Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXXIII/10 - 16 Mei 2004
   
Luar Negeri

Para Dalang Malapetaka

Penguasa Irak boleh tumbang dan berganti. Tapi nasib penghuni Abu Ghuraib, penjara berusia hampir setengah abad di barat Bagdad, tak pernah berubah. Inilah penjara?menurut Global Security.org?tempat Kepala Satuan Keamanan Khusus Irak Saddam Kamal pernah memerintahkan pembunuhan ribuan tahanan politik semasa Saddam Hussein berkuasa.

Berdiri di atas areal 2,8 kilometer persegi, penjara itu mirip sebuah kota di dalam kota dengan daya tampung 7.200 tahanan, 500 di antaranya tawanan perang. Tempat itu dijaga 250 polisi militer, yang mengawasi dari 24 menara.

Ketika kasus pelecehan dan dugaan pembunuhan para tahanan terjadi sepanjang Februari lalu, unit militer Amerika yang menjaga tempat itu adalah Kompi ke-372 dan 870 Polisi Militer, dari Brigade 800 yang bermarkas di Maryland, Amerika Serikat. Mereka bertugas pada November 2003 hingga Maret lalu. Anggota kompi yang berjumlah 124 orang itu dikomandani Letnan Michael Drayton dari Pasukan Garda Nasional Amerika. Sedangkan serdadu Inggris yang melakukan penyiksaan di markas mereka di Kota Basra berasal dari Resimen Queen Lancashire.

Jaringan televisi CNN melaporkan bahwa 17 serdadu dan staf Abu Ghuraib yang bertugas saat itu telah dibebastugaskan. Komandan batalion, komandan kompi, tiga sipil staf, dan 12 polisi militer termasuk yang diperiksa. Tuduhan pidana dikenakan kepada enam anggota polisi militer, tiga di antaranya siap diajukan ke pengadilan militer dengan sanksi kurungan dan pemecatan. Sedangkan tujuh yang lain dikenai tuduhan memberikan perlakuan tak layak kepada para tahanan.

Menurut juru bicara pasukan Amerika Brigadir Jenderal Mark Kimmit, para serdadu itu dikenai tuduhan penyerangan, menolak perintah, melakukan kebrutalan, perlakuan tidak patut, dan berkonspirasi untuk berbuat tidak semestinya. Prajurit yang mengambil gambar dan foto serta penerjemahnya juga terkena tuduhan.

Seorang pejabat Pentagon mengatakan komputer penjara telah pula disita oleh divisi investigasi kriminal (CID) militer untuk mencari foto dan bukti tambahan. Harian Washington Post pekan lalu menyebutkan semakin banyak bukti foto dan film yang muncul dari kasus itu. Jumlahnya seribu foto. Sebagian besar sudah dimasukkan ke cakram padat dan beredar secara terbatas di kalangan tentara. "Mereka bangga dengan apa yang dilakukan, padahal itu amat memalukan," kata Drayton.

Dalam wawancaranya dengan televisi Arab pekan lalu, Presiden AS George Bush telah menjatuhkan palu godam: "Tak ada ampun bagi mereka (para serdadu itu?Red.)."

I G.G. Maha Adi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

40 Napi LP Krobokan Ikut Mencoblos - 09 Jul 2008 | 10:49 WIB
Warga Padangpanjang Pilih Wali Kota - 09 Jul 2008 | 09:17 WIB
Pastika Cuma Mengantar Keluarga - 09 Jul 2008 | 09:05 WIB
Isu Teroris Diduga Karena Persaingan Bisnis Wisata - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Tujuh Anggota LPSK Diputuskan Lewat Voting - 09 Jul 2008 | 08:40 WIB
Buruh Khawatirkan Nasib Jam Lembur - 09 Jul 2008 | 08:24 WIB
Bupati Pasuruan Dilantik Pagi Ini - 09 Jul 2008 | 07:45 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data