Bila Sodomi Menular Seorang pria di Cianjur menyodomi 18 bocah laki-laki setelah terinspirasi aksi majikannya. Kebiasaan sodomi "menular" kepada korban? |
Malam tinggal separuh ketika keceriaan perburuan belut di awal musim tanam padi itu berakhir. Obor-obor di pinggir kolam sudah dimatikan. Nasi liwet hangat dan belut goreng sudah berlabuh di perut 14 anak-anak itu. Kenyang dan letih seharian bermain di sawah membuat kantuk cepat menyergap Ujang—bukan nama sebenarnya. Bocah itu terlelap di balai-balai rumah Jaka, tempat mereka berpesta belut. Dinginnya angin malam Kampung Cicadas, Desa Sukamulya, Kecamatan Warung Kondang, Cianjur, tak mengusik Ujang sedikit pun.
Bocah itu baru terbangun ketika ia merasa ada yang menindih dan menggerayangi tubuhnya. Setengah sadar, ia terkesiap melihat Jaka, yang dikenal alim dan dihormati di kampungnya, terus meraba-raba tubuhnya. Ujang kecil berontak, tapi dia cuma anak SD. Tubuhnya terlalu ringkih, dan ia takut ancaman pukulan. Sejak malam itu, koyak sudah seluruh keceriaan Ujang. Tak terhitung pula berapa kali dia menjadi langganan sodomi Jaka.
Selama delapan tahun, petualangan syahwat Jaka itu tersimpan rapat-rapat. Sampai akhir Januari lalu, korban lain—sebut saja Asep—buka suara karena tak sanggup menahan derita. Jaka, yang ditinggal istrinya ke Arab Saudi, pun digelandang ke kantor polisi. Terbukalah sisi kelam si "pelahap" 18 bocah laki-laki—melebihi rekor Robot Gedek, penyodomi delapan anak.
"Tidak semuanya saya sodomi," katanya mengelak kepada koresponden TEMPO, Rana Akbari Fitriawan, di selnya di Polsek Warung Kondang, Cianjur. Wajahnya tampak kuyu.
Lelaki yang sudah tiga kali berganti istri itu bertutur, sodomi mulai merasuki pikirannya ketika ia menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Jeddah, Arab Saudi, pada 1990-1992. "Anak majikan saya sering melakukannya dengan kawan sejenis di depan mata saya. Saya pun sering diajak, tapi saya tolak," katanya.
Adegan live show berulang-ulang itu pelan-pelan membenam di jiwanya, meski Jaka sepulang dari Arab merasa masih seperti pria normal yang cuma berhasrat pada wanita. Baru pada 1996, bayangan adegan syur itu mengantarnya untuk mencucup kenikmatan bersama seorang lelaki tetangganya di Bogor. "Sejak itu, saya ketagihan."
Sensasi baru itu memaksa Jaka selalu memutar akal agar bisa mengundang bocah-bocah tanggung ke rumah dan mengencaninya. Sesekali, dia mengajak mereka ngaliwet—pesta nasi liwet di kebun—dan berburu gurihnya belut. Saat malam kian larut, Jaka akan mengajak calon korbannya yang terkantuk-kantuk menginap di rumah kontrakannya. Agar makin terpikat, dia mengiming-imingi aneka hadiah, dari beberapa lembar uang ribuan hingga yang tak masuk akal: sepeda motor.
"Saya memang puas dengan istri saya. Tapi itu tidak ada apa-apanya dibanding yang saya peroleh dari mereka," katanya polos.
Bagaimana bisa pria beristri—bahkan sampai tiga kali—menjelma jadi monster pedofilia, pelahap anak laki-laki? Sarlito Wirawan, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, yakin orang seperti Jaka itu sangat terobsesi dengan hasrat seksualnya namun tak mampu mencari sasaran yang alami dan normal. Karena itu, ia memilih anak-anak sebagai target yang nyaris tanpa risiko.
Dari kacamata medis, penyimpangan seperti pada Jaka belum diketahui apa sebabnya. "Tak ada jawaban pasti," kata Dr. John Bradford, psikiater dari Universitas Ottawa, Amerika Serikat, yang 23 tahun meneliti gangguan perilaku ini.
Di Jakarta, kasus seperti Jaka juga semakin kerap terdengar. Data di Pusat Data Krisis Terpadu Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menyebut, pada 2002 lalu ada 12 anak laki-laki korban kekerasan seksual. Tahun lalu, jumlah itu meningkat menjadi 18 anak.
Menurut Seto Mulyadi, psikolog yang juga Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, ada banyak sebab mengapa belakangan ini sering terjadi sodomi. Budaya global yang tersebar melalui media cetak, TV, VCD, Internet punya andil memicu orang-orang seperti Jaka. "Faktor imitasi atau meniru itu bisa memicu perilaku menyimpang," kata Kak Seto. Ia lalu menunjuk kasus Jaka, yang terinspirasi aksi sodomi majikannya.
Yang gawat, kata Kak Seto, korban sodomi pun bisa terinspirasi meniru kejadian yang dia alami. "Dari berbagai tes terhadap beberapa bocah korban kekerasan seksual, ada kecenderungan mereka bisa terpicu ingin melakukan hal serupa," ujarnya.
Fenomena "menular"—walau secara medis istilah ini tak dikenal—pada korban sodomi itulah yang muncul pada Robi. Siswa kelas II sebuah SMP di Cilandak itu menyodomi teman-temannya di sebuah rumah kosong. Robi, seperti ditulis Koran Tempo Desember lalu, kepada polisi mengaku melakukan itu karena dia pernah digituin oleh dua preman di Lebak Bulus, Jakarta.
"Kekerasan seksual memang mirip kecanduan alkohol," kata Kak Seto.
Burhan Sholihin
|