|
Maroko Gempa Menggoyang Maroko
ABDULKHALIK, guru di Desa Ait Abdulaziz, kehilangan seluruh keluarganya setelah gempa berkekuatan 6,5 skala Richter mengguncang kawasan tepi kota Al-Hoceima, Maroko, Selasa pekan lalu. Sekitar 70 persen rumah di Desa Ait Abdulaziz rubuh. "Saudara perempuan saya berteriak terjepit pintu berat, tapi kami tak dapat menolongnya. Ia meninggal," kata Abdulkhalik. Gempa yang terjadi saat penduduk lagi terlelap pada pukul 2.27 dini hari itu menewaskan sekitar 500 orang dan menyebabkan 300 orang lainnya luka-luka. Diduga angka kematian akan terus bertambah karena banyak rumah penduduk di desa sekitar Al-Hoceima terbuat dari batu berlapis lumpur. Sekitar 10 ribu penduduk kehilangan rumah. Hingga Kamis pekan lalu, tim penyelamat masih terus mencari korban, khususnya di enam desa yang terisolasi di kawasan pegunungan. Kawasan itu umumnya dihuni minoritas suku Barber, suku asli Afrika Utara.
Irak Jadwal Pemilu Beres CEKCOK soal jadwal pemilihan umum di Irak berakhir Kamis pekan lalu, setelah pemimpin Syiah Irak, Ayatullah Ali al-Sistani, setuju pelaksanaan pemilu pada akhir tahun ini. Keputusan Sistani tadi sesuai dengan keinginan PBB, yang memperkirakan pemilu untuk pemerintahan Irak bisa berlangsung akhir tahun ini atau awal 2005. Di kota suci Najaf, Sistani meminta jaminan tegas bahwa pemilu akan berlangsung akhir tahun lewat resolusi Dewan Keamanan PBB. "Hal itu sebagai jaminan bagi rakyat Irak agar tak ada lagi penundaan pemilu dengan dalih macam-macam," ujarnya.
Selain itu, kata Sistani, pemerintahan sementara Irak akan mengambil alih kekuasaan dari Amerika Serikat akhir Juni tahun ini, agar bisa menyiapkan pemilu. Semula ia bersikeras pemilu harus berlangsung sebelum 30 Juni, saat AS menyerahkan kedaulatan ke rakyat Irak. Tapi akhirnya Sistani sepakat dengan kesimpulan tim PBB bahwa saat itu pelaksanaan pemilu belum memungkinkan, apalagi dalam situasi keamanan di Irak yang masih rawan.
Filipina Feri Mewah Terbakar RODEL Castilo kaget ketika menerima pesan singkat pada telepon seluler dari istrinya tentang kebakaran yang menimpa kapal feri mewah yang ditumpangi istri dan bayinya yang berusia 15 hari, Jumat pekan kemarin. Feri Filipina berpenumpang 877 orang itu dalam perjalanan malam dari Manila ke Bacolod, pulau di Filipina tengah. "Jangan khawatir. Kami selamat, tapi saya terpisah dengan bayi kita. Harap berdoa untuk bayi kita," tulis sang istri. Kebakaran itu membuat banyak penumpang feri nekat terjun ke laut di tengah malam pekat demi keselamatan diri. Akibatnya, 153 orang hilang, satu tewas, dan beberapa orang lainnya menderita luka bakar. Api diduga berasal dari ledakan di ruang mesin. PBB-Inggris Inggris Menyadap Kofi Annan
PERDANA Menteri Inggris Tony Blair rupanya masih menuai skandal setelah sedikit terbebas dari rongrongan tuduhan menukangi laporan intelijen tentang senjata pemusnah massal Irak. Skandal muncul lewat pernyataan bekas menteri Clare Short, Kamis pekan lalu, yang menuduh Inggris menyadap pembicaraan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan beberapa saat menjelang perang Irak. Menurut Short, ia melihat transkrip pembicaraan Annan saat ia masih menjabat menteri di dalam kabinet Blair. "Inggris saat ini pun masih memata-matai kantor Kofi Annan dan memperoleh laporan tentang apa yang sedang terjadi," kata Short. Ia undur diri dari kabinet Blair karena menentang perang Irak. Tuduhan Short membuat pejabat PBB geram. "Kegiatan itu merusak integritas dan sifat kerahasiaan urusan diplomatik. Orang yang berbicara dengan Sekjen (PBB) berhak memperoleh jaminan pembicaraan mereka bersifat rahasia," kata Fred Eckhard, juru bicara PBB. Eckhard menambahkan, tindakan menyadap pembicaraan Kofi Annan jelas ilegal dan PBB akan sangat kecewa jika tuduhan itu benar. Blair, bukannya mengklarifikasi tuduhan itu, ia malah dengan marah mengumbar retorika bahwa Clare Short merusak badan intelijen dan keamanan Inggris sebagaimana kelompok militan Islam mengancam Inggris secara nyata.
RFX (Reuters, BBC, AFP, The Guardian)
|