Tak Ada Panasea untuk Irak Syiah dan Sunni bersatu melawan tentara koalisi di Irak. Tapi Amerika kukuh dengan rencananya. |
Pemandangan tak biasa itu muncul dua pekan silam. Di Kota Adhamiya, di utara Bagdad, kaum Sunni dan Syiah untuk pertama kalinya bersama-sama turun ke jalan. Mereka mengikuti seruan Muqtada al-Sadr, pemimpin muda dari golongan Syiah, untuk berjihad memerangi tentara koalisi pimpinan Amerika. Seruan dari Al-Sadr ini berkumandang juga di masjid-masjid di Kota Ramadi dan Fallujah, di selatan Bagdad. "Mereka yang tak mendukung serangan ini," begitulah bunyi seruan lewat corong suara, "berarti tak mendukung agamanya."
Perang pecah ketika dari tengah-tengah demonstrasi ini para milisi melepaskan tembakan ke arah tentara Amerika. Dalam hitungan hari, pertempuran merembet ke bagian selatan Irak dan menuai sejumlah korban dari pihak koalisi. Sebanyak 12 tentara Italia terluka, satu tentara Ukraina tewas di Kut, serta dua serdadu Polandia dan tiga orang dari Bulgaria diserang di Karbala. Pasukan Spanyol dihujani tembakan di Diwaniyah dan Najaf. Di Ramadi, 12 anggota marinir Amerika Serikat tewas. Sepekan sebelumnya, empat kontraktor asing digantung dan dibakar di Fallujah. Itulah rangkaian perang paling brutal setelah perang Irak dinyatakan selesai setahun lalu.
Kekacauan dimulai oleh Kepala Pemerintahan Sementara Koalisi di Irak, Paul L. Bremer, ketika ia memerintahkan penangkapan Muqtada al-Sadr. Al-Sadr dituduh membunuh saingan politiknya, Ayatullah Abdul Majid al-Khu'i, pada tahun lalu. Tapi Brigadir Jenderal Mark Kimmitt, yang memimpin penangkapan itu, tak menemukan Sadr?yang disebut keburu bersembunyi. Karena ia diduga berada di Najaf?kota suci kaum Syiah?pasukan Amerika memburu ke sana. Maka seruan jihad pun dikumandangkan Sadr untuk melindungi dirinya.
Muqtada al-Sadr adalah anak Muhammad Sadiq al-Sadr, imam besar kaum Syiah di Irak, yang ditembak pada 1999 atas perintah Saddam Hussein. Namanya lantas diabadikan sebagai nama kota di sebelah timur Bagdad. Meskipun kebanyakan orang Syiah menganggap Muqtada al-Sadr tidak begitu pintar dan masih terlalu muda untuk menjadi tokoh besar, ia ditolong nama besar ayahnya. Sadr muda memiliki jaringan luas di antara kaum Syiah miskin di Bagdad dan kota lain di Irak. Seluruh kebutuhan hidupnya disediakan oleh pengikutnya. Mereka menjadi sukarelawan dan anggota milisi sejak kejatuhan Saddam.
Di mata Amerika, pengaruh Sadr ini bisa mendatangkan bala bila terus meluas. Sebab, Irak akan menjadi negara yang didominasi para imam Syiah. Mereka akan mendiskriminasi perempuan, melarang budaya Barat, menjadikan Israel musuh utama, dan mendukung Hamas serta Hizbullah, yang digolongkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika. Akibatnya, Sadr hingga hari ini tak diberi kekuasaan apa pun di dalam pemerintahan sementara di Irak.
Sadr sendiri mendapatkan tonggak kekuatannya dari para pendukungnya yang militan. Laskar Mehdi adalah sebutan untuk ribuan anggota milisi pengikut Sadr. Mereka tidak hanya menentang pendudukan Amerika, tapi juga menempatkan diri sebagai polisi moral yang menegakkan ajaran para imam Syiah, seperti larangan minum alkohol dan pelacuran. Setelah tentara koalisi menutup koran Al-Hawza miliknya, Sadr meminta para pengikutnya menyebarkan teror.
Peristiwa itu mengkhawatirkan para politisi Washington. Pasalnya, penyerahan kekuasaan dari koalisi kepada Dewan Pemerintahan Irak akan dilakukan 30 Juni nanti. Bila pertempuran meletus di mana-mana, penyerahan itu terancam batal dan Amerika harus memperpanjang "masa dinas"-nya di Irak. Artinya, korban yang jatuh akan makin banyak dan tentara Amerika bisa keteteran menghadapi taktik gerilya milisi Irak. Selanjutnya, kekacauan di Irak dipastikan dapat menyebabkan kekalahan Bush dalam pemilu nanti.
Sampai pekan lalu, pemerintah Bush belum mengungkapkan rencana resmi apa pun untuk mengakhiri krisis di Irak. Hanya ada pernyataan Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld yang menanggapi permintaan penambahan pasukan dari anggota Kongres. "Mereka akan mendapatkan tambahan pasukan bila ada permintaan Panglima," katanya. Jumlah 134 ribu serdadu Amerika yang berada di Irak sekarang dianggap tak cukup mengontrol negara seluas hampir tiga setengah kali Pulau Jawa itu. Usul itu bertentangan dengan rencana Pentagon mengurangi anggota pasukan menjadi 110 ribu menjelang bulan Juli nanti.
Maka pemerintah Bush mulai pusing kepala. Dalam pertempuran pada pekan-pekan ini, Sunni dan Syiah mulai bersatu melawan koalisi. Dan hal ini menunjukkan Amerika mulai kehilangan dukungan dari dua front, yakni dari kaum mayoritas Syiah dan dari rakyat Amerika. Beberapa senator Republik mengusulkan penundaan rencana penyerahan kekuasaan sampai keadaan aman. Tapi usul itu ditentang keras Ahmad Chalabi, anggota Dewan Pemerintahan Irak. "Penundaan tidak ada artinya," katanya, "Rakyat akan curiga ini skenario Amerika untuk memperpanjang pengaruhnya." Apalagi Sadr menyebut konstitusi Irak sebagai dokumen teroris yang mengebiri Syiah.
Beberapa analis politik Amerika menyarankan agar koalisi menyerahkan kekuasaan pada 30 Mei dan memberikan janji ini: Amerika akan pergi dan memberikan waktu bagi pembentukan lembaga politik di Irak. Pengalihan kedaulatan bulan Juni nanti hanya simbolis. Sedangkan tentara Amerika masih tetap bertugas menjaga keamanan.
Usul lain datang dari calon Presiden Amerika, John Kerry. Bila ia terpilih menjadi presiden, kata juru kampanyenya, Kerry akan mengganti Paul Bremer dengan Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang independen. Komisi ini akan menjadi simbolisasi keterlibatan dunia untuk memperbaiki apa yang sudah rusak dan salah di Irak. Tentara Amerika, menurut juru bicara John Kerry, juga akan diganti dengan pasukan multinasional dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Penasihat senior kampanye Bush menyebut usul Kerry cuma aksi politik demi memuluskan kampanye. Alasannya, dulu pemerintahan Bush pernah meminta bantuan kedua lembaga itu, tapi tak mendapat sambutan. Celakanya, tak sebutir pun panasea?nama obat dewa yang bisa menyembuhkan segala penyakit di dunia dalam mitos Yunani?dipunyai Bush untuk menyembuhkan semua luka akibat kekacauan itu. Satu-satunya pegangan sampai sekarang adalah berkukuh pada rencana 30 Juni itu.
Akibatnya, situasi politik di Washington diwarnai perang opini yang memanas, menyaingi panasnya timah tajam yang melesat dari laras senapan Syiah dan Sunni.
Hasil jajak pendapat awal tahun ini menunjukkan sebagian rakyat Amerika ingin tentara mereka ditarik pulang secepatnya. Sedangkan pesan rakyat Irak jelas terdengar lewat tubuh marinir Amerika yang pulang dalam peti jenazah.
I G.G. Maha Adi (Washington Post, Business Week)
|