Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXII/23 - 29 Februari 2004
   
Ilmu dan Teknologi

Kloning ala Negeri Ginseng

Ilmuwan Korea Selatan sukses melakukan kloning pada sel manusia. Harapan untuk mengganti sel-sel rusak mulai terbuka.

Jalan panjang itu benar-benar seperti tanpa ujung. Bertahun-tahun Hwang Woo-suk tenggelam di laboratorium, memelototi mikroskop, berusaha memisahkan sel telur untuk menemukan cahaya menuju kloning manusia. Tapi semua itu sia-sia. Bukannya sel klon manusia yang ia dapatkan, ia justru terlempar di kebuntuan.

"Rasanya jalan menuju sel klon manusia seperti tertutup," kata Hwang, yang memulai penelitian kloning sejak 1996. Inilah tahun ketika Dolly, domba kloning asal Skotlandia, lahir. Bersama Dr. Moon Shin-yong, ginekolog dan pakar terapi kesuburan terkemuka Korea Selatan, ia terus bergulat di laboratorium.

Hasilnya mulai tampak. Tiga tahun lalu, mereka berhasil menciptakan klon sapi perahan subur. Lalu, Desember silam, kesuksesan kembali mereka raih dengan menciptakan klon sapi yang tahan penyakit sapi gila (mad-cow disease)

Tapi dua peneliti spartan ini masih penasaran. Ribuan jam penelitian yang mereka habiskan belum juga menghasilkan temuan teknologi kloning yang berguna bagi kesehatan manusia. Mereka sempat bereksperiman menciptakan sel klon babi yang bisa ditransplantasi ke tubuh manusia. Sayangnya, temuan itu tetap jauh dari harapan. Malah, penelitian maraton itu membuat mereka frustrasi. "Benar-benar buntu," kata pengajar Seoul National University ini.

Suatu hari, saat Hwang merenung di puncak keputusasaannya, Moon mendekat. "Kamu terlalu workaholic. Keluarlah, jangan cuma di laboratorium," kata Moon.

Dengan patuh, Hwang mengikuti nasihat koleganya. Ia putuskan mencari udara segar, keluar dari pertapaannya di kampus Seoul National University, Korea Selatan. Saat itulah tanpa sengaja ia bertemu seorang suami yang lunglai dipapah istrinya. Lima tahun lalu, saat mereka baru sehari berbulan madu, sang suami jatuh saat memanjat tebing. Tulang punggungnya nyaris remuk. Sejak itu, sang istri harus selalu memapah suaminya yang lumpuh. Lima tahun berlalu, dan sang istri masih setia memapah dengan kekuatan cinta kasih dan ketabahan.

Hwang tercenung. Sang istri bisa begitu tegar. Hwang tiba-tiba malu pada diri sendiri. Mengapa dia begitu lemah hanya karena penelitiannya belum berhasil? "Mereka tak sekadar hidup, mereka bertahan," kata laki-laki berusia 51 tahun itu. Semangatnya bangkit. Ia bertekad meneruskan penelitiannya, apa pun yang terjadi.

Dengan semangat menggebu, mereka berdua kembali tenggelam di balik timbunan mikroskop. Akhirnya, berkah itu datang. Hwang dan Moon berhasil menciptakan sel induk (stem cell) dari teknik klon embrio manusia. Dengan menggunakan 242 sel telur dari 16 sukarelawan yang tidak dibayar, mereka berhasil menumbuhkan 30 embrio sampai fase blastosis, masing-masing terdiri dari 100 sel. Dari blastosis itulah kemudian diekstrak sel induk, sebuah kumpulan sel yang kelak bisa menjadi organ tertentu seperti kulit, tulang, jaringan hati, dan lain-lain.

Sejatinya, sel induk ini bukan hanya tumpuan harapan Hwang dan Moon, tapi juga banyak ilmuwan lain. Dari sel induk inilah kelak bisa tercipta sel yang bisa digunakan untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak.

Dengan keberhasilan itu, laki-laki yang hidup dari keluarga pas-pasan di pinggiran Korea ini terbang ke Seattle, Amerika Serikat, dua pekan silam untuk berbicara di hadapan pakar biologi molekuler. Jurnal terkemuka Science melaporkan keberhasilan duet ilmuwan itu berikut sanjung-puja dari ilmuwan AS dan Eropa. Dr. Robert Lanza, salah satu direktur perusahaan Advanced Cell Technology di Worcester, Massachusetts, termasuk yang mengacungkan jempol. Ia pernah mencoba klon manusia pada 2001, tapi gagal karena sel-sel klonnya keburu mati muda.

Bagi kalangan para ilmuwan biologi molekuler, teknik klon Hwang dan Moon sebetulnya tak beda dengan teknik kloning legendaris, kloning domba Dolly. Bedanya, jumlah sel telur yang mereka pakai jauh lebih banyak, 242 buah—jumlah terbanyak yang pernah ada dalam sejarah kloning. Selain itu, kata Moon, mereka menggunakan pipet berdiameter kecil untuk menyedot inti sel (nukleus). "Itu juga penyumbang keberhasilan," kata Hwang, yang tiap pukul 04.30 pagi selalu pergi ke pemandian umum, bermeditasi selama 45 menit "membersihkan pikiran dan mencari ide penelitian".

Prestasi Hwang dan Moon ini membawa secercah harapan bagi perjalanan panjang menuju kloning manusia. Sejak gagasan ultramodern kloning manusia menyelinap ke ruang-ruang pembicaraan para ilmuwan, orang terus memperdebatkan implikasi etis teknologi ini. Debat soal riset sel induk, baik yang diperoleh lewat kloning maupun pembuahan in-vitro konvensional, tak kunjung surut. Di Amerika sendiri, kelompok pembela hak untuk hidup dan kelompok religius, termasuk Gereja Katolik Roma, menentang keras gagasan ini. Di mata mereka, kehidupan dimulai lewat konsepsi dan karenanya menyemai sel induk adalah tindakan yang mengarah pada pembunuhan.

Hwang berkeras apa yang mereka berdua lakukan hanyalah esensi dari tugas seorang ilmuwan. "Tujuan kami bukanlah kloning itu sendiri, melainkan bagaimana memahami penyebab penyakit yang menggerogoti manusia," tuturnya. Nun jauh di kampung halaman Hwang, kloning manusia adalah tindakan melawan hukum. Untunglah, setahun belakangan, pemerintah Korea Selatan melunak. Mereka membolehkan kloning dengan syarat penyemaian sel induk hanya demi memperoleh organ dan jaringan pengganti bagi bagian tubuh yang rusak.

Keberhasilan duet Hwang dan Moon ini telah membuka pintu harapan bagi sedemikian banyak orang. Inilah deretan panjang mereka yang menanti dalam ketidakpastian, termasuk penderita parkinson, alzheimer, cedera tulang belakang, dan diabetes. Setidaknya, secercah harapan itu singgah bagi orang-orang seperti Christopher Reeve, pemeran tokoh film Superman yang lumpuh akibat jatuh saat berkuda dan berharap pada kloning sebagai proses penyembuhan. Juga bagi Richard Arvedon, yang selama empat tahun berjuang memperoleh kepastian kloning untuk keperluan terapi bagi Emma, buah hatinya. Gadis kecil berusia enam tahun itu melewatkan harinya bergumul dengan diabetes. "Dalam 10 tahun ini, dia akan menderita komplikasi serius," kata sang ayah yang gigih itu.

Pengacara yang tinggal di Hartford ini berharap para ilmuwan bersedia mengambil sel Emma, memulai proses kloning dengan menciptakan embrio yang secara genetis identik dengannya, mengekstraksi sel induk, dan menumbuhkannya di sel pankreas sehat. Sebuah proses yang tak bakal ditolak tubuh Emma. "Rasanya, tak ada lagi cara lain yang bisa menolong Emma," kata Arvedon.

Toh, kloning untuk terapi bukanlah perjalanan pendek yang langsung berbuah manis. Dr. Denise Faustman, associate professor kedokteran pada Harvard Medical School, mengatakan banyak hal yang belum dimengerti ilmuwan mengenai hal itu. "Pemahaman para ilmuwan benar-benar baru seumur jagung," tuturnya.

Hwang dan Moon tahu persis soal itu. Mereka tahu diri dan tak pernah berharap mendapat hadiah Nobel. Maka, setelah menggelar jumpa pers di sebuah hotel supermewah di Seattle, Amerika Serikat, mereka buru-buru kembali ke hotelnya di pinggiran Kota Seattle, yang cuma bertarif US$ 50 (Rp 425 ribu) semalam, bersiap pulang. Mereka bertekad, sesampai di rumah, penelitian itu akan terus mereka sempurnakan. "Tapi, saat ini, yang ingin kami lakukan adalah makan kalbi (steak khas Korea) bersama seluruh staf peneliti, dan kembali meneruskan penelitian," kata guru besar yang bergaji 5 juta won (Rp 30 juta) per bulan itu—tak beda jauh dengan upah pekerja pabrik di sebuah perusahaan papan atas Korea.

Burhan Sholihin (AP, Reuters, New York Times, Cosun)



Beginilah Kloning

Kloning embrio seperti yang dilakukan dua ilmuwan Korea Selatan, Dr. Hwang Woo-suk dan Dr. Moon Shin-yong , bukan hal baru pada binatang. Namun, mereka sukses melakukannya pada embrio manusia.

Mengganti Inti Sel Telur

Inti sel telur wanita disedot keluar, diganti dengan inti sel tubuh wanita (bisa diambil dari kulit, otot, atau yang lain).

Membelah dan Berkembang

Sebuah kejutan listrik akan membantu sel telur itu membelah dan berkembang banyak menjadi morula.

Mengelompok

Sel-sel itu kemudian mengelompok dan menjadi kelompok sel yang berbeda-beda, yang disebut trofoblas.

Memanen Blastosis

Kelompok-kelompok sel itu kemudian memisah. Dalam keadaan normal, blastosis ini akan menempel di dinding rahim sesudah enam hari terjadi pembuahan, dan kelak berkembang menjadi bayi.

Sel Induk

Sel induk yang didapatkan dari ekstraksi massa sel bagian dalam itu ditumbuhkan di cawan petri yang sudah diisi campuran agar-agar dan bahan lain.



Dimulai dari Berudu

Kloning manusia telah lama diimpikan, namun perkembangannya sangat lambat dan tak gampang. Apakah ilmuwan bisa memetik manfaat teknologi kloning ini untuk kepentingan medis tanpa harus melahirkan manusia kloning?

1952

Percobaan kloning pertama dilakukan oleh Robert Briggs dan Thomas J. King, yang mengganti inti sel telur kodok dengan inti sel lain yang diambil dari embrio. Sel telur itu sempat berkembang menjadi beberapa sel.

1972

Eksperimen itu diteruskan oleh John Gurdon, yang sukses menciptakan berudu dari sel telur yang tak dibuahi. Sayang, binatang amfibi ini mati muda.

1993

Ilmuwan Amerika Serikat membelah-belah embrio untuk menciptakan embrio yang memiliki sifat genetis yang sama persis. Calon-calon bayi itu sempat berkembang hingga masing-masing memiliki 32 sel, namun kemudian mereka menghancurkannya.

1995

Ian Wilmut and Keith Campbell menciptakan domba kloning pertama, Megan dan Moran, dengan kloning sel embrio.

1996

Setahun kemudian, mereka membuat biri-biri kloning, Dolly, dengan teknik kloning dari sel domba dewasa. Biri-biri ini akhirnya disuntik mati pada umur 6 tahun karena dia sakit paru-paru dan mengalami proses penuaan yang abnormal.

1998

James Thomson dan John Gearhart berhasil membiakkan sel manusia dari sebuah sel telur yang dibuahi sperma di tabung. Sel induk (stem cell) ini bisa dikembangkan menjadi sel khusus seperti sel tulang, sel kulit, sel mata, dan lain-lain.

2001

Seekor kloning kucing yang diberi nama CC, singkatan dari copy cat, diproduksi ilmuwan dari Universitas Texas A&M.

2002-2004

Tanpa bukti ilmiah, beberapa ilmuwan seperti Dr. Severino Antinori, Dr. Panos Zavos, dan tim yang bekerja untuk sekte Raelian mengklaim telah melahirkan enam bayi kloning. Para ilmuwan menganggap sepi ilmuwan dari Clonaid itu.

2003

Para ilmuwan berhasil menyelesaikan peta genetika tubuh manusia, dua tahun lebih cepat dari jadwal.

2003

Embrio manusia hasil kloning pertama dapat diciptakan oleh Advanced Cell Technology. Dibikin dengan menukar DNA sel telur dengan DNA sel tubuh manusia dewasa.

2004

Imuwan Korea Selatan mengumumkan berhasil melakukan kloning embrio manusia yang menghasilkan sel induk. Kelak dimanfaatkan mengganti sel-sel rusak.

Naskah: Burhan Sholihin


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data