Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXXIII/19 - 25 Juli 2004
   
Album

Pamoe Rahardjo, 79 tahun

KETUA Yayasan Pembela Tanah Air, Pamoe Rahardjo, meninggal karena serangan jantung, Selasa pekan lalu. Menurut Aji, salah seorang putranya, bekas ajudan Bung Karno itu sejak Jumat dua pekan lalu menjalani perawatan di klinik stroke Kuningan, Jakarta Selatan. Pamoe meninggalkan empat orang anak: dua putra dan dua putri; enam cucu, dan tiga cicit. Sang istri telah lebih dulu menghadap Khalik setahun lalu.

Lahir di Blitar, Jawa Timur, 22 Maret 1925, Pamoe Rahardjo adalah anak keempat dari keluarga mantri hutan Yasmin dan Amini. Ia mendapat pendidikan MULO di zaman Belanda dan sekolah guru lanjutan di zaman Jepang. Seperti kebanyakan pemuda yang gandrung dengan latihan perang semasa pendudukan Jepang, Pamoe kemudian mengikuti pendidikan perwira militer Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Ia lulus sebagai shodanco (letnan) pada 1945.

Sebagai ajudan Bung Karno selama periode 1946-1948, hidupnya tak jauh dari berbagai konflik di seputar pucuk kekuasaan. Ia berperan membatalkan kudeta 3 Juli 1946 yang dirancang pihak tentara dan beberapa politisi. Mereka ingin agar Presiden Sukarno mengubah kabinet.

Meski tidak lagi menjadi ajudan presiden semenjak Bung Karno dibuang ke Bangka pada 1948, Pamoe tetap masih aktif di dunia politik. Pada 1957, dialah yang menggalang para pemuda untuk mengambil alih sejumlah perusahaan Belanda yang dianggap telah mendanai pelbagai pemberontakawn di Tanah Air. Upaya nasionalisasi ini belakangan disesali karena aksi tersebut menjurus ke arah penjarahan besar-besaran.

Pamoe memang tidak terlibat langsung dalam peristiwa pemberontakan Peta yang dipimpin Supriyadi di Blitar, Februari 1945. Namun, untuk menyantuni keluarga bekas pejuang Peta, Pamoe menyibukkan diri sebagai Ketua Umum Yayasan Pembela Tanah Air (Yapeta). Yayasan itu didirikan pada 1981 untuk menghimpun eks pejuang Peta yang jumlahnya mencapai 5.500 orang.



"Kata orang, sih, dikeroyok empat pasangan saja (Mbak Mega) bisa lolos. Masa, sudah head to head enggak bisa lolos."
?Taufiq Kiemas, politisi kawakan PDI Perjuangan, kepada Tempo News Room saat peninjauan lokasi pembangunan proyek jalan tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang), Jawa Barat, Rabu lalu, soal prediksi pemilu presiden putaran kedua, yang akan digelar 20 September 2004.

"SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) itu seperti Inul. Meroketnya cepat, jatuhnya juga cepat."
?Permadi, anggota Fraksi PDIP, saat melayat di rumah duka mantan Kapolri Hoegeng di Kompleks Pesona Kahyangan, Depok, Rabu lalu, soal perolehan suara calon spresiden Susilo Bambang Yudhoyono yang melonjak pada pemilu presiden 5 Juli lalu.



TEMPO DOELOE

19 Juli 1943
Presiden Amerika Serikat (AS), Franklin Roosevelt, memerintahkan pengeboman terhadap Kota Roma untuk menggulingkan Benito Mussolini yang mendukung diktator Jerman, Hitler.

19 Juli 1991
Petinju kontroversial, Mike Tyson, memerkosa seorang kontestan Miss Black America di sebuah hotel di Indianapolis, Indiana, Amerika Serikat.

20 Juli 1969
Astronaut AS, Neil Armstrong, menjadi orang pertama yang berjalan di bulan. "Ini langkah kecil bagi seorang pria, tapi ini lompatan raksasa bagi manusia," kata Armstrong dalam siaran langsung dari tempat yang berjarak 362 ribu kilometer dari bumi itu.

22 Juli 1987
Pemimpin Soviet, Mikhail Gorbachev, akhirnya menerima perjanjian penghapusan rudal nuklir jarak menengah dengan Amerika Serikat.

23 Juli 1937
Drama Les Miserables karya sastrawan legendaris Prancis, Victor Hugo, untuk pertama kalinya disiarkan lewat radio. Drama radio ini diproduksi oleh Orson Welles.

25 Juli 1965
Bob Dylan, salah satu legenda musik AS, pertama kali menggunakan alat musik listrik. Waktu itu penggemar Dylan sangat kecewa.

26 Juli 1903
Federal Bureau of Investigation (FBI) lahir ketika Jaksa Agung AS, Charles Bonaparte, menunjuk sekelompok orang untuk menyelidiki seorang pejabat top di Departemen Kehakiman AS.

26 Juli 1878
Wyatt Earp, seorang sheriff di Kota Dodge, AS, terluka dalam baku tembak dengan kawanan cowboy jahat. Kisah Earp ini kemudian diangkat ke layar perak?Kevin Costner menjadi pemeran Wyatt Earp?dan menjadi film wild west yang terkenal.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data