Persinggahan di Negeri Dongeng Kampung Badui selalu mengundang rasa penasaran. Inilah wilayah magis yang tak menyerah pada derap modernisasi. |
Ada satu tempat keramat di dunia. Kira-kira dia ada di satu titik terpencil di sebelah barat leher Pegunungan Kendeng, Banten. Di tempat inilah, yang disebut Arca Domas, segenap roh bertemu mengawal keberadaan semesta. Setiap tahun orang-orang suci Badui datang berziarah, menghantarkan doa, mantra, dan puja-puji dalam upacara rahasia. Jika mereka absen, entah bencana apa yang bakal menimpa dunia.
Baduinama lainnya adalah "Kanekes", yang diambil dari nama Sungai Cikanekesmemang kampung beraroma khayal. Hidup bagi orang Kanekes berarti menjaga harmoni napas alam. Prinsip mereka sederhana, tapi sama sekali tak gampang. "Lojor teu meunang dipotong, pondok meunang disambung," kata Karmain, 39 tahun, penduduk Desa Cibeo, Badui Dalam, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten. Artinya, segala yang panjang tak boleh dipotong dan semua yang pendek jangan disambung.
Kanekes yang selaras alam adalah magnet pemicu penasaran. Tak sedikit petualang yang ngebet ingin mendatangi kawasan seluas 5.100 hektare ini. Tapi, ada batasan. Hanya orang Indonesia yang boleh datang dan menginap. Itu pun tak bisa lebih dari tiga malam. Turis asing hanya boleh menjejakkan kaki di Badui Luar (Panamping) dan terlarang memasuki areal Badui Dalam (Tangtu). Jika ada yang melanggar, konon, ada saja kejadian buruk seperti tanah longsor melanda wilayah berpenghuni 7.000-an jiwa ini.
Berbekal penasaran, siang hari beberapa pekan lalu, tim TEMPO berkunjung ke Badui, 200 kilometer dari Jakarta. Berawal di Desa Cibulegar, kami menyusuri jalan setapak mendaki Pegunungan Kendeng yang setinggi 900 meter. "Hati-hati, medan yang kita hadapi cukup berat," kata Rudi, pemandu wisata dari Wisata Petualang, biro tur yang khusus melayani ekowisata. Peringatan yang awalnya kami anggap enteng, karena yakin perjalanan kali ini sekadar pelesiran ringan di akhir minggu.
Baru sepuluh menit berlalu, peringatan Rudi terwujud. Hujan deras semalam sebelumnya membuat tanah merah di jalanan setapak jadi lumer seperti adonan kue. Langkah kaki jadi teramat berat untuk mendaki bukit yang menjulang. Sedikit saja lengah, jurang di kanan-kiri jalan setapak sudah menanti. Beruntung, alam membalas semua kesulitan itu dengan suguhan pemandangan elok, sungai penuh bebatuan, jembatan bambu yang ringkih bergoyang-goyang, juga lumbung padi (leuit) yang sepintas mirip rumah misterius.
Sementara kami tertatih-tatih, Karmain, Sadiman, Jaki, dan beberapa urang Tangtu (orang Badui Dalam) bergerak lincah. Kaki-kaki tanpa alas itu menancap kukuh tapi luwes di tanah lempung. "Sudah biasa, Cibeo-Jakarta cuma tiga hari jalan kaki," kata Karmainini nama untuk anak pertama di Badui. Pantas saja, telapak dan jari kakinya lebih besar dari ukuran normal. Sebulan sekali Karmain ke Jakarta berjualan madu, selendang tenun, baju, jarog atau tas dari anyaman kulit kayu.
Akhirnya, setelah empat jam mengayun kaki sambil mandi lumpur, bumi Badui Dalam kami jejak. Matahari sudah beberapa saat lengser ketika kami tiba di Desa Cibeo, satu dari tiga desa di Badui Dalam. Langit gelap. Hanya ada sekelebatan cahaya senter milik anggota rombongan. "Selamat datang," kata Mursid, jaro atau Kepala Desa Cibeo. Lelaki berbaju belacu putih kasar, pakaian wajib urang Tangtu, ini mempersilakan kami memasuki rumah panggungnya.
Sebuah rumah panggung berdinding bambu yang sederhana. Hanya ada ruang tidur beralas tikar, serta ruang tamu dan dapur yang dibiarkan los tanpa sekat. Rumah yang didirikan dengan semangat alam. Pasak bambu, contohnya, menggantikan peran paku besi sebagai perekat antar-kayu. Tanah yang miring pun tidak dibuat rata, tetapi kayu yang mesti dipotong menyesuaikan dengan kontur tanah.
Sejenak meluruskan kaki, kami bersiap mandi di sungai. Wah, ini urusan agak ribet. Kualitas air sungai memang tak perlu diragukan karena terjaga dari cemaran bahan kimia. Urang Tangtu memilih tetumbuhan setempat sebagai bahan detergen, sabun mandi, dan pasta gigi. Persoalannya, sama sekali tak ada sekat antara tempat mandi perempuan dan laki-laki, yang cuma terpisah 10 meter. Untung saja, langit yang gelap menolong. Sebuah kesegaran yang sungguh mewah.
Malam itu, makan ala kadarnya terasa luar biasa lezat. Kami menyantap makanan sembari berbincang berjam-jam tentang orang Badui yang rela hidup dengan seribu aturan. Mereka tunduk dan patuh pada kuasa Batara Agung, Tuhan bagi penganut Sunda Wiwitan.
Kepatuhan termasuk tak memberi tempat bagi segala yang tidak alami. Tak ada pestisida, pupuk kimia, sekolah, hiruk-pikuk televisi, musik radio, lampu petromaks, juga kompor minyak tanahuntuk Badui Luar, situasi sedikit lebih longgar. Lampu teplok pun hanya menyala malam hari bila ada tamu menginap.
"Buat apa? Kami tak butuh itu semua," begitu komentar Mursid tentang berbagai barang mewah. Alam telah bermurah hati menyediakan seluruh kebutuhan mereka. Gelap malam tak perlu dilawan dengan lampu listrik. Toh berbincang dengan kawan-kerabat, kadang menari bersama iringan saron, gong, dan buhun (angklung), cukup diterangi sinar bulan. Hanya rupiah unsur modernisasi yang tak terelakkan. Itu pun cuma sesekali untuk beli ikan asin dan beras di pasar terdekat.
Esok paginya, ketika terang tanah, kami bersiap kembali ke Jakarta. Jalur pulang lebih landai, butuh enam jam jalan kaki, dan tidak kelewat terjal seperti rute keberangkatan. Sepanjang jalan pulang inilah Jaki mengisahkan perkembangan baru di Kampung Tangtu.
Rupanya, hilir-mudik pendatang membuat beberapa warga Badui Dalam tergoda ingin mencecap dunia ramai. Ada yang ingin anaknya bersekolah, ada juga yang ingin memeluk suatu agama. "Sudah lima keluarga yang keluar dari Tangtu dan tinggal di desa-desa di luar Badui," kata Jaki.
Mereka yang ingin memutus ikatan dengan suku, Jaki menjelaskan, harus minta izin dari pu'un atau kepala suku. Izin yang hampir mustahil didapat dalam situasi wajar. Lalu, apa akal? "Ada yang dengan sengaja melanggar aturan," kata Jaki.
Pelanggaran paling gampang adalah menumpang kendaraan bermotor selagi dalam perjalanan di luar Badui. "Tanpa ada yang lapor, pu'un sakti langsung tahu ada yang melanggar aturan," kata Jaki. Sidang adat pun segera digelar untuk menentukan sanksi bagi si pelanggar. Nanti, bila ternyata si Fulan terus bandel dan berulang kali melanggar, pu'un akan mafhum bahwa si Fulan sudah tak lagi ingin jadi bagian dari Tangtu. "Akhirnya, ia diizinkan keluar," kata Jaki.
Untung saja, Jaki melanjutkan, tak banyak yang tergoda kehidupan luar. Mayoritas penduduk masih bertahan pada pagar-pagar adat. Sebuah keteguhan yang mengagumkan, terutama karena jejak-jejak budaya kerajaan Nusantara yang lain kini hampir-hampir tak bersisa.
Demi menjaga kemurnian adat pula, November lalu mereka meminta izin pada pemerintah untuk tidak ikut serta dalam gonjang-ganjing Pemilu 2004. "Kami katitipan ngasuh ratu nyayak menak," demikian tertulis pada surat yang ditandatangani para pemimpin Badui. Artinya, kira-kira, warga Badui hanya kaum pertapa yang bertugas menjaga negara, agama, dan kebaikan orang banyak. Mereka hanya minta diizinkan untuk menjadi diri sendiri.
Mardiyah Chamim
|