Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXIII/29 Maret - 04 April 2004
   
Laporan Utama

Berpacu Suara di Tapal Kuda

Di Tapal Kuda, partai berasas Islam sulit menembus basis kaum santri, yang umumnya setia mendukung Partai Kebangkitan Bangsa—partai yang sejak awal berpaham kebangsaan.

KIAI Muhaimin Abdul Bari berbicara dalam rapat penting para kiai di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Kamis pekan silam. Sambil berdiri, dia berpidato berapi-api. Di kantor Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sampang, Kiai Muhaimin membedah siasat partai berlogo sembilan bintang itu. Apa lagi kalau bukan resep untuk menang dalam Pemilu 2004. Kiai Muhaimin adalah Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Sampang dan bukan pejabat teras partai itu. "Saya hanya memberi dukungan ke PKB," ujarnya.

Di panggung politik Jawa Timur, NU memang primadona. Semua kekuatan politik berebut berkah dari organisasi ulama ini. Tapi, seperti kata Kiai Muhaimin, di Sampang, NU sudah berjodoh dengan PKB. "PKB dilahirkan oleh kiai NU," ujar Muhaimin.

Bagi PKB, daerah subur suara bukan hanya Sampang. Membentang dari Pulau Madura sampai pantai utara Jawa Timur, daerah politik santri itu meliputi Gresik, Sidoarjo, kabupaten dan kota Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Bangkalan, Pamekasan, sampai Sumenep. Di peta Pulau Jawa, wilayah itu melengkung seperti ladam. Itulah sebabnya daerah itu disebut Tapal Kuda.

Harap dicatat, Jawa Timur adalah tonggak politik santri. Penduduknya tercatat sekitar 36,2 juta jiwa. Dari jumlah itu, yang berhak memilih pada Pemilu 2004 ini sekitar 25,9 juta. Cukup besar bila dibandingkan total pemilih nasional (147 juta jiwa). Di provinsi rujak cingur itu, kawasan Tapal Kuda adalah gudang suara terpenting. "Hasil pemilu di sana sering mewakili Jawa Timur," ujar Kris Nugroho, ahli politik dari Universitas Airlangga, Surabaya.

Maka tak aneh kalau banyak kekuatan politik berebut pengaruh di sana. Bagi PKB, lawan paling sengit datang dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di Tapal Kuda, kedua partai itu berpacu ketat menyabet dukungan. Partai berlambang Ka'bah yang pernah menyusu pada NU selama pemilu Orde Baru itu bercita-cita mengembalikan zaman emas mereka. Pada Pemilu 1997, misalnya. Partai Ka'bah itu meraup suara 27 persen di Jawa Timur. Mayoritas pemilih mereka berasal dari Tapal Kuda.

Di daerah itu pula PPP punya kisah sedih. Suaranya anjlok drastis begitu PKB lahir. Pada Pemilu 1999, partai yang berasas Islam itu hanya menangguk lima persen suara, sementara PKB sebagai pendatang baru bikin kejutan dengan mencaplok 32 persen. Tak mau kecolongan dua kali, PPP sekarang pasang kuda-kuda. "Kami akan meraih 20 persen suara di Tapal Kuda," kata Mujahid Ansyori, Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PPP di Jawa Timur.

Mujahid yakin bisa menembus target itu. Partainya kini lebih kompak dibandingkan dengan PKB, yang sedang dirundung konflik internal. Buntutnya, sejumlah kiai waskita pun hengkang dari PKB. Sebut saja Kiai Fawaid As'ad dari Pondok Pesantren Asembagus, Situbondo. Kiai yang punya puluhan ribu pengikut itu kini pindah ke PPP. Kiai Hasan Mutawakil Alallah dari Pesantren Genggong, Probolinggo, meniru jejak Fawaid.

Pukulan lain adalah sejumlah pertemuan para kiai di Pondok Pesantren Nurul Qodim, Probolinggo, yang digagas oleh tuan rumah Kiai Nuruddin. Dihadiri oleh sejumlah kiai top di Probolinggo, semisal Kiai Hasan Syaiful Islam dan Kiai Hasan Suyuti dari Banyuwangi, pertemuan itu sepakat mendukung PPP pada Pemilu 2004. Hasan Suyuti sebelumnya adalah pengurus teras PKB di Banyuwangi. "Kami akan menang," ujar Mujahid.

Lalu apa kata NU Jawa Timur? Kiai Ali Maschan Moesa menduga suara PKB bakal kempis akibat cabutnya para kiai itu. Tapi, selain di Probolinggo dan Situbondo, PKB tetap di atas angin. "Di Tapal Kuda, situasinya sangat dinamis," kata Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu.

Meski begitu, kata Kiai Ali, warga nahdliyin akan mengikuti petunjuk Muktamar NU ke-30 di Lirboyo. Keputusan itu menyuruh kaum sarungan agar berpolitik dengan bebas, kritis, dan bermoral. Mereka disarani menoleh pada kebangsaan dan persatuan nasional. Ada juga wejangan berpolitik dengan nurani, agama, moral, dan etika. Satu bagian penting dari hasil muktamar itu: harus menimbang partai yang lahirnya dibidani NU. "Tak ada partai lain, kecuali PKB," ujarnya menegaskan.

Sikap NU itulah yang membuat partai lain jadi kecut. Lihat saja Partai Amanat Nasional (PAN). Tapal Kuda menjadi daerah "haram" bagi mereka. "Tidak mungkin kami menembus wilayah itu," ujar Wakil Ketua PAN Jawa Timur, Sunartoyo. Apalagi PAN dikenal sebagai partainya Muhammadiyah—lembaga yang kerap diposisikan berseberangan dengan NU. Memang Ketua Umum PAN Amien Rais pernah disambut meriah di sana. Amien juga sempat melakukan roadshow ke sejumlah kiai. Tapi Sunartoyo tetap pesimistis partai mereka bakal menang. Pada pemilu lalu, PAN hanya kebagian 4 persen suara di sekujur Jawa Timur.

PDI Perjuangan bersikap sama. Meskipun punya program memenangkan partai "moncong putih" itu di Jawa Timur, target mereka bukan Tapal Kuda. Banteng Bulat rupanya lebih suka menyeruduk ke Jawa Timur sebelah barat. "Daerah itu dikenal sebagai Mataraman," ujar Ali Mudji, Sekretaris PDI Perjuangan Jawa Timur. Yang dimaksud Mataraman adalah kawasan yang dipengaruhi kultur Jawa Mataram. Daerah itu membentang dari Malang, Kediri, Blitar, hingga Madiun. Pada Pemilu 1999, kawasan ini adalah kawasan merah total alias dikuasai kubu Banteng.

Di Tapal Kuda pada pemilu lalu Partai Banteng Bulat itu sempat menang di Lumajang. Februari silam, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merangkul sejumlah kiai saat bertemu dengan Ketua PB NU Hasyim Muzadi di Malang. Bagi partai dengan ideologi nasionalisme sekuler itu, siasat menggandeng kiai dinilai manjur untuk merebut massa NU. "Masyarakat Tapal Kuda masih paternalistik," ujar Ali Mudji.

Lalu siapa bakal menjinakkan Tapal Kuda pada pemilu nanti? Menarik menyimak penelitian yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia, November tahun silam. Lembaga itu memperkirakan PKB tetap dominan di daerah Tapal Kuda. Dalam survei itu, PKB didukung 30 persen calon pemilih, disusul PDI Perjuangan 17 persen, dan Partai Golkar 10 persen (lihat grafik).

Pengaruh PPP tampaknya belum terasa, meski banyak kiai mendukung partai berlambang Ka'bah itu. Yang menarik, sekitar 26 persen warga Tapal Kuda ternyata belum punya pilihan. Tapi survei itu dilakukan jauh sebelum kampanye berlangsung. "Kampanye masih bisa mengubah keputusan pemilih," ujar Saiful Mujani, direktur lembaga survei itu.

Soal pilihan memang sulit ditebak. Tapi, di Sampang, ada Kiai Muhaimin yang tampaknya sudah punya pilihan pasti.

Nezar Patria, Zed Abidien (Surabaya), Sunudyantoro, Adi Mawardi, Agus Raharjo, Kukuh S.W. (TNR)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data