum pernah ia juarai.

Diakui Henin, Venus dan Serena merupakan ancaman terbesar baginya. Dua petenis kulit hitam asal Amerika itulah yang selalu menjegal langkahnya merebut gelar di Wimbledon. Pada 2001 ia gagal setelah kalah dari Venus di final. Tahun berikutnya Venus kembali mengganjalnya. Kali ini di babak semifinal. Tahun lalu giliran Serena yang mengeokkannya di semifinal. "Aku harus mengembangkan permainan di rumput. Aku selalu gagal di sana, karena Venus dan Serena begitu kuat," katanya. Meski begitu, toh, sukses demi sukses kini telah diraihnya. Bisa jadi ia hanya butuh beberapa tahun menaklukkan Wimbledon.

Lahir dari keluarga pencinta tenis, ayahnya Jose Henin dan almarhum ibunya Francoise sangat gemar bermain olahraga jenis ini. Demikian pula dengan dua abangnya, David dan Thomas, serta adiknya, Sarah. Pada 1996 ia sudah mulai terjun ke turnamen senior saat usianya baru 14 tahun. Ia tampil pertama kali dalam sirkuit Federasi Tenis Internasional (ITF) di Mallorca, Spanyol, dan melaju hingga babak kedua. Lalu, hanya dalam dua tahun, pada akhir 1998, Henin sudah menembus peringkat 226 dunia.

Melangkah ke jalur profesional pada awal Januari 1999, ia langsung mencetak debut: juara WTA Tour di Antwerp, Belgia. Pada tahun yang sama, petenis bule ini ikut mengantar Belgia ke semifinal kejuaraan beregu putri Piala Federasi.

Dunia mulai terpukau oleh kemilau si bintang yang mulai naik. Pada 2000, ia sukses menjejak ke babak keempat AS Terbuka dengan mengalahkan si cantik asal Rusia, Anna Kournikova. Kemenangan ini mengantar Henin ke peringkat 50 besar dunia. Prestasinya yang makin mengkilap pada 2001 ditandai dengan lolosnya ia ke babak semifinal Prancis Terbuka. Sayang, langkahnya ke final terhadang sodokan Kim Clijsters.

Pada tahun yang sama, Henin-Hardenne menjadi pemain Belgia pertama yang tampil di babak final Wimbledon. Tapi sayang, ambisinya kandas di tangan musuh, si hitam Venus Williams. Namun ia tetap bergembira karena ia terangkat ke peringkat tujuh dunia pada akhir 2001. Sayang, pada tahun berikutnya, nasibnya tak kunjung membaik. Istri Pierre-Yves Hardenne itu hanya bisa sampai di semifinal Wimbledon. Dan kali ini pun, lagi-lagi Venus yang menghentikannya.

Beranjak ke 2003, bintangnya mulai bersinar. Ia menjadi petenis Belgia pertama yang menjuarai turnamen grand slam setelah merebut gelar tunggal putri Prancis Terbuka, Mei 2003. Lima bulan kemudian, ia menang dalam AS Terbuka. Pencinta tenis pun mulai melirik petenis bertubuh mungil ini. Orang mulai akrab dengan permainannya yang lincah dan bertenaga.

Pada Oktober 2003, Henin mencapai peringkat teratas WTA Tour setelah menjuarai turnamen Swisscom Challenge.

Lalu, bagaimana peluangnya? Pengamat tenis Benny Mailili memperkirakan Henin akan bisa bersaing dengan Williams bersaudara karena kemampuan mereka seimbang. Bahkan, dalam delapan bulan ke depan Henin dan Clijsters masih akan mendominasi setiap turnamen.

Dalam kondisi normal, kata Benny, ada empat petenis putri yang bakal mendominasi sampai dua tahun ke depan: Henin, Kim Clijsters, Venus, dan Serena. Mereka akan bergantian menjuarai sejumlah turnamen. Tapi, dari keempat orang itu, Henin dan Serena yang paling istimewa. Kekuatan mereka luar biasa, baik di pukulan forehand maupun backhand. "Mereka punya kemampuan tinggi untuk meredam kekuatan lawan. Konsistensinya juga tinggi," ucap Benny.

Mereka juga mengembangkan gaya permainan yang tak jauh berbeda, yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan. Hanya, Henin lebih suka terpaku di baseline, sedangkan Serena punya naluri menyerang. Tapi Henin punya senjata ampuh yang tak dimiliki Serena: backhand satu tangan yang keras. Menurut Benny, tak banyak pemain yang punya backhand satu tangan, apalagi yang menggeledek. Selain Henin hanya ada Amelie Mauresmo (Prancis).

Henin tetap mewaspadai Venus dan Serena, meski mereka belum 100 persen pulih. Maklum, dengan kecepatan dan kekuatan dahsyat, dua bersaudara ini telah mendominasi arena tenis sepanjang 1999 hingga 2003. Dalam empat tahun itu, mereka sudah mengoleksi 10 gelar grand slam, Serena enam gelar, dan Venus empat gelar. Bahkan Serena sukses menjuarai semua turnamen grand slam, mulai dari Australia Terbuka, Prancis Terbuka, Wimbledon, sampai AS Terbuka. Sedangkan Venus hanya Wimbledon dan AS Terbuka.

Henin memang harus waspada karena Venus sudah kembali bermain. Dengan kondisi belum pulih benar, si hitam legam ini sudah bisa bertahan hingga babak ketiga Australia Terbuka, dua pekan silam. Takutkah Henin dengan kembalinya keluarga Williams? "Motivasiku semakin tinggi melihat kehebatan mereka," kata pengagum Steffi Graf itu. Nah, mampukah Henin-Hardenne berjaya di Wimbledon? Kita lihat saja.

Sapto Yunus


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data