Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXXII/23 - 29 Februari 2004
   
Nasional

Politik 'Ngakak' Dua Seteru

Dua hari setelah Megawati bertemu Ketua NU Hasyim Muzadi, Wiranto bercengkerama dengan Abdurrahman Wahid.

Hari telah lepas tengah malam, tapi suara ngakak masih terdengar di kamar 257 Hotel JW Marriott, Surabaya, Selasa pagi pekan lalu. Yang saling melempar gurau adalah bekas presiden Abdurrahman Wahid dan bekas Menteri Pertahanan Keamanan Jenderal (Purn.) Wiranto. Yang satu adalah calon presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang lain adalah peserta konvensi Partai Golongan Karya. Selain keduanya, hadir pula Wakil Ketua Umum PKB, Mahfud Md., dan anggota Dewan Syuro PKB, dr. Sugiat.

Mahfud melempar persoalan: ia khawatir atas ancaman disintegrasi bangsa. Gus Dur nyeletuk, "Ndak mungkin. Wong yang 26 (provinsi) sudah disiram Pak Wiranto." Wiranto terbahak. Mahfud dan Sugiat bingung. Apa maksudnya? Gus Dur lalu membuka rahasia.

Pada 1999 ia pernah mengantar Wiranto, waktu itu Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI, menemui K.H. Abdullah di Jawa Timur. Untuk mencegah agar Indonesia tak pecah, oleh K.H. Abdullah, Wiranto dibekali botol-botol air yang mesti dikucurkan di semua provinsi. Ternyata hanya 26 botol yang diterima, padahal waktu itu ada ada 27 provinsi. "Akhirnya Timor Timur lepas," kata Gus Dur sambil cengengesan. Yang lain tertawa tergelak-gelak.

Setelah perseteruan akibat "dipecatnya" Wiranto dari kabinet Gus Dur pada 2000 lalu, inilah masa paling mesra antara keduanya. Banyak yang curiga kemesraan Gus Dur-Wiranto itu dipicu oleh pertemuan Ketua PDIP Megawati dengan Ketua Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi dua hari sebelumnya. Antara Gus Dur dan Hasyim memang ada duri perihal calon presiden dari PKB. Tapi spekulasi ini dibantah Gus Dur. "Pertemuan itu ndak pakai target. Wong saya cuma diajak bareng ke Langitan," kilah Gus Dur.

Selasa pagi, Gus Dur dan Wiranto memang sama-sama kondangan ke pesta perkawinan putra K.H. Abdullah Faqih di Langitan, Tuban, Jawa Timur. Sehabis aksi lempar lelucon itu, keduanya tidur bersebelahan kamar yang disekat pintu penghubung. Dari Surabaya menuju Langitan, mereka bahkan naik mobil yang sama: sedan Mercedes seri S hitam berpelat L88U. Dalam dua jam perjalanan, canda-tawa berlanjut. "Gus Dur hanya cerita joke-joke," kata Wiranto kepada TEMPO.

Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama antara Gus Dur dan Wiranto. November 2003, mereka sempat bersua di Hotel Ambhara, Jakarta. Tapi pertemuan kali ini istimewa karena Wiranto adalah salah seorang peserta konvensi Golkar—perhelatan yang diharapkan Wiranto bisa mengantarkannya ke kursi presiden. "Humor Marriott" diharapkan bisa berlanjut pada dukungan warga NU terhadap Wiranto. "Calon presiden kan harus mencari simpati dari mana pun," kata Dossy Iskandar, anggota tim sukses Wiranto di Jawa Timur.

Tapi, siapa yang melamar hingga terjadi pertemuan Marriott? Menurut Mahfud, adalah Wiranto yang meminta bertemu Gus Dur untuk membicarakan "sebuah persoalan serius". Gus Dur setuju. Tapi bekas Ketua NU tahu bagaimana harus menyiasati sebuah pertemuan politik. "Gus Dur menghindar bicara pencalonan presiden. Dalam berpolitik, Gus Dur licin," kata Mahfud.

Wiranto tak membantah sengaja ingin bertemu Gus Dur. Tapi, "Kalau tidak (diinginkan) kedua belah pihak, enggak bisa," ujarnya diplomatis. Kata seorang anggota tim suksesnya, Wiranto "terpaksa" berangkat Senin malam dari Jakarta karena tak ingin Gus Dur menjemputnya di Bandar Udara Juanda, Selasa pagi. "Kalau enggak mau ketemu, kok Gus Dur ingin jemput?" kata anak buah Wiranto itu.

Tapi, menurut Mujab Fachni, putra K.H. Abdullah Faqih, kehadiran Wiranto ke hajatan di Langitan itu pun ternyata atas "campur tangan" Gus Dur. Rencananya, Wiranto baru mendapat waktu sowan ke Langitan pada 3 Maret. Tapi ia minta diajukan agar bisa hadir di acara pernikahan. "Permintaan disampaikan Wiranto melalui Gus Dur kepada saya," ujar Mujab Fachni. Akibat peran Gus Dur itu, Wiranto lalu mendapat waktu berbicara empat mata dengan Abdullah Faqih.

Ada isyarat dukungan dari kiai khos NU itu? Tak jelas. Memastikan dukungan warga nahdliyin memang bukan perkara mudah. Politik ngakak Hotel Marriott mungkin cuma sekadar mencairkan ketegangan dua seteru.

Jobpie Sugiharto, Sunudyantoro (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Rumah Mewah Terbakar, 10 Anjing Tewas - 24 Jul 2008 | 12:35 WIB
JPPR: Pelanggaran Terjadi diberbagai Wilayah - 24 Jul 2008 | 12:22 WIB
Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data