Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXII/09 - 15 Februari 2004
   
Teknologi Informasi

Memilih tanpa Mencoblos

Brasil sukses menggelar pemilu tanpa kertas suara. Lebih cepat dan murah.

ANDAI saja para anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) punya waktu pelesir ke Brasil, boleh jadi mereka tak perlu sepusing sekarang. Mereka tak perlu lagi memikirkan 2,2 juta kotak suara yang belum juga beres, padahal pemilu tinggal 55 hari lagi. Mereka cukup mendarat di negeri itu, mungkin sedikit menikmati liukan sensual penari Samba dan entakan erotis irama Latin, lalu, nah ini dia, mencontoh bagaimana Brasil bisa menggelar pemilu tanpa kotak suara. Kertas suara pun otomatis tak lagi perlu.

Pemilu tanpa kertas suara? Benar. Dalam pemilu pada 2002 lalu, untuk pertama kalinya 115 juta warga negeri asal Ronaldo ini tak lagi mencoblos atau menulis pilihannya di surat suara lalu memasukkannya ke kotak. Sebagai gantinya, digunakan alat pemungutan suara elektronik bertenaga baterai.

Semua itu bisa mereka lakukan berkat Urna Eletrônica, sebuah alat yang bentuknya mirip mesin kasir (cash register) di pasar swalayan. Alat kecil ini dilengkapi mesin cetak (printer) yang dipasang terpisah.

Pencipta Urna Eletrônica adalah gabungan perusahaan bernama Unisys dan Procomp, anak perusahaan Diebold Election Systems. Perusahaan ini berkantor pusat di Canton Utara, Ohio, AS, dan jelas bukan anak bawang dalam urusan perangkat pemilu. Buktinya, tahun ini mereka menang tender untuk menyiapkan mesin pemungutan suara elektronik bagi pemilihan umum parlemen, senat, dan presiden Amerika Serikat pada 2 November mendatang.

Kecanggihan Urna diuji ketika 115 juta dari 174 juta rakyat Brasil memilih presiden mereka. Dalam pemilu yang berlangsung dua tahap itu (6 dan 27 Oktober 2002), dikerahkan 300 ribu unit Urna yang tersebar di 252 kota. Hasilnya, pemilu sukses dan Luiz Inacio Lula da Silva terpilih sebagai presiden.

Sistem Urna dirancang khusus untuk kondisi rakyat Brasil yang?mirip kita?masih banyak yang buta huruf. Agar pemilih tidak bingung, mereka cukup menekan angka sesuai dengan nomor calon pilihannya. Daftar calon berikut nomornya terpampang pada papan pengumuman di setiap tempat pemungutan suara. Di dalam perut Urna tersedia pangkalan data lengkap berisi nama, foto, nama partai, dan nomor calon presiden, anggota parlemen, juga senat.

Setelah pemilih menekan angka tertentu, layar Urna akan menampilkan foto dan nama calon sesuai dengan nomor yang dipilih. Saat itulah, pemilih harus menekan tombol hijau jika pilihannya sama dengan yang muncul di layar. Pada detik yang sama, data nomor yang dipilih terekam dalam disket yang tersimpan di perut mesin.

Disket inilah sebetulnya bagian paling penting. Mirip kotak suara, disket berfungsi menyimpan data pilihan para pemilih. Untuk keamanan, disket selalu disegel, sampai petugas pemilu datang mengambilnya saat pemilihan usai. Oleh petugas pemilu, disket kemudian dikumpulkan ke pusat penghitungan suara di tiap daerah lalu dihitung. Berikutnya, data itu dikirim ke panitia pusat lewat Internet. Sederhana tapi efektif.

Keberhasilan Brasil dalam pemilu model baru ini membuat tetangganya tertarik. Argentina, Meksiko, dan Republik Dominika segera mengadopsi Urna untuk pemilu mereka. Bahkan, menurut juru bicara di komisi pemilihan umum Brasil, pemerintahnya juga siap mengirim tim untuk mengajari India dan Ukraina, yang berminat menjajal Urna.

Brasil memang serius menggelar pemilu yang transparan. Mereka sudah terlalu kenyang dengan pemerintahan diktator militer sejak jatuhnya kekuasaan monarki kerajaan pada 1889. Saat rezim militer berkuasa, pemilu yang digelar tak lebih dari pemilu bohong-bohongan.

Dibandingkan dengan pemilu konvensional yang menggunakan kotak suara, model Urna memang mahal. Satu unit Urna kira-kira berharga Rp 3,5 juta, 25 kali lipat harga kotak suara di Indonesia yang per biji seharga Rp 150 ribu. Tapi, dengan Urna, tak perlu lagi mencetak ratusan juta lembar kertas suara.

Bayangkan biaya yang bisa dihemat jika untuk pemilu di sini harus dicetak 600 juta kertas suara (tiap pemilih mencoblos empat kertas suara) seharga Rp 200 per lembar. Ongkos angkut pun bisa ditekan, karena tak perlu lagi menggotong lembar-lembar kertas, cukup menenteng disket.

Dody Hidayat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data